Orion Marry yang seharusnya masih tertidur dibawah pengaruh sihir Si Tukang Ngantuk tiba-tiba saja tertawa saat perdana menteri tindakannya semakin semena-mena. Membuat seisi ruang penerimaan tamu kerajaan diam, menoleh kepadanya.
Sepatu yang dikenakan si pedagang tersebut menghentak-hentak keramik lantai saking lucu apa yang ia rasakan. Mengusap air mata yang sedikit mengalir di sudut-sudut wajah sambil kedua tangan masih terborgol. Melepaskan seringai balasan kepada pria tinggi berambut abu-abu yang sedang mengernyitkan dahi kepadanya.
"Kalian pikir dengan mengikat kami berdua di pilar ini... kalian sudah menang, hah?"
Seorang prajurit yang berada di dekatnya langsung hendak bertindak melakukan kekerasan sekali lagi, membungkam mulut lancang si pedagang yang baru saja bangun. Tapi perdana menteri di depan mengangkat salah satu tangannya, menyuruhnya jangan ikut campur, diam di tempat.
Ia membalas.
"Seperti yang kau lihat, semua anggota penyusupan kalian sudah berada di dalam genggaman kami. Apa lagi yang hendak kau harapkan, pedagang licik dari Voltaire, Orion Marry? Kau tidak punya panggung besar disini, tahu. Tugasmu nanti hanyalah memastikan barang tambang kerajaan kami dapat diterima dengan harga yang mahal disana. Kau masih ingin adikmu hidup, bukan?"
Tapi Orion Marry santai sekali mengangkat kedua bahunya. Mengejek.
"Kau ini bodoh sekali dalam masalah hitung-hitungan, ya? Perdana menteri."
Kali ini lelaki pengguna sihir hipnotis benar-benar tersulut emosinya, melangkah pelan menuju kawanku yang masih terikat di pilar tebal istana dengan tatapan tajam. Mengangkat satu jemarinya untuk diletakkan di dahi bangsawan Marry yang babak belur. Mengancam.
"Jadi, itu kata-kata terakhirmu?"
Orion-san tidak takut sama sekali. Menatap balik dengan mantap.
"Yah... Mungkin kau tidak tahu, ya... Tapi jumlah kami sebenarnya bukan lima, lho?"
Kedua bola mata hitamnya menyipit.
"... Kau tidak akan salah..."
"... Menghitung jumlah kami, bukan?"
PRAANG!!
Saat waktu yang ditentukan tiba, secara mendadak lampu gantung yang berada di tengah ruangan jatuh begitu saja karena sebuah anak panah hitam melesat, memotong rantainya dengan presisi. Menghantam sejumlah prajurit yang tak sengaja berada di bawahnya, memenuhi tubuh mereka dengan serpihan kaca yang tajam, membuka luka berdarah yang langsung membanjiri keramik krem lantai istana.
Belum sempat benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi, puluhan lilin, lentera, dan obor yang berada di ruangan juga tiba-tiba padam seolah ditelan kegelapan. Membuat suasana menjadi hitam layaknya tumpahan tinta. Mengaktifkan sistem refleks para pengawal berseragam merah yang langsung pasang posisi melingkar di sekitar Sanz Ragnar yang merupakan raja. Bersiap menghadapi kemungkinan serangan apapun.
Si pedagang yang menyadari perdana menteri sedang kebingungan langsung bertindak mengambil kesempatan emas, melepas borgol anti-sihir yang entah mengapa sudah tidak terkunci lagi. Balas menangkap pinggang kurus si pria tinggi yang tadi mengancam dirinya.
Menggunakan sihir petir. Kali ini dengan tegangan yang sangat tinggi.
"Jangan alihkan pandanganmu saat berhadapan dengan musuh, pria jelek!!"
Perdana menteri yang belum memperoleh kesadaran sepenuhnya menelan ludah dalam-dalam demi mengetahui Orion Marry dengan mudahnya sudah lepas dari borgol anti sihir. Keringat dinginnya mengalir, berusaha melepas energi sihir dalam jumlah besar untuk mengendalikan lelaki di depannya--namun sepertinya sudah terlambat.
Sihir Petir: Tegangan Tinggi!!
BZZZZTT!!!
"AAARGGHH!!"
Tidak sempat merespon gerakan Orion-san yang terlalu cepat dan lincah, perdana menteri yang manipulatif itu berteriak kesakitan dengan tubuh bercahaya kuning dan rambut abu-abu yang menjeprak. Menciptakan pencahayaan singkat yang langsung menampilkan diriku terbebas tanpa borgol, mengangkat kedua tangan. Sementara tiga anggota Dewa Kematian yang tadinya membelot kini berbalik arah. Menodongkan senjata pada pengawal kerajaan. Melumpuhkan beberapa diantaranya yang berada paling dekat. Menyeringai kepada sang raja dan pasukannya yang sedang kebingungan.
Membuat mereka menoleh ke sekitar. Mencari tahu apa yang sedang terjadi. Lalu terbelalak.
Pasukan berzirah hitam.
Jumlahnya hampir seratus. Mengepung dari segala arah.
Dengan senjata-senjata di tangan. Mereka berjaga dari segala sudut, mencegah siapapun kabur dari ruangan tamu kerajaan yang kembali gelap. Matanya merah terang. Hingga para pengawal mundur teratur olehnya. Bergerak menuju tempat sang raja berada.
Aku yang melepas sisa-sisa tali di kaki berjalan santai menuju Orion Marry. Sementara perdana menteri yang sihirnya menakutkan itu sudah tumbang bahkan sebelum memberi perlawanan berarti. Membuat tugas ini menjadi lebih mudah.
Lelaki di sebelahku bertanya retorik kepada raja dan para pengawalnya yang masih berdiri.
"Kalian pikir mitra keluarga bangsawan pedagang Marry bisa kalian beli begitu saja dengan tawaran sampah kalian, hah?"
Lalu ia tertawa.
Sementara tiga anggota kelompok Dewa Kematian melipat kedua lengan di dada.
Sanz Ragnar pucat pasi wajahnya.
"Kalau ingin membuat mitra-mitraku berkhianat..."
Pedagang licik mengangkat bahunya.
"... Setidaknya pastikan kalian mampu membayar sepuluh kali lipat dari tawaranku, ya~"
"Ah, aku lupa."
Orion-san menutupi mulut dengan kedua tangan.
Sang raja beserta para pengawalnya menatap geram.
"Kalian yang miskin mana mampu membayar sepuluh kali lipat dari tawaranku, benar, bukan?”
Sanz Ragnar geram mendengar kata-kata itu. Menarik kerah salah satu prajurit yang ada di dekatnya. Membentak keras-keras.