Yang kulihat pertama kali adalah meja makan. Ukurannya besar sekali. Mampu menampung sekitar belasan orang. Terbuat dari kayu mahoni yang merah kecokelatan. Diisi berbagai macam hidangan lengkap dengan pelayan berseragam hitam celemek putih yang hilir-mudik melayani penghuni kursi yang dihiasi dengan emas asli.
Delapan orang berpakaian bangsawan terlihat sesak memenuhi meja makan tersebut. Makan dengan elegan. Sesekali mengusap mulut yang belepotan dengan sapu tangan. Rapi dan bersih. Sementara aku, Orion, Olivia dan ketiga anggota Dewa Kematian juga bergabung--meski dalam kondisi terikat. Ditatap banyak mata yang penasaran. Sementara sang tuan putri Chika yang berada tepat di sebelahku, bertindak sebagai penjamu dilihat dari tempat duduknya yang paling mewah, menyambut.
"Nah, ini dia~! Penyusup yang memiliki kekuatan legendaris baru saja terbangun~!" Wanita itu berseru kepada hadirin.
Suasana begitu canggung. Agak kebingungan sekaligus ragu melihat fisikku yang ternyata masih bocah dua belas tahunan. Mengedip-ngedipkan matanya sekali. Bertanya sopan kepada nona yang senyum anggunnya tidak pernah pudar.
"Anu... Atas segala hormat kepada ayah anda, nona Chika... Apakah anda sedang bercanda?"
Chika Aoi menggeleng tegas.
"Tidak, aku serius. Lihat, tiga orang yang bersamanya ini adalah anggota kelompok pembunuh bayaran yang akhir-akhir ini dicari banyak orang, bukan?"
Delapan tamu yang hadir menoleh kepada tiga serangkai kriminal yang masih belum terbangun. Mengamati wajah mereka yang familiar. Mengangguk-angguk sekilas, membenarkan sang tuan putri. Berbisik satu sama lain.
"Dia tidak berbohong."
"Itu memang mereka."
"Apakah Dewa Kematian dapat dikalahkan semudah itu oleh Chika-sama?"
Seorang bangsawan yang mengenakan baju zirah tebal mengangkat tangannya sopan. Izin menanyakan sesuatu. Begitu wanita muda dengan poni dijepit bunga sakura mengiyakan, pria yang sudah agak tua itu berkata,
"Kalau memang mereka adalah penyusup yang dikabarkan berhasil menyusup ke istana, Chika-sama. Lantas apa tujuanmu mengumpulkan mereka disini bersama kami?"
Tatapannya serius.
"Mereka seharusnya dihukum mati secepatnya, bukan?"
Ruangan langsung hening begitu ucapan yang demikian dilontarkan.
Memang, secara aturan tertulis yang berlaku di kerajaan Ragnar, tindakan mengancam keselamatan keluarga raja adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat dimaafkan. Selalu berakhir di tiang penggantungan atau mata pisau besar algojo. Maka dari itu, mengetahui Chika Aoi selaku orang yang berjasa malah membiarkan mereka hidup--bahkan mengundang mereka di sarapan pagi yang indah ini, secara senyap ia malah dicurigai. Dipandang sinis oleh beberapa bangsawan yang ada.
Aku sendiri menelan ludah demi mendengar hal itu. Membayangkan akhir hidupku yang jatuh dibawah palu keputusan hakim. Diadili ramai-ramai oleh ribuan warga ibukota Kurogane.
Akhir yang sungguh buruk.
Hanya saja Chika Aoi bukanlah tuan putri manja yang kepalanya kosong. Ia segera berujar kembali,
"Apa yang dikatakan komandan militer kerajaan kita, Rhize-sama, memang benar. Maka dari itu, aku mengundang kalian kemari sebagai perwakilan keluarga sembilan naga merah untuk meminta persetujuan kalian terkait orang-orang ini."
Seorang wanita gemuk yang tubuhnya penuh perhiasan bangkit. Menuding tuan rumah dengan telunjuk yang gempal.
"Jadi kau berencana memanfaatkan kami berdelapan supaya masuk dalam skenariomu, Putri Bungsu Aoi sialan?!"
Suasana agak tegang.
Beberapa pelayan diam-diam menyentuh gagang belatinya yang tersembunyi di bagian punggung. Sangat awas dan waspada.
Aku segera menangkap sesuatu.
Rupanya para pelayan ini juga prajurit milik si wanita jelita di sampingku.
Chika Aoi mengangkat kedua tangannya menyerah, mencoba mencairkan suasana.
"Ah, tentu saja tidak, nona Ghana...~ Sungguh, kali ini aku tidak berniat memanfaatkan wewenang kalian sebagai kepala keluarga sembilan pengatur kerajaan Ragnar. Untuk sekarang, aku berencana membebaskan semua penyusup ini, khususnya si bocah pemilik pasukan bayangan tersebut, bagaimana~?"
Tiga lelaki bangsawan gusar ketika sang putri bungsu mengungkapkan rencana tersebut. Menolak tegas langsung di detik pertama. Bersikukuh.
"Atas segala hormat kepada Tuan Vin Aoi, ayah anda, hal itu tidak bisa kita lakukan, Chika-sama!! Apakah anda tidak memikirkan perasaan keluarga yang salah satu anggotanya sudah dibunuh oleh kelompok Dewa Kematian beberapa tahun ini?! Mereka menuntut balas kematian atas seluruh anggota pembunuh bayaran ini, tahu!!"
"Yang Mulia Sanz juga pasti akan murka mendengar rencana anda!! Pantas perwakilan dari beliau tidak diundang pada pagi hari ini karena beliau pasti akan menolak!!"
"Aku sudah muak dengan kelakuan putri bungsu tidak tahu malu ini!! Ayo semuanya, kita pergi dari sini!!"
Sebelum semua bangsawan bubar sungguhan meninggalkan meja makan yang bahkan belum habis hidangannya, Rhize selaku komandan militer penanggung jawab pertahanan kerajaan berujar,
"Tahan sebentar."
Suaranya benar-benar berwibawa dan memiliki pengaruh besar di hati para bangsawan yang hadir. Tampak tenang serta tidak buru-buru. Membuat seisi ruangan terdiam. Kemudian ia melirik kepada tiga lelaki yang hendak pergi.