"KAKAK BIADAB!! TERNYATA INI SEMUA ULAH KAKAK, YA?!!"
Olivia Marry yang sudah baik-baik saja di penginapan langsung menginjak-injak perut kakaknya yang terkapar tak berdaya. Dikelilingi orang-orang dari kelompok Dewa Kematian dan diriku. Mengalami pengadilan seadanya di ruangan enam kali tiga yang cukup sempit. Ditatap sinis oleh semua orang.
Satu jam telah berlalu semenjak kami meninggalkan Balairung Menara Langit, Tenkakuden, yang mungkin sekarang sedang kacau balau karena melepaskan lima penyusup yang memecundangi raja Sanz yang agung. Melakukan tindakan kriminal yang begitu nyata.
Kirisaki yang berada di sebelahku bertanya,
"Setelah ini kau akan kemana, Amuro-kun? Tujuanmu kemari tentu bukan hanya membantu bocah idiot itu, bukan?"
Aku mengangguk. Memandangi Orion kawanku yang memasuki tahap penyiksaan berikutnya. Digantung oleh Anna dan Olivia yang memiliki rambut cokelat pendek di salah satu sudut ruangan. Dijadikan samsak. Dipukuli.
"Setelah ini mungkin aku akan menuju wilayah utara kerajaan, Kirisaki-san. Kau ada informasi bagaimana caranya aku bisa kesana tanpa ada gangguan berarti?"
Pria pengguna belati hitam melipat kedua lengannya di dada. Berpikir sejenak. Menjawab,
"Biasanya aku mengenakan tarif untuk segala informasi yang kuberikan pada orang lain sebagai bagian dari bisnis, Amuro-kun. Namun kali ini adalah pengecualian. Kau bisa memberikan kartu ajaib ini kepada penjaga perbatasan ketika hendak melintas kesana."
Memberikan sebuah kartu cokelat agak berdebu yang ia ambil dari saku mantelnya kepadaku. Terlihat seperti sebuah kartu nama atau keanggotaan suatu kelompok yang memiliki otoritas.
Aku menerima barang tersebut. Memandanginya sekilas. Mengangguk pelan. Berterima kasih. Tetapi tetap bertanya,
"Um... Memangnya barang ini bisa apa?"
Kirisaki-san menjawab asal.
"Selundupkan senjata pemusnah ke kerajaan Ragnar dan serahkan kartu itu kepada para penjaga. Semua orang akan membukakan akses seaneh apapun tindakan atau barang yang menyertaimu."
Dahiku mengernyit.
"Bi... Bisa begitu, ya?"
Pimpinan kelompok pembunuh bayaran berujar, memalingkan wajahnya.
"Tentu saja, itu adalah kartu tanda anggota keluarga kerajaan, tahu."
"Ke--Keluarga kerajaan?!!"
Yang kaget malah Orion Marry di sudut ruangan. Buru-buru melepaskan tali yang mengikat dirinya. Buru-buru merangkak di lantai kepada Kirisaki-san. Menatapnya dengan penuh harap. Melekatkan kedua telapak tangan.
Aku meringis. Mengetahui apa yang hendak dilakukan lelaki yang satu ini.
"Ki--Kirisaki-san... Aku tahu telah banyak yang terjadi diantara kita--Tetapi, kau tidak keberatan jika hubungan kita diperpanjang beberapa tahun lagi, kan?"
Pria bersorot mata dingin langsung menolak.
"Tidak." Katanya tegas.
"Aku tidak tertarik lagi bekerjasama denganmu, pedagang. Mulai sekarang kau di-blacklist dari daftar klien kami."
Kedua bahu lelaki berambut cokelat tersisir merosot seketika.
"Mu... Mustahil!! Kau jahat sekali, Kirisaki-san--"
PRANK!!
Belum habis ucapan si pedagang licik, kaca penginapan yang menghadap ke jalanan tiba-tiba pecah berhamburan. Melesat dalam wujud serpihan tajam yang segera membuatku refleks menciptakan tembok es pelindung disekitar semua orang. Membiarkannya tertancap disana sementara sebuah anak panah bersumbu tertancap di kasur dengan api kecil yang memunculkan asap berada di bagian belakangnya.
Baik dari pihak pembunuh bayaran ataupun Orion-san dan adiknya terperanjat hebat. Buru-buru melangkah mundur. Sementara aku mengaktifkan seluruh pasukan bayangan yang kumiliki sekali lagi. Berbagi pandangan dengan mereka yang secepat angin menyebar diantara lingkungan sekitar penginapan.
Nafasku terhenti.
Pasukan bersenjata. Jumlahnya mungkin ratusan atau bahkan ribuan. Semuanya mengepung penginapan dari empat arah mata angin. Mengevakuasi penduduk secara diam-diam pada malam hari. Sementara ratusan pemanah ulung ditempatkan di bangunan-bangunan tinggi. Membidik melalui anak panah berlumuran cairan hijau yang sepertinya adalah racun. Membuatku menegak ludah, bertanya kepada Orion Marry.
