Seminggu lebih satu hari, kami akhirnya tiba di perbatasan wilayah kerajaan Ragnar sebelah selatan yang cenderung hangat dengan bentangan alam hijau yang masih asri dan luas. Tembok benteng kota terdekat yang menjadi tempat transit rombongan mulai terlihat dari kejauhan. Malamnya kami menginap dengan lebih nyaman di dalam gedung tingkat tiga yang beratap merah marun. Untuk kemudian berangkat lagi di esok paginya. Meluncur deras ke arah ibukota Ragnar yang katanya tak begitu jauh dari sini. Hanya membawa diriku, Orion Marry, dan seorang kusir bayaran yang uangnya telah diberikan di muka.
Barang-barang dagang dan para pegawai?
Mereka ditinggalkan di kota sebelumnya untuk memutar modal perusahaan dagang Marry yang ternyata juga sudah dikenal disini. Memiliki toko sendiri dengan seorang pengelola yang tampak dekat dengan Orion-san. Kemudian kami berdua berpamitan dengan mereka setelah semuanya aman. Tak lupa aku diberikan sejumlah hadiah karena berhasil menghalau para bandit sekaligus menyembuhkan penumpang yang terkena anak panah. Tapi aku menolak, mengembalikan barang tersebut dengan senyuman kecut. Tak ingin mengambil keuntungan dibalik tindakan manusiawiku.
Hanya berdua bersama lelaki berambut cokelat, akhirnya aku sadar bahwa tujuan utama bangsawan pedagang di hadapanku ini memang bukan untuk berdagang. Namun semata-mata ingin menyelamatkan adiknya--meski aku tidak tahu cara apa yang hendak dilakukan oleh lelaki tersebut.
Karena pikiran ini selalu menggangguku: mengapa bangsawan muda sepertinya harus repot-repot menjual barang dagangan padahal pegawainya sendiri ada?
Akhirnya aku berkesimpulan bahwa ia memang berencana membebaskan adiknya, Olivia Marry yang katanya disekap di Balairung Menara Langit, Tenkakuden, yang berada tepat di pusat ibukota kerajaan Ragnar, tujuan akhir kereta dagang yang melaju lebih cepat ini. Tidak lagi terhambat dengan barang dagangan yang berat dan jumlah penumpang yang banyak. Menggunakan kecepatan penuh sebelum hal yang dikhawatirkan terjadi.
"Anu... Orion-san. Aku hanya ingin memastikan... Apakah kau benar-benar akan menyelematkan adikmu yang berada di istana kerajaan?--Maksudku, itu bisa menimbulkan konflik dan permusuhan antar kerajaan besar, bukan? Apalagi kau tidak memiliki kekuatan yang memadai untuk itu sepanjang pengamatanku." Ditengah perjalanan yang sebentar lagi sampai, aku menyempatkan diri bertanya sebelum nantinya berpisah dengan lelaki berambut cokelat di hadapanku. Melesat menuju arah utara tempat dimana Pegunungan Narkhaz berada, mengembalikan seratus pasukan bayangan kepada mereka supaya bisa dimakamkan dengan layak sekaligus menunggu kedatangan anggota Malaikat Hitam yang akan menyerang sana berdasarkan tebakan Master Azaroth.
Orion Marry tampak tenang mendapat pertanyaan seperti itu. Kedua alisnya berkedut.
"Jangan meremehkan kekuatan pedagang hebat sepertiku! Tentu saja aku sudah memiliki rencana matang untuk menyelamatkan adikku tanpa menimbulkan masalah pelik yang mengancam kedamaian kedua belah pihak kerajaan! Meski tidak bisa bertarung sehebat dirimu, tapi aku ini mahir di bidang diplomasi dan penawaran, lho?! Lihat saja, aku pasti berhasil!"
Aku tidak ingin menyahut lagi jika memang keteguhan sang kakak Olivia sudah demikian kuat. Tidak bertanya lebih jauh. Beralih memikirkan diriku sendiri yang akan pergi ke arah utara. Memikirkan tumpangan, peta perjalanan, perbekalan yang akan kugunakan untuk sampai kesana. Karena, sebagaimana yang diberitakan oleh Orion Marry, wilayah utara kerajaan Ragnar tidak boleh dikunjungi sembarangan apalagi oleh orang asing. Harus ada izin tertulis dari para pejabat yang mungkin akan menarik pajak dariku sekian koin perak atau emas untuk mendapat tanda tangannya. Baru boleh pergi kesana tanpa harus terhalang birokrasi yang rumit.
Setengah hari berlalu dari kota Forth yang baru saja kami tinggalkan di belakang, kereta kuda yang gesit akhirnya sampai di gerbang masuk ibukota Ragnar, Kurogane, yang terkenal sebagai penghasil logam terbaik di dunia.
Lalu Orion berkata kepadaku dengan raut wajah yang sedih.
"Setelah ini... Kita akan berpisah, ya...?"
Lantas tersenyum kecut. Sementara kereta kuda dipersilahkan masuk oleh dua penjaga gerbang yang mengenakan zirah.
Aku terdiam mendengar kalimat tersebut. Menatap lamat-lamat Orion Marry di depan.
"Baik, karena aku tidak suka memaksa siapapun, aku tidak akan mencegahmu pergi, Amuro-kun. Katamu, kau ingin membantu kerajaan menumpas penjahat Malaikat Hitam yang berbahaya itu, kan? Menurutku itu tujuan yang mulia sekali, kawan."
Suara roda kereta yang bergetar ketika menghantam batu di tengah jalan terdengar samar di dalam gerbong kayu yang sudah sepi, hanya menyisakan dua orang yang saling menunggu dalam sepi. Cahaya cerah menyemburat di langit. Ribuan penduduk Kurogane tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Menciptakan suasana ramai yang terdengar di telinga. Dengan bangunan-bangunan terbuat dari hasil tambang tertata rapi di kedua sisi jalan.
Aku akhirnya menggeleng setelah memalingkan wajahku sebentar, berkata.
"Tidak."
"Aku tidak akan pergi ke wilayah utara."
Suasana terasa hening begitu aku mengucapkan kalimat tersebut.
Membuat si remaja pedagang tertegun. Mematung tanpa suara di tempat duduknya.
Memandangku dengan ragu-ragu, memastikan apakah aku sedang bercanda atau tidak.
Tapi aku menegaskan.
"Tenanglah, Orion-san. Aku akan membantumu menyelamatkan Olivia dari istana terkutuk itu."
Kedua mata Orion Marry menetes.
Mulutnya kehabisan kata-kata untuk membalasku.
"Aku tidak mungkin membiarkan..."
"... Orang yang berada di hadapanku mengalami kesulitan begitu saja, bukan?"
Orion Marry memanggil dengan bibir yang bergetar.
"...A--Amuro-kun...?"