"Apakah anda yakin dengan rencana anda, Tuan? Maksud saya... Tuan bisa memicu perang antar kerajaan, bukan?"
Suara yang ragu bergema diantara ruangan yang gelap dan sunyi. Agak bergetar. Menimbulkan kesan sedang ketakutan.
Lantai yang berdebu langsung memberikan informasi bahwa ruang itu tidak terawat. Dengan tumpukan kotak kayu berisi perkakas. Lampu minyak yang terpasang di beberapa sudut. Lemari-lemari berisi senjata. Ia sangat pengap tanpa ventilasi yang membuatnya tidak nyaman untuk ditinggali si gadis berambut cokelat sebahu yang kedua tangannya diborgol logam anti sihir. Digantung melalui tambang sehingga tubuhnya mengambang di udara. Sementara mulut kecilnya disesaki gumpalan kapas. Tidak memperbolehkannya berteriak. Menangis terus-terusan dalam rintihan pelan.
Sesosok pria yang sedang memandangi dingin gadis tersebut dan dipanggil tuan oleh prajurit berzirah tebal menyeringai tipis. Terkekeh.
"Tidak, tidak... Bolda. Kau terlalu mengkhawatirkan nasib kerajaan ini begitu jauh. Voltaire yang katanya memiliki banyak penyihir hebat itu sedang kewalahan melawan kelompok kriminal yang sangat berbahaya di wilayah mereka."
"Mana mungkin mereka mau berperang dengan kerajaan lain hanya gara-gara salah seorang bangsawannya diculik."
Lelaki yang dipanggil Bolda tetap saja ragu. Membantah kembali.
"Ta--Tapi, tetap saja keluarga gadis ini tidak akan tinggal diam jika kita ketahuan menculiknya, bukan? Bangsawan Voltaire menurut saya bukanlah lawan yang bisa kita anggap remeh--"
"Kau ini bodoh, ya?"
Pria tinggi yang dipanggil tuan menoleh sedikit. Wajahnya agak kesal sedikit mengetahui bawahannya meragukan rencana lelaki tersebut. Membuat prajurit berbaju zirah merinding.
"Aku tidak ketahuan oleh mereka, tahu."
"Dari awal..."
"... Akulah yang sengaja memancing mereka kemari."
***
Begitu membuka mata, hal pertama yang kusadari adalah kedua tanganku terkunci oleh borgol yang begitu kuat dan kokoh. Kaki diikat oleh rantai yang melilit pilar putih dengan garis-garis emas. Sementara lampu gantung raksasa di tengah ruangan tamu kerajaan bersinar indah. Memancarkan cahaya kuning mewah yang memantul diantara kaca dan keramik di lantai. Menempias wajah-wajah prajurit yang siaga dengan senjata tajam dan tongkat sihir teracung. Sementara tiga sosok pembunuh bayaran yang memakai tudung menatapku datar. Tidak mengatakan sepatah katapun padaku. Berdiri di samping pria muda yang tubuhnya diselimuti seragam penuh permata dan dikelilingi pengawal berseragam merah khusus.
Menoleh ke samping, kulihat Orion Marry yang mengalami kondisi serupa masih tertidur di pilar yang sama. Terletak tak begitu jauh. Sementara wajahnya memar di beberapa lokasi. Membuat amarah dalam diriku menyala. Berusaha meminta penjelasan kepada tiga sosok bertudung hitam yang tadinya berjalan bersamaku.
"Kirisaki-san! Anna-san! Tukang tidur! Apa yang kalian lakukan?!!"
Orang-orang yang kupanggil sama sekali tidak menggubris. Memalingkan wajahnya begitu saja ketika tatapannya bertemu denganku.
Lelaki muda berambut pirang yang jubah kebesarannya benar-benar terlalu besar tertawa lebar saat sorot mataku begitu putus asa, kebingungan melihat apa yang sedang terjadi. Ia menahan sakit yang timbul dari perut. Para pengawalnya ikut-ikutan tertawa.
Membuatku semakin frustasi. Ingin berontak menggunakan sihir namun hasilnya nihil.
Kekuatanku sama sekali tidak bisa kulepaskan.