Benteng itu masih berdiri tegak disana meski bendera yang berkibar diatasnya sudah disobek. Digantikan bendera lain yang memiliki logo malaikat bersabit dalam warna putih dan latar belakang hitam.
Malam masih gelap dan dingin. Namun, diantara angin yang berhembus, nampaknya seorang gadis berambut ungu kehitaman masih asyik memandangi rembulan dari ujung menara yang menghadap keluar ibukota kerajaan. Mengedipkan matanya sesekali. Ia dipangku oleh lelaki berambut perak yang asyik mengelus-elus kepalanya layaknya mainan. Sementara ribuan prajurit hitam yang telah diambil kesadarannya berbaris rapi di sepanjang tembok. Menjaga wilayah dari musuh yang bisa datang sewaktu-waktu. Mencegah jatuhnya wilayah rampasan kepada pemilik asalnya kembali.
Sejenak tidak ada yang salah pada malam itu.
Hingga kemudian sudut mata si gadis berambut ungu kehitaman menangkap suatu pergerakan diantara kabut yang terbentuk di malam. Pelan namun pasti. Membuatnya dengan anggun turun dari pangkuan lelaki berambut perak. Memastikan dengan tatapan yang menyipit. Lalu menoleh kepada rekannya sambil mengangguk. Berkata lirih.
"Mereka datang."
Pria yang sepertinya selalu memasang senyuman di wajah menyahut.
"Sesuai yang diharapkan, ya~?"
Lalu mengeraskan suaranya.
"Woi, semuanya~ Kita kedatangan tamu, nih~!!"
ZAP ZAP ZAP ZAP ZAP!
Entah darimana asal dan bagaimana caranya, hanya dengan satu panggilan, lelaki yang tak lain adalah Si Nomor Delapan Utsusemi Ringo berhasil memanggil delapan rekannya yang lain untuk datang ke benteng. Muncul begitu saja bagai diteleportasi dari alam lain. Berkumpul dengan jas hitam seragam mereka di satu tempat untuk menyaksikan siapa yang datang.
Kemudian terdiam.
Ujung pakaian mereka yang gelap pekat dikibar oleh angin.
"Orang-orang dari akademi."
Pria berambut hitam yang terlihat paling tua berujar. Suaranya serak dan penuh wibawa. Dari aura hitam yang menyeruak meski belum melakukan apa-apa, semua orang akan tahu bahwa lelaki ini berbahaya.
Remaja yang mengenakan topi dan memakan lolipop ikut menyahut.
"Ah, berarti yang datang cuma salah satu 'kartu-as kerajaan', ya?"
Anggota inti Nomor Enam, Akiyoshi Jade mengingatkan.
"Jangan lengah, Bocah Nomor Sepuluh. Maju sembarangan dan kau akan mati sebelum menggunakan sihir konyolmu."
Yang dipanggil bocah langsung naik pitam.
"A--Aku tahu, kok!! Mereka memang kuat, sih... Tapi kau tidak perlu memanggilku bocah, bukan?! Lihat, si Enma itu juga masih muda--bahkan lebih muda dariku!! Seharusnya dia yang kau panggil bocah disini, Jade-san!! Bukan aku!!"
Utsusemi Ringo ikut-ikutan. Memeluk tubuh kecil Kageha Enma dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu kiri.
"Tidak boleh, Banda-kyun...~ Enma yang manis ini sudah memiliki julukan 'si kecil' dan 'si mungil' dariku~ Maaf ya~!"
"AAARRGGHH!!!"
Lelaki remaja bernama Banda menjambak-jambak rambutnya sendiri yang cokelat ditutupi topi. Menggerutu karena kalah imut dari si kecil Enma yang memang memiliki perawakan persis seperti boneka diatas kasur yang empuk. Selalu diam dan patuh jika dimintai apa saja. Menjadi sasaran empuk bagi si Utsusemi yang selalu gampang bosan dan haus pelampiasan.
"Orang-orang dari akademi..."
"... Berarti Azaroth-niisama juga ikut?"
Seorang pria gagah berambut hitam agak beruban yang kedua matanya putih berkilau bergumam pelan. Menyita perhatian semua orang yang hadir di puncak menara benteng ibukota kerajaan, Optima. Membawa satu bilah pedang putih yang tersampir di pinggang kiri. Melayangkan tatapan sejuta makna kepada bayangan rombongan yang berjalan mendekat. Agak gemetar.
Si Nomor Delapan langsung mencoba mencairkan suasana.
"Wah~! Selamat ya, Zephhyier! Akhirnya kau bisa reuni dengan kakakmu lagi!"
Lelaki bernama Zephhyier tidak terlalu merespon ucapan barusan. Pikirannya berkecamuk. Kulitnya untuk beberapa detik merinding ketakutan. Wajahnya tampak seperti menggigil. Akan tetapi, demi mendapati punggungnya ditepuk oleh si lelaki tua berambut hitam yang mungkin adalah pemimpin kelompok, pria yang masih memiliki hubungan darah dengan pusat komando militer Voltaire itu kembali meneguhkan hatinya. Menatap lebih mantap. Menggenggam erat liontin hatinya di dada.