"Wo--Woi, Orion-san! Yang ini bukan ulahmu lagi, bukan?! Ada ribuan pasukan yang datang mengepung kita, lho?!! Apa yang harus kita lakukan?!"
Yang ditanya ternyata juga kebingungan. Anna dan Olivia sudah siap menumbuk kepalanya sekali lagi dengan tinju.
"Ti--Tidak!!" Ia menggeleng kencang.
"Kali ini bukan ulahku, sungguh!!"
"Mereka kembali menyerang!!"
Aku memberitahu dengan suara keras. Menyuruh semua orang untuk tiarap.
SYUT SYUT SYUT SYUT
Di detik berikutnya, belasan anak panah susulan datang dari arah jendela yang telah jebol. Melesak masuk ke beberapa sudut ruang penginapan. Membawa sumbu yang sama. Masih terbakar. Namun kali ini api di ekornya lebih besar. Membuat Kirisaki dan kawan-kawannya pucat. Berteriak,
"Awas! Kali ini anak panah itu diberi alat peledak!!"
BUM BUM BUM BUM BUM!
Belum sempat aku memberikan respon terbaik, belasan batang kayu bersumbu sudah kehabisan waktunya. Menyulut bubuk mesiu di dalam lubang yang cukup sempit. Meledak disertai kobaran api yang panas. Merambat ke kasur putih. Lantai. Memenuhi ruang penginapan dengan asap.
Aku sendiri yang nyaris terkena salah satu ledakan begitu pias, merasakan detak jantung meningkat pesat bersama adrenalin yang memacu. Menghembuskan nafas lega karena mampu menghentikan waktu tepat di detik-detik terakhir, menyelamatkan semua orang dengan gerakan kilat yang kumodifikasi dari sihir Orion Marry. Membawa semuanya ke bagian ruangan yang cukup aman. Bersandar di daun pintu yang mulai digedor dari luar. Dari segala arah terdengar seruan-seruan prajurit yang bertarung melawan seratus pasukan bayangan.
"Me--Mereka sudah sampai di depan pintu!!" Seruku. Meminta orang-orang untuk melakukan sesuatu. Namun mereka ternyata sama-sama linglung. Tak mengira hal seperti ini akan terjadi.
"AAARGHH, Semua ini salah Onii-chan yang membuat masalah di kerajaan orang lain, kan?!!!"
Olivia Marry akhirnya melampiaskan segalanya pada si kakak. Menggerutu.
Anna sendiri mengangguk.
"I--Itu tidak dapat dipungkiri, sih... Jadi kita akan membuangnya ke pihak musuh?"
"....Se....Tu....Ju...."
"Jangan memberikan putusan sepihak kepadaku!!"
"Tenanglah, semuanya! Kita pastikan dulu siapa yang menyerang!" Yang paling tenang, Kirisaki-san segera mengambil alih. Menghentikan pertikaian diantara penghuni penginapan dengan satu suara. Menoleh kepadaku. Bertanya,
"Amuro-kun. Apakah kau bisa menjelaskan kepadaku seperti apa ciri-ciri pasukan yang menyerang penginapan?"
Aku mengangguk. Daun pintu penginapan yang lumayan kokoh mulai dibobol paksa menggunakan senjata. Berdentum kencang setiap kali dihantam. Membuatku berkeringat dingin.
"Seragamnya biru tua dengan gambar bunga teratai di bagian kedua bahunya. Mereka sepertinya dipimpin oleh seorang kesatria pengguna tombak yang menunggu di depan penginapan sambil menaiki kuda."
Kirisaki manggut-manggut mendengarkan penjelasanku. Bergumam,
"Hmm... Kalau begitu gawat..."
Orion Marry merinding.
"Penyerang kita adalah pasukan militer dengan senjata tercanggih Ragnar, fraksi Aoi, yang merupakan salah satu keluarga besar sembilan naga merah pengatur kerajaan. Biasanya mereka mengurus pengembangan teknologi dan urusan luar negeri, meski kadang-kadang ikut campur dalam urusan pertahanan negeri."
"Yang kau lihat di depan penginapan itu mungkin adalah putri sulung kepala keluarga mereka, Chika Aoi, yang baru saja kembali dari perburuan di wilayah utara."
Bola mata Kirisaki-san menyipit.
"Dia sangat kuat. Jangan sekali-kali melawannya."
"Ke--Kenapa keluarga itu mau repot-repot mencari dan mendatangi kita kemari, sih?!" Anna yang ujung pakaiannya sudah gosong terbakar api bertanya ketus. Asap yang memenuhi rongga pernafasannya membuatnya sesekali terbatuk dengan kencang.