"Guru, apakah aku sekarang sudah layak menjadi pendekar pedang sejati?"
Suara itu bergema diantara ruang tamu dojo agung Hirogishi yang meja kayunya begitu besar. Mampu digunakan sebagai rapat perang sementara. Dialasi dengan tatami yang terbuat dari rumput Igusa. Dipenuhi wangi dupa yang dibakar di sudut-sudut ruangan. Ditempias lampu lentera sederhana yang dipasang setiap jarak satu meter di dinding ruangan.
Malam begitu gelap diluar jendela yang terbuka. Suara kepakan sayap jangkrik terdengar pelan membentuk melodi.
Menghela nafas sambil menyeruput teh hijaunya yang masih panas, seorang pria yang cukup berumur berdehem sekali demi mendengar pertanyaan konyol dari muridnya yang baru diterima satu hari di dojo itu. Melayangkan tatapan tajam. Namun si murid yang memang tidak ada rasa malu malah menyungging senyumnya lebih lebar. Meminta jawaban dari sang guru yang katanya menguasai seratus aliran beladiri di seluruh dunia sekaligus. Ingin menilai apakah dirinya sudah berkembang dengan baik selama seharian penuh itu ataukah masih belum sama sekali.
Pria yang nampaknya tidak suka berbicara panjang lebar itu hanya memejamkan matanya sekali. Berujar.
"Jika kau mampu menghindari seranganku sekali saja, kuakui kau sebagai pendekar pedang sejati, Momoko."
Lelaki yang dipanggil Momoko terguncang bahunya karena senang mendengar hal itu.
"Wah!! Aku mau!! Ayo kita lakukan sekarang--"
PLUK
Baru saja selesai meletakkan cangkir teh hijaunya, lelaki yang dipanggil guru tiba-tiba menghilang diantara cahaya lentera yang redup, dalam sekedipan mata muncul di belakang muridnya yang bernama Momoko, memukul suatu titik syaraf penting yang ada di leher dengan tekanan yang sangat presisi bahkan sebelum ia sadar lelaki itu baru saja menghilang, kemudian berpindah lagi ke tempatnya semula seolah tak pernah terjadi apa-apa. Menyeruput teh yang masih panas dan nikmat. Sementara muridnya yang bodoh tergeletak begitu saja di hadapannya. Tak mampu menggerakan barang seujung jari. Membuka mulutnya lebar-lebar. Terpukau.
"WOOOW!! HEBAT SEKALI!! BAGAIMANA GURU BISA MELAKUKANNYA?!! GURU INI BENAR-BENAR TIDAK PUNYA SIHIR, BUKAN?!! JANGAN BILANG TADI GURU BARU SAJA MENGHILANG?!!"
Heboh sendiri dengan suara yang keras. Berseru-seru seolah baru saja menyaksikan keajaiban dunia nomor lima. Sementara sang guru tidak ingin banyak komentar membicarakan kekuatannya sendiri, berpesan dengan nuansa yang sangat filosofis dan penuh makna. Berujar dingin.
"Katak yang melihat burung di langit akan mencoba terbang dengan lompatan kakinya."
Mokomo jelas tidak mengerti arti dibalik pepatah kuno tersebut.
Sang guru menjelaskan.
"Saat dirimu tidak mungkin melakukan sesuatu melalui satu cara, bukan berarti hal itu juga tidak mungkin dilakukan dengan cara lainnya."
"Itu artinya, alih-alih berpindah tempat atau memanipulasi ruangan, jika memang tidak memiliki kekuatan sihir, kita hanya perlu bergerak secepat mungkin sehingga kita benar-benar menghilang dari pandangan musuh. Gunakan cara lain. Itulah yang kumaksud."
Mokomo yang sudah hilang efek lumpuhnya langsung bangkit, nyaris mengebrak meja sang guru yang sedang bersantai pada malam hari setelah mengajar seharian. Membulatkan bola mata besar-besar. Penuh binar dan kilauan antusias.
"Heee~?!! Berarti, jika aku melakukan hal yang sama seperti guru, berlatih dengan mencari jalan lain demi tujuan yang sama, aku juga bisa melakukan hal yang keren tadi walaupun tidak memiliki sihir?!!!"