Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #48

Gadis Yang Selalu Ingin Bunuh Diri

Sebenarnya tak banyak yang bisa kami bicarakan hingga berangkat pada keesokan pagi sesuai jadwal Chika Aoi. Bergerak dari kediaman yang megah bersama rombongan berkuda. Dipimpin langsung oleh si putri bungsu-sulung yang berada paling depan. Melintasi jalanan ibukota yang ramai oleh warga bersorak-sorai kepada salah satu keluarga besar Sembilan Naga Merah yang terkenal. Sesekali mengumpat kami sebagai kriminal. Melempar batu. Melempar pasir. 

Olivia yang sama sekali tidak salah tak henti-hentinya mencubit sang kakak yang berada satu kuda dengannya. Ingin sekali membunuh lelaki tak berguna itu tapi situasinya tidak memungkinkan. Sementara tiga anggota Dewa Kematian yang sudah memiliki reputasi buruk lebih dahulu menerima respon yang paling dahsyat. Berkali-kali hampir saja diserang oleh sekelompok pemuda yang mengaku salah satu keluarganya pernah dihabisi oleh mereka jika tidak dihalangi prajurit berseragam biru. Membuatku menelan ludah. Merasa bersalah karena bergabung di pihak yang tidak tepat.

Seharusnya dari awal aku memang langsung ke Perguruan Hoshigiri saja, ya?

Aku mengumpati diri.

Dasar bodoh.

Konvoi keberangkatan itu diiringi oleh upacara sederhana yang menghadirkan sekelompok pemain drum penabuh melalui tongkat-tongkat berat. Beberapa wanita menari di pinggir jalan. Para penjaga ibukota membungkuk, membuka akses. Menurunkan senjatanya dengan hormat. Sementara komandan militer mereka yang cukup kukenal bergabung dalam barisan menggunakan sebuah kuda gagah. Berjalan di depan bersama kedua putri yang berada dalam satu tunggangan. Menyapa mereka. Menyatakan tujuannya kemari.

"Biarkan aku bergabung dengan kalian."

Tatapannya serius. Perlengkapan perangnya utuh dari kaki sampai kepala.

Chika-sama agak keberatan dengan hal itu, mencoba menolak halus melalui bahasanya yang diplomatis.

"Astaga, Rhize-sama. Jika anda ikut bersama kami, keluarga Mikado akan merindukan anda dan keamanan kerajaan pasti terancam saat anda gugur."

"Aku tidak peduli." Komandan militer yang biasanya tenang dan berpikir jernih kali ini tidak bisa diajak bicara. Menggenggam tali kendali erat-erat.

"Ribuan pasukanku sudah menyerahkan nyawa mereka supaya aku bisa kabur beberapa bulan yang lalu. Selama ini tidurku selalu tidak nyenyak karena terus memimpikan mereka yang ingin dendamnya terbalaskan."

"Jangan khawatir, putri Vin Aoi. Aku telah menulis surat wasiat dan memindahkan otoritasku pada orang kepercayaan untuk sementara waktu. Semuanya akan baik-baik saja."

Dirasa tidak akan berhasil mengusir sang komandan, Nona Chika pun menyerah. Mengangkat kedua bahunya kecewa. Berkomentar.

"Ah, begitu rupanya. Saya mengerti perasaan anda... Kehilangan sesuatu yang berharga tentu sangat menyakitkan, bukan?"

Rhize mengangguk sekilas. Menghela nafasnya berat.

"Pasukan itu sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri tetapi penunggu kuil itu malah menghabisi mereka dalam satu malam sekaligus..."

"... Tentu saja aku tidak bisa diam."

Putri sulung yang bertubuh lebih kecil memberikan pendapatnya.

"Baguslah, kita ketambahan pasukan yang kuat."

Chika Aoi berbisik kepada kakaknya.

"Onee-sama, jangan menganggap Rhize-sama sebagai bawahan yang bisa disuruh-suruh, lho?!"

Yanagi Agak geli mendengar hal itu, mengangguk pelan.

"Aku tahu, kok, Chika. Bangsawan itu egonya besar semua, bukan?"

"Ya, bisa dibilang begitu."

Aku dari jarak agak jauh mengusap wajah.

Woi, suara kalian terlalu keras.

Menoleh ke kanan kiri memastikan tidak ada yang mengawasinya, Anna yang menaiki kuda bersama si tukang tidur melirik kepada Orion Marry di sebelah. Bertanya pelan sekali.

"Hei, pedagang. Kau sudah menyiapkan rencana supaya kita bisa kabur dari misi ini, bukan?"

Yang ditanya malah menggeleng. Menahan perih dari kuku tajam Olivia yang masih melekat di paha.

"Ma--maafkan aku, Anna-san. Kali ini aku sudah memasrahkan segalanya pada langit yang maha kuasa."

"Jangan begitu, bodoh! Kita semua begini gara-gara ulahmu, lho!!"

"Nona, apa yang anda lakukan?" Begitu melihat sesuatu yang mencurigakan, prajurit elit keluarga Aoi langsung menohok Anna. Bertanya melalui nada tajam. Menyipitkan mata.

Wanita berambut pirang menggeleng-geleng keras. Melambaikan tangan sebagai bentuk perdamaian. Menyahut.

"Ti--tidak ada apa-apa!! Sungguh!!"

Akhirnya ia dipisahkan oleh salah seorang prajurit dari si pedagang. Terpaksa dipagar oleh penunggang kuda yang bergerak disamping keduanya. Membuat wanita yang menggunakan cakar beracun semakin kebingungan. Merasa jalur untuk kabur semakin mustahil. Tidak ada koordinasi.

Aku sendiri tak ambil pusing terhadap yang kualami. Fokus memikirkan strategi bagaimana caranya mengalahkan penjaga kuil yang selalu dimitoskan semua orang. Berkeringat dingin. Memutuskan menciptakan pasukan bayangan dari jarak yang agak jauh. Memberikan perintah.

"Kalian semua, menyebarlah duluan ke wilayah utara. Jangan sampai ketahuan siapapun."

Lihat selengkapnya