Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #43

Zepphyier, Margaretta, dan Azaroth

"Rikka-chan, ketemu!"

Suara yang riang lagi-lagi mengisi siang bolong halaman Kuil Akatsuki yang lenggang. Penduduk kediaman sedang keluar. Satu-satunya putri bungsu yang menjaga kuil akhirnya bermain dengan tetangga jauh yang gerak-geriknya cukup misterius. Bertanding petak umpet dengan taruhan siapa yang kalah harus menjawab pertanyaan apapun dari pemenang. Beberapa permainan telah berlalu dan pemenangnya selalu Mei Ling yang entah mengapa memiliki insting serta pendengaran yang sangat tajam. Membuat Akatsuki Rikka yang kalah berturut-turut berpikir sedang berhadapan dengan monster. Melangkah malas keluar peti mati kosong yang berada di sudut halaman kediamannya. Memandangi si kecil Mei yang asyik berlarian dalam balutan kimono merah bermotif bunga putih. Lonceng emasnya yang tersampir di bagian belakang berbunyi berisik. Sementara obi berwarna emas disampingnya melilit pinggang. Mencegah kimono gadis tersebut terlepas.

"Hahaha! Kali ini Mei akan bertanya apa, ya~?!"

Akatsuki Rikka sudah tidak mau tahu lagi. Membuang mukanya ke sembarang arah. Pasrah menerima pertanyaan aneh dari kawan barunya yang selalu menemani sebulan terakhir ketika ia sendirian. Menghela nafas berat.

Setidaknya, bagi gadis penjaga kuil penyendiri, permainan buruk seperti ini lebih baik daripada ia harus memandangi batu nisan seharian tanpa henti.

"Cowok idaman sudah, hal paling memalukan dalam hidup sudah, rahasia yang belum pernah diberitahu pada siapapun juga...~"

Menghitung pertanyaan yang dimiliki bagai daftar menu, Mei Ling yang berkali-kali menang kebingungan menentukan pertanyaan macam apa yang akan ia berikan kepada Rikka untuk saat ini. Mondar-mandir tidak jelas di teras tetangganya yang dari tadi diam. Untuk kemudian menjentikkan jarinya. Berseru riang.

"Aha~!"

Gadis berkimono putih dengan motif sakura berusaha meneguhkan hatinya menghadapi pertanyaan yang akan dilontarkan beberapa saat lagi.

Tetapi Mei Ling yang sepertinya sudah bosan mendekati si penjaga kuil yang dari tadi selalu kalah. Tersenyum simpul kepadanya. Berujar,

"Karena aku sudah kehabisan pertanyaan yang ingin kuberikan pada Rikka-chan, bagaimana kalau Rikka-chan saja yang bertanya kepadaku~? Rikka-chan dari tadi nafsu ingin menang, bukan~?"

Akhirnya!!

Akatsuki Rikka menyeringai lebar demi mengetahui musuh permainannya bersikap begitu lembut di permainan kali ini. Berbagai macam pertanyaan kejam sudah berseliweran di kepalanya sebagai bentuk pembalasan terhadap gadis yang sangat jago bermain petak umpet. Mengepalkan kedua tangannya kegirangan. Berbalik tubuh menghadap Mei Ling yang kebingungan dengan tingkahnya. Berseru,

"Ka--Kalau begitu, Mei Ling!!"

"--Tapi dengan syarat tidak boleh meniru pertanyaan yang telah kuberikan, ya~?!"

Tubuh Akatsuki Rikka refleks terjungkil begitu mendengar hal itu. Kehilangan semangat hidup secara mendadak. Merasakan kecewa berat. Terkapar bagai orang mati hingga kawannya panik. memanggil-manggil namanya. Memeriksa denyut nadi di pergelangan.

Hingga kemudian ia bangkit. Mengembangkan kedua pipinya.

"Ih, curang!!"

Mei Ling tertawa lebar melihat ekspresi lucu kawan mainnya.

"Ah, mana ada! Mei yang memberikan hadiah kepada Rikka-chan, bukan~? Suka-suka Mei, dong~!"

Akatsuki Rikka yang baru sadar strategi lawannya akhirnya berpikir keras. Mencoba mencari pertanyaan vital tersisa yang dapat memojokkan Mei Ling walau hanya sekali ini saja. Diam dalam waktu cukup lama hingga kawannya sendiri bosan. Memandangi dirinya sambil mengayunkan wajah ke kanan dan kiri.

"Hei, Rikka-chan...~ Jangan lama-lama, dong~"

"diam, Aku sedang berpikir." Akatsuki Rikka menjawab ketus.

Melanjutkan pertapaannya kembali. Memejamkan kedua mata. Memasuki alam bawah sadarnya untuk meningkatkan pencarian pertanyaan.

Beberapa menit kemudian bola matanya kembali terbuka. Membuat senyum Mei Ling akhirnya mengembang kembali. Tidak sabar pertanyaan macam apa yang akan dilontarkan oleh sahabatnya. Bertanya kegirangan,

"Wah~! Sepertinya kau sudah dapat pertanyaan bagus, ya Rikka-chan~!!"

Tetapi yang dipanggil membalas dengan ekspresi yang agak berbeda. Menelan ludahnya sebagai pertanda ragu. Menatap lamat-lamat gadis kecil berkimono merah dengan suatu pandangan misterius. Tidak ada senyuman. Tidak ada canda tawa. Sorot mata Akatsuki Rikka benar-benar serius sekaligus ketakutan. Suara terdengar lebih pelan sekarang. Berujar,

"Baiklah, kalau begitu pertanyaanku, Mei Ling..."

Ekspresi Mei Ling berubah datar seolah mampu menebak pikiran Rikka.

"... Kau ini..."

"... Manusia, kan?"

***

Lihat selengkapnya