"Kita akan berangkat ke pegunungan Narkhaz besok pagi. Untuk saat ini, kalian bisa menggunakan kamar ini sepuas kalian sebelum dijadikan tumbal. Anggap saja rumah sendiri, ya~?"
Tersenyum dengan cara mengerikan, Tuan Putri yang sebenarnya cukup ramah itu melambaikan tangan kepada kami berenam sebelum menutup pintu kamar yang desainnya mewah. Sangat mirip dengan nuansa istana kerajaan yang beberapa waktu lalu kami kunjungi.
Suara kunci yang diputar mengisi keheningan.
Adalah Orion Marry yang pertama kali menumpahkan kekesalannya, mengacak-acak rambut yang sebelumnya tersisir rapi, menodong orang-orang disekitar. Sudah beberapa menit lalu ia sadar kembali dari totokan maut Chika Aoi.
"Kalian ini mengapa diam saja?! Jika kita semua kompak menolak dengan teguh, mungkin kita bisa menggagalkan rencana pengiriman ke wilayah utara, tahu?!!"
Aku menyahut.
"Bukankah hukuman mati terasa jauh lebih buruk?"
"Tentu saja tidak!!"
Air liur si pedagang muncrat kemana-mana.
"Penjaga sel atau tukang jagal itu kehidupannya pas-pasan!! Dengan satu kali tawaran, mereka pasti mau diajak bekerja sama dan membebaskan kita!!"
Kirisaki melanjutkan,
"Sementara di pegunungan Narkhaz, yang kita hadapi bukan lagi manusia. Melainkan monster yang tidak bisa diajak bicara."
"Ternyata kau sependapat denganku, Kirisaki-san!!"
Daripada kelelahan berdiri terus-menerus, Olivia Marry yang tidak mau tahu lagi nasib apa yang akan menimpa dirinya undur diri terlebih dahulu. Merangkak naik ke kasur yang tebal. Menaikkan selimutnya.
"Selamat malam, semuanya."
Aku mengernyitkan dahi.
Sekarang masih siang.
"Atas segalanya, Orion-kun... Kau harus bertanggung jawab atas semua ini, lho? Lihat adikmu itu! Kau yang membawanya pada masalah ini, bukan?" Anna memarahi. Mengingatkan pedagang bangsawan Marry yang sejak awal memang memandang segalanya sebagai alat tukar yang memiliki nilai.
Lelaki itu menelan ludah. Menurunkan pandangannya kebawah. Dalam hati membenarkan ucapan wanita dewasa berambut pirang di depannya.
Benar, sejak awal ini memang merupakan bagian dari konsekuensi rencana Orion-san.
Sayangnya, rencana itu berakhir buruk.
"Aku mengerti, aku mengerti! Kita hanya perlu memikirkan cara kabur dari tempat ini secepatnya, bukan?!" Orion Marry bertanya.
Pimpinan kelompok Dewa Kematian menjawab.
"Tidak akan semudah itu, pedagang. Ini adalah kediaman keluarga Aoi yang dijaga langsung oleh pasukan terbaik mereka. Memang sulit dipercaya, tetapi penjagaan disini jauh lebih ketat daripada Tenkakuden. Kau tahu? Keluarga Sembilan Naga Merah lebih mementingkan keselamatan mereka sendiri daripada harus terus-terusan menjaga raja yang semakin hari semakin gila."
Aku mengangguk pelan.
"Masuk akal."
"Kalau begitu, kita suap semua orang yang ada disini!" Pedagang licik berseru. Semangatnya membara.
Gantian Anna yang menyahut.
"Bodoh sekali! Aoi adalah satu-satunya keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi integritas, tahu!! Seumur hidup menjalankan misi, kami tidak pernah sekalipun berhasil menyuap satu anggota mereka!! Walau ia adalah tukang kebun!!"
Wajahku pucat.
Sampai segitunya?!
"Jadi... Kita akan kabur saat berada dalam perjalanan menuju Narkhaz?" Tanyaku ragu.
Orang-orang untuk sejenak terdiam. Namun mereka kemudian mengangguk pasrah.
"Itu benar. Hanya perjalanan menuju Narkhaz yang paling memungkinkan untuk kita kabur."
"Kau yakin, Kirisaki? Kita akan bersama pasukan elit keluarga Aoi, lho? Mereka semua tangguh, bukan?"
"Tenang saja! Kita bisa gunakan sihir ilusi dan tidur dari Amuro-kun dan si tukang tidur!"
"Oh, benar juga!!"
"Kalian tidak akan bisa melakukannya."
Sebuah suara tiba-tiba memotong percakapan kami di dalam ruangan. Membuat orang-orang menyadari kekhilafannya. Berkeringat dingin ketika perlahan daun pintu terbuka. Menciptakan suara deritan khas.
Seorang gadis. Umurnya mungkin tak akan lebih dari belasan tahun. Tubuhnya sangat kecil. Bahkan lebih kecil dariku. Membawa sebuah pedang besar di punggung yang kontras dengan postur bocahnya. Melangkah masuk tanpa rasa ragu dalam tatapan para penghuni kamar.
Rambut hitamnya yang diikat ke belakang terjuntai panjang hingga menyentuh lantai.
"Chibi?" Mulutku keceplosan.
Detik itu juga, sebuah tinjuan mendarat di perutku. Membuatku mual sesaat. mencari sosok gadis kecil yang ternyata sudah melesat. Sekonyong-konyong berada di dekatku dengan bogem mentah bersemayam di ulu hati.
Mengedutkan kedua alis.
"Tutup mulutmu, bocah. Aku lebih tua darimu."