"Tegarlah, Zephhyier. Ini adalah kesempatan terbaik untuk membalaskan kematian kekasihmu. Habisi nyawa jenderal yang tak berperasaan itu secepatnya dan banggakan raja kita."
Dari belakang, si pria berambut hitam yang auranya terasa paling kuat berbisik. Menghasut orang bernama Zephhyier dengan kata-kata menyulut emosi.
Lelaki yang membawa pedang panjang di pinggang kiri mengangguk patah-patah. Berkata sementara bola mata putihnya yang bagai kaca mengalirkan air mata.
"Baiklah, Obbeus-san."
Kemudian air matanya tumpah.
"Demi Margarett, kekasihku yang dahulu dibunuh oleh Azaroth, aku berjanji akan membawa pulang kepala jenderal besar Voltaire itu kemari dengan tanganku sendiri."
Banda yang menyaksikan perubahan emosi rekannya tersebut langsung terpukau.
"Wow! Berapi-api!"
Sebuah tepukan tangan lembut tiba-tiba terdengar.
Salah seorang wanita dewasa yang punggungnya penuh oleh senjata tajam tersenyum tipis. Bertanya.
"Ngomong-ngomong, sebaiknya apa yang kita berikan sebagai sambutan tamu yang baru saja datang dari tempat jauh, ya? Aku ingin memberikan mereka sebuah kejutan."
Mengalihkan topik pembicaraan. Bertanya dengan nada anggun selayaknya seorang putri. Rambutnya yang biru gelap diikat dengan aksesoris kupu-kupu ungu. Berkilau bersama paras jelita yang menawan.
Salah seorang anggota menjawab.
"Kematian mendadak."
"Teh herbal?"
"Obrolan santai!"
"Aku punya ide bagus, Rena-san!!"
Utsusemi Ringo mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Untuk sejenak wanita dewasa bernama Rena menghela nafas. Tampak memiliki sedikit rasa kesal dengan tingkah Si Nomor Delapan. Akan tetapi ia tetap menunjuknya. Bertanya,
"Iya, Utsusemi? Apa idemu?"
Yang ditanya hanya memperlihatkan senyuman lebar yang menyimpan misteri. Hingga seluruh orang yang hadir dibuatnya menunggu. Hanya saja, di detik berikutnya ia menggendong tubuh Kageha Enma keatas melalui kedua tangan. Mengangkatnya bagai bola.
Lalu Si Nomor Delapan berujar,
"Ayo kita gunakan mainan baru Enma-chan yang baru saja dibuat!!"
Kedua bola matanya membulat.
"Namanya adalah..."
"... Shirayaki Bersaudari!!"
Sementara di sisi lain.
"Mereka membicarakan kita!!" Ketua rombongan yang merupakan wanita berwajah galak dengan rambut ungu berseru saat melihat sepuluh penyihir berjas hitam berkumpul di salah satu menara. Berbincang-bincang.
"Mungkin hanya perasaanmu, Violet." Master Azaroth yang ada di sisi kiri menyahut. Tubuhnya masih penuh luka dari pertempuran sebelumnya tapi ia sudah lebih baik untuk kembali terjun ke medan tempur membela kerajaannya.
Di sisi kanan wanita bernama Violet, tampak penyihir wanita lain yang jalannya paling lambat. Ragu-ragu. Dan sering gemetar. Mengetahui barisan musuh sudah ada di depan mata ia berseru parau,
"A--Aduh, bagaimana ini?! Mereka sepertinya banyak sekali!! Jangan-jangan, kita akan kalah?!!"
"Woi, wakil akademi tidak becus. Tahan ucapanmu atau kupecat sekarang juga."
Violet yang gemas dengan salah satu anggotanya berkata galak. Mengancam.
Wakil akademi yang kedua kakinya gemetaran bersama kacamata bulat di wajah menyahut.
"Ja--Jangan, Violet-san!! Aku belum melunasi hutang keluargaku yang menumpuk!! Kutarik ucapanku lagi, boleh?!!"
Violet yang nampak bagai penguasa mendengus.
"Baguslah kalau kau paham. Jangan mengeluh dan bertarunglah sampai mati, Vagust Fionna!!"
Wanita bernama Fionna pucat wajahnya.
"Ka--Kalau begitu aku tidak bisa melunasi hutang keluargaku, Violet-san?!!"
"Tenang saja. Aku yang akan membayarkannya untukmu sebagai asuransi kematianmu."
"A--anda baik sekali, Violet-san!!"
"Tapi bohong."
"I--Iblis!!"
"Ada yang mendekat."
Sebelum suasana menjadi kacau balau, Master Azaroth yang lebih tenang dengan kedua penyihir lainnya memberitahu. Membuat dua wanita yang dari tadi asyik sendiri itu terdiam. Berdehem sekali agak keras. Memicingkan mata. Mencobam menangkap sosok yang berjalan tertatih-tatih dalam kabut malam hari yang tebal.
Fionna yang berhasil mengidentifikasi sosok itu menelan ludahnya dalam-dalam.
"i... Itu?!!"
"Jangan-jangan?!!!"
Master Azaroth mengangguk.
"Benar."