Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #47

Tunangan?!

Upacara kematian besar digelar di sebuah hamparan diluar ibukota kerajaan, Kurogane, diantara malam yang gelap dan gerimis. Menimpakan rintik air. Mencipta guntur diantara awan. Tampak gemerlap, dengan cahaya tipis rembulan yang menyemburat, membentuk siluet bayangan orang-orang yang hadir dalam keadaan membeku.

Bendera-bendera kerajaan yang bersimbol beruang bercampur dengan logo keluarga sembilan naga merah yang berkibar diterbang angin. Bergerak kesana-kemari. Sementara para prajurit yang berjaga menundukkan wajahnya sedih. Menatap batu nisan-batu nisan tanpa jasad yang baru saja dipasang. Menitikkan air mata dalam pandangan kosong.

Para kepala bangsawan yang berada di barisan paling depan memimpin upacara kematian para pahlawan yang nampaknya tidak dihadiri oleh sang raja Ragnar. Membacakan do'a-do'a dan harapan. Meminta semua orang untuk tegar menghadapi kekalahan yang ada. Menanamkan semangat. Menanamkan benci.

Ya, benci kepada keluarga Akatsuki.

Mengutuk mereka. Menghina mereka. 

Hingga kemudian senjata-senjata terangkat. Orang-orang berseru marah. Menumpahkan kekesalan mereka kepada kaum pemberontak yang telah mengacaukan kerajaan mereka. Menghilangkan orang-orang yang mereka cintai.

Diantara orang-orang yang sedang berkabung itu, salah seorang putri bangsawan berseragam biru terduduk lemas di salah satu batu nisan. Air matanya sudah kering karena menangis seharian. Bahunya gemetar. Tatapannya nanar melihat nama yang terukir di depan. Sama sekali belum menerima kenyataan pahit yang sedang menimpa. Bergumam pelan.

"Hei, ayah ..."

"...Ayah sebenarnya belum mati, bukan...?"

Guntur di langit menyambar-nyambar keras. Memperlihatkan wajah jelita si putri bungsu yang baru saja kembali dari misinya menjaga perbatasan dari para bandit yang menyerang. Membuat kedua matanya yang anggun berkilat-kilat. Basah oleh air mata dan gerimis. Mempertontonkan parasnya yang indah meski sedang bersedih.

Suaranya lagi-lagi bergetar.

"Hei, Ayah..."

"... Ayah tidak mungkin kalah dari penunggu kuil itu, bukan ...?"

***

Pagi yang cerah timbul diantara langit-langit pegunungan Narkhaz yang selalu menjatuhkan salju. Membawa dingin. Membawa beku. 

Sambil mengusap peluhnya dengan punggung tangan, si putri bungsu keluarga besar Akatsuki melanjutkan tugasnya menyapu halaman yang lebarnya cukup digunakan sebagai panggung festival musim semi sambil sesekali mengeluh.

Namun wajahnya agak ceria. Karena pada hari ini seluruh keluarga kecuali dirinya akan berangkat mengadakan upacara kematian salah seorang bangsawan di ibukota. Pulang nanti malam. Itu artinya, dia bisa bermain dengan kawan barunya sampai puas seharian ini.

Kakak lelaki pertamanya yang memerhatikan dari jauh mengernyitkan dahi melihat adiknya agak berbeda akhir-akhir ini, bertanya sambil memanggil.

"Hei, Rikka-chan. Tumben sekali kau tidak mengeluh disuruh berjaga di rumah dan bersih-bersih pada pagi ini. Ada apa?"

Akatsuki Rikka yang menoleh langsung tersenyum. Ternyata perubahan sikapnya diketahui oleh sang kakak. Berterus terang.

"Bukan hal yang khusus, Kaito-nii. Aku hanya terlalu senang karena sahabatku akan berkunjung lagi siang nanti saat kalian keluar."

Lelaki bernama Kaito melangkah mendekat. Memicingkan mata.

"Sahabatmu?"

Suaranya menyelidik.

"Apakah ia seorang pemuda tampan yang berhasil memikat hatimu? Kulaporkan ibu, lho kalau kau macam-macam dengan orang asing." Ancamnya.

Namun nada riang Akatsuki Rikka sama sekali belum hilang. Menyapu halaman yang dipenuhi guguran daun kering seolah menari. Bersenandung pelan.

"Tidak perlu khawatir, Kaito-nii. Namanya adalah Mei Ling. Dia gadis cantik yang baik sekali kepadaku akhir-akhir ini."

"Dan yang terpenting..."

"... Dia adalah manusia."

***

Lihat selengkapnya