"Aku adalah penanggung-jawab kereta dagang perusahaan Marry kali ini. Namaku Orion Marry. Salam kenal, ya?"
Satu jam berlalu dalam kelenggangan yang cukup tidak nyaman, lelaki berambut cokelat tersisir rapi yang berhadapan denganku memperkenalkan diri. Mengembangkan senyumannya.
Kereta kuda meluncur jauh meninggalkan gerbang ibukota yang temboknya tebal dan tinggi. Melesat diantara padang rumput hijau luas sejauh mata memandang. Tiada pohon. Tiada orang. Dengan wangi bunga yang tercium, dibawa angin menjelang malam.
Aku mengangguk kecil. Ikut memperkenalkan diriku.
"Takagi Amuro."
Menjabat tangan lelaki berambut cokelat yang terulur.
"Aku direkomendasikan oleh Kepala Perserikatan untuk mengawal kereta dagang ini hingga sampai tujuannya di ibukota kerajaan Ragnar, Kurogane."
Orion Marry memiringkan wajahnya.
"He... Jadi kau yang katanya memiliki kekuatan legendaris Peniru itu? Sungguh sulit dipercaya... Boleh aku melihatnya?"
Ia pun menjadi penasaran. Meminta kepadaku dengan halus.
Aku tidak keberatan.
"Boleh sih..."
"Kalau begitu, coba tiru sihirku ini...!"
Mengacungkan jari telunjuknya yang dibungkus sarung tangan putih, lelaki berambut cokelat tersisir rapi mengalirkan energi sihir perlahan. Membentuk aktivasi sihir kecil-kecilan di ujung jemari. Memercikan gemeletuk kuning minimalis disana.
Sihir Petir: Sengatan Kecil
BZZT
Lingkaran bersimbol magis bersinar terang, sebuah petir berukuran minimalis muncul dalam kilat kuning untuk menyambar satu titik sasaran di kursi penumpang kosong yang ada di sebelahku.
Tidak sampai membakar. Hanya menggoresnya hingga tampak lebih rapuh.
Aku terdiam melihat hal itu.
Sihir Petir, ya?
Aku baru lihat.
"Umm... Oke."
Mengangkat telunjuk salah satu tangan.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Petir: Sengatan Kecil
BZZT
Melakukan hal serupa seperti tadi, aku melepaskan kilat ukuran kecil ke kursi kosong yang ada di sebelah Orion Marry. Kali ini petir itu bahkan tidak menciptakan goresan sama sekali. Tapi lebih dari cukup untuk membuat lelaki remaja umur sekitar delapan belas tahun terkagum-kagum. Berbinar kedua matanya melihatku.
"Wah, keren sekali!! Sihirnya sama persis dengan yang kumiliki!"
Aku tersenyum kecut.
"Amuro-kun!! Bergabunglah dengan perusahaan dagang Marry sebagai pengawal tetap kami!! Kami akan menjamin dirimu dengan bayaran yang sangat tinggi!!" Orion Marry berseru. Mendekatkan wajahnya kepadaku.
Mendengar itu aku menghela nafas. Membuang pandangan mata ke arah lain.
Mengeluh dalam hati.
Tadi perserikatan petualang. Sekarang Perusahaan dagang milik kerajaan.
Aku menggeleng sopan.
"Maafkan aku, Orion-san. Tapi... aku tidak bisa."
Orion Marry merosot bahunya mengetahui jawabanku demikian.
Namun ia tidak langsung menyerah.
"Seratus koin emas perbulan!!" Ia berseru.
Aku tertegun.
"Itulah bayaranmu jika bersedia menjadi pengawal pribadi keluargaku secara permanen, Amuro-kun!! Bagaimana?! Kau akan bergabung, bukan?!"
Sambil menyungging senyum, lagi-lagi aku menolak.
"Um... Maaf. Bukannya aku tidak menghormatimu atau bayarannya kurang. Namun, aku masih memiliki beberapa hal yang harus kulakukan terlebih dahulu, Orion-san... Jadi, kurasa untuk sementara ini... aku tidak bisa membantumu dahulu..."
Kali ini antusias Orion Marry langsung pupus. Digantikan wajah murung yang penuh akan kesedihan. Menundukkan kepalanya pelan.
"Ja--jadi begitu, ya..."
"...Mustahil..."
Kali ini aku yang bertanya.
"Apakah ada masalah yang menimpa keluargamu?"
Sesuai dugaan, lelaki berambut cokelat mengangguk lemah. Mengaku,
"Sebenarnya, keluarga kami diancam oleh seseorang akhir-akhir ini melalui sebuah surat."
Ia mulai bercerita.
Aku membetulkan posisi duduk. Menyimak.
"Pengirimnya tidak menyertakan nama. Akan tetapi, dalam tulisannya, ia meminta keluarga Marry untuk mengundurkan diri sebagai perusahaan dagang yang berada dibawah keluarga kerajaan. Memberikan hak tersebut kepada keluarga lain yang dianggap lebih bijak dan mampu. Kembali menjadi perusahaan dagang yang lebih lepas dan tidak terikat."
Aku mengernyitkan dahi.
"Itu penghinaan."
Orion Marry mengangguk.
"Benar."
"Tentu saja kami tidak semudah itu melepaskan hak dagang khusus yang telah diberikan keluarga kerajaan kepada kami. Akhirnya, surat itu kami anggap sebagai lelucon belaka."
"Awalnya memang tidak ada yang aneh. Namun, beberapa hari yang lalu, adik perempuanku yang bungsu, Olivia Marry, tiba-tiba diculik saat berjalan-jalan ke pasar di ibukota. Kata para pengawal yang menyertai, ada seorang penyihir misterius bertudung ungu yang mendadak muncul dari sebuah sudut gang sempit yang dilalui Olivia, menerkamnya dengan cepat layaknya gerakan angin, membekap gadis itu dengan suatu kain hingga pingsan, lantas membawanya kabur melalui kecepatan diluar nalar."
Aku menyipitkan kedua mata.
"Oh, mereka menggunakan kekerasan."
Lelaki berambut cokelat kini pucat wajahnya. Meneruskan.
"Ya. Hal itu tentu membuat kami sekeluarga cemas. Bingung bagaimana caranya menyelamatkan Olivia yang baru saja diculik. Pihak penyihir kerajaan sudah kami hubungi namun mereka hanya menggelengkan kepala. Serikat petualang yang biasanya bisa menyelamatkan orang yang diculik juga tidak ada respon."