Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #38

Gadis Tanpa Kornea Mata

"Namaku Akatsuki Rikka, salam kenal, ya~? Ga-dis ma-nis."

Suara yang riang menyebar diantara halaman rumah tradisional yang penuh oleh batu nisan. Berpadu dengan terik musim panas yang hangat di wajah. Sementara cahaya dari langit menerpa paras yang indah. Memantulkan kilat dari sepasang mata bulat yang polos. Menampakkan kehalusan rambut biru gelap yang dibiarkan tergerai di area dada.

Wanita yang tadinya melamun menatap batu nisan itu sedang duduk di teras rumah yang dibuat dari kayu pohon Larch kokoh. Mengenakan pakaian kimono putih yang cantik dan bercorak bunga sakura. Pinggangnya yang ramping dililit Obi merah yang dihias pita pink di bagian belakang. Bergoyang ketika tubuhnya bergerak. Sementara Rok Hakama hitam yang digunakannya terhampar di lantai kayu yang licin dan mengkilat. 

Ia yang beberapa saat lalu sendirian menjaga kuil sekarang menatap sesosok gadis yang muncul secara mendadak di belakangnya tanpa suara dan hawa kehadiran. Mengenakan kimono merah darah dengan ikat pinggang berlonceng emas, berbunyi ketika tubuhnya bergerak. Poni gadis misterius itu dipotong lurus horizontal dengan sangat rapi, menyembunyikan paras indah yang berkilauan dibawah terpaan sinar matahari. 

Gadis berkimono merah yang ternyata tidak memiliki kornea mata itu tersenyum manis.

"Aku Mei Ling. Tetangga jauh kalian yang kebetulan mampir kemari."

Gadis bernama Rikka terkejut mendengar hal itu. Segera berdiri sambil mengangkat kain kimononya yang terhampar. Agak panik.

"Te--Tetangga jauh?! Kalau begitu akan kuambilkan minuman dahulu!"

Wanita yang mengaku bernama Mei Ling menolak.

"Ah, tidak perlu begitu, nona baik~ Jangan merepotkan dirimu sendiri..."

Tetapi Akatsuki Rikka nampaknya tetap bersikeras.

"Jangan begitu!"

"Tidak mungkin aku membiarkan tamu berkunjung tanpa memberikan apa-apa, bukan?"

"Tapi aku tidak butuh minuman, Rikka-chan."

Suasana seketika hening ketika Mei Ling mengucapkan kalimat tersebut.

Sapuan angin terdengar berdesir diantara halaman kuil Akatsuki yang agak berdebu.

Rikka mengernyitkan dahi.

"Ti... Tidak butuh minuman?"

Gadis misterius yang mengaku tetangga itu mengangguk.

"Ya. Aku hanya ingin menemanimu disini setelah sekian lama mengawasi dari jauh."

Gadis penjaga kuil refleks melangkah mundur demi mendengar hal itu. Bergumam patah-patah.

"Me...--Mengawasiku... dari jauh? Ja--Jangan bilang kau ini mata-mata yang dikirim untuk mengawasi keluarga kami?!"

Mei Ling melambaikan tangan.

"Ah, tidak mungkin begitu, kan?" 

"Jika memang ingin mencelakai kalian... seharusnya sudah kulakukan sejak dahulu... benar?"

"Tunggu." Gadis kimono putih berbunga sakura meminta.

Sorot matanya curiga.

"Sejak dari dahulu..."

"... Memangnya umurmu itu berapa?"

Wajah Mei Ling seketika panik. Sebuah peluh dingin mengalir di pelipisnya yang licin.

Tapi ia berkilah,

"A--Astaga, Rikka-chan~ Menanyakan umur seorang gadis di dunia manusia adalah hal yang sangat terlarang, bukan?"

Akatsuki Rikka malah semakin curiga.

"... Di dunia manusia?"

Wanita yang identitasnya masih tidak jelas akhirnya bangkit secepat kilat, merangkul gadis keturunan Akatsuki yang hidupnya sehari-hari hanya mengurus pemakaman dengan senyum lebar yang dipaksakan. Mengalihkan pembicaraan sambil menyeret kawannya ke pintu masuk rumah yang masih menggunakan cara kuno: menggeser.

Berkata,

"Ah~ Rikka-chan... Sepertinya aku lapar, nih...~ Ayo kita masak sesuatu di dapur bersama?"

"Tu--Tunggu dulu, kenapa tamu yang baru datang beberapa menit lalu sekarang berani menyeret masuk tuan rumah yang dikunjunginya untuk memasak?!"

Lihat selengkapnya