Pagi itu embun menitik dari ujung daun seperti biasanya.
Angin berembus lembut bersama tempias mentari yang hangat. Semerbak bunga dari taman dibawa pergi ke sepenjuru kota. Membawa kelopak warna-warni diantara ibukota Kurogane yang mulai beraktivitas. Memulihkan kondisi mereka setelah perang melawan pasukan raja iblis baru saja selesai beberapa waktu lalu.
Pagi itu Balairung Menara Langit, Tenkakuden, tampak gagah seperti biasanya.
Ribuan anak tangga berbaris kebawah layaknya piramida. Puluhan prajurit berjaga agak ngantuk diatas tembok yang tebalnya mengalahkan benteng ibukota. Sembilan bendera keluarga bangsawan yang berbeda berkibar diatas tongkat-tongkat. Penuh wibawa bersama bendera Ragnar yang berbentuk beruang.
Pagi itu sang raja, Void Ragnar, sedang bersantai di ruang pribadinya seperti biasa.
Anak-anaknya berlarian di aula. Permaisuri tercinta menuangkan teh hangat. Tersenyum simpul kepadanya. Pelayan-pelayan yang setia menyiapkan sarapan. Menata hidangan di meja makan. Para prajurit berjaga di sekitar dengan senjata-senjata tersarung rapi.
Pagi itu, seharusnya kerajaan Ragnar baru saja menyelesaikan salah satu masalah terbesar mereka, bahagia karena akhirnya terlepas dari pasukan raja iblis yang telah kalah, merayakan pesta kemenangan di berbagai sudut.
Hingga sebuah berita datang dari seorang prajurit yang menjaga ruang bawah tanah. Lebih tepatnya, tempat penyimpanan pusaka vital kerajaan. Wajahnya tampak pias saat melapor di hadapan Yang Mulia Void Ragnar.
Dengan suara bergetar, ia memberitahu.
"Yang Mulia, ini gawat!!"
Membuat orang-orang yang sedang tertawa menoleh.
Memadamkan kebahagiaan mereka.
"Pedang suci kerajaan, Aegis, telah dicuri!!"
Pagi itu, sebuah episode berdarah Ragnar yang lain baru saja dimulai.
***
Akatsuki Rikka sebagai gadis yang baik selalu memerhatikan kebersihan kediamannya saat orang-orang pergi. Menunggu momen yang tepat untuk bekerja adalah prinsip utamanya supaya tidak perlu menyuruh kakak-kakaknya menyingkir saat ia ingin menyapu. Apalagi jika mereka bersantai di ruang tengah. Bercanda tawa. Memainkan catur tradisional. Saling tidak terima karena kalah. Suasana akan gaduh dan itu menghambat dirinya bekerja secara efektif.
Pagi ini ia memulai pekerjaannya dari gudang perlengkapan upacara yang berada di sebelah tangga menuju lantai atas.
Membuka gagang pintu yang agak berkarat, Rikka Akatsuki terbatuk-batuk, menutup mulut dan hidungnya melalui lengan kimono putih yang lebar. Sementara debu-debu tebal menyeruak keluar. Mengotori rok hakama hitamnya yang baru diganti. Dalam hati ia berseru kesal.
Kalau sudah sekotor ini, kenapa aku tidak pernah diberitahu, sih?!
Dalam pikirannya berseliweran tawa kakak-kakaknya yang semua adalah lelaki. Begitu pula ayah yang biasanya tidak peduli dengan urusan rumah. Ibunya? dia telah meninggal beberapa tahun lalu. Membuat tanggung jawab seorang Rikka lebih cepat timbul daripada biasanya. Menggantikan seluruh tugas ibu: membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan sarapan.
Gadis penjaga kuil akhirnya melangkah masuk dengan hati-hati. Ujung sandal jepit kayunya terdengar berisik setiap kali menyentuh lantai gudang perlengkapan upacara keagamaan yang kayu. Menyalakan lilin-lilin yang berada di sudut ruangan. Memulai pekerjaannya seperti biasa. Membuang sampah. Merusak sarang laba-laba di langit. Menyapu sambil sesekali mengusap peluh.
Sama sekali tidak percaya hal seperti ini harus dilakukan olehnya yang seorang gadis muda.
"Aku ... Aku harus segera menikah!!"
Ia berseru kesal. Mengacak-acak rambutnya. Teringat dengan cerita sahabat sendiri yang meski ia akui konyol, tapi begitu indah karena ada seseorang yang dicintai.
Seseorang yang menyelamatkannya.
Seseorang yang akan menjadi sandaran kepalanya di kala sulit.
Dalam konteks Rikka, seseorang itu akan mengakhiri perannya sebagai pelayan serba bisa di Kuil Akatsuki. Membawanya ke ibukota kerajaan yang ramai. Membuatnya bahagia disana.
Namun tiba-tiba ia minder.
"Er... Tapi ... Memangnya akan ada lelaki yang tertarik denganku ... ?"
Telunjuknya merapat ke bibir.
"Habisnya, aku ini hanya penjaga kuil biasa, bukan? Mana mungkin ada pangeran yang akan tertarik kepadaku ..."