Akatsuki Rikka menjerit ketika pantatnya menghantam lantai yang dilapisi semen. Suara dentuman berdebu bergema lalu terpantul di persimpangan lorong gelap dengan lilin berbentuk trisula. Meringis kesakitan, Akatsuki Rikka memijat dengan tangannya. Mengangkat wajah. Gemetar menatap lubang yang menganga di langit asal ia terjun. Menyipitkan mata saat setitik cahaya ruang gudang terlihat disana. Jauh sekali. Sama sekali tidak percaya bahwa ia masih hidup. Merinding ketakutan saat melihat ke sekitarnya. Begitu asing dan mencekam. Menelan ludah dalam-dalam.
Ini... Tempat apa?
Gadis penjaga kuil itu sama sekali tidak ingat ada ruangan yang seperti ini di kediamannya. Apakah ia baru? Rikka sendiri tidak tahu. Berdiri sambil menepuk pakaian yang kotor. Agak lemas karena menyadari ia tidak mungkin terbang kembali ke lubang yang menganga vertikal. Melepas pandangan ke lorong-lorong. Berseru dalam diri sendiri.
Jangan bilang... Aku terjebak disini?!!
Ia berteriak sekali lagi. Kemudian berusaha menangkan dirinya.
Tahan dirimu, Rikka-chan! Kau bukan gadis yang lemah disini. Selain lubang yang berbentuk lurus itu, pasti ada suatu jalan lain yang bisa digunakan untuk kembali ke atas...
Kedua kakinya kembali gemetar.
"Tapi, sejak kapan aku memiliki ruang bawah tanah di dalam gudang?!!!"
Walau instingnya mengatakan tempat ini cukup berbahaya, gadis yang kimononya beberapa kali menyapu debu itu tetap melangkah pergi dengan kaki agak pincang. Menyusuri lilin-lilin yang berayun setiap kali melintas. Kebingungan dengan percabangan jalan yang selalu muncul setiap jarak tertentu bagai labirin tak berujung. Membuatnya kelelahan bahkan sebelum satu jam pertama berlalu.
Kemudian sebuah tangga mendatar kebawah mengusik pandangannya. Berada tepat di ujung jalan yang melebar. Terbuat dari batu-batu rapuh. Tampak retak di beberapa sisi. Akatsuki Rikka bergidik bukan karena tangga itu memancarkan energi asing yang begitu terasa di wajahnya. Akan tetapi, lapisan tangga itu ditempeli jimat-jimat berwarna merah yang familiar bagi keluarga pemimpin upacara keagamaan sepertinya.
Ia memiliki ukiran yang menyerupai kategori penyegel. Berbau menyengat untuk memikat roh-roh yang berkeliaran. Lebih dari cukup untuk membuat gadis yang pantatnya masih nyeri berbalik arah secepatnya. Berlari kencang. Lupakan rasa penasaran yang menggerayangi. Ia masih terlalu muda untuk berani mempertaruhkan nyawa. Mencari jalur lain yang dirasa lebih baik. Berusaha tidak menoleh walau hanya sekali.
"To... Tolong aku..."
Kendati demikian, sebuah suara serak tak dikenal berhasil memanggilnya dari arah tangga yang mendatar kebawah itu. Suara itu begitu lirih. Terkesan kesakitan karena suatu hal. Seorang wanita.
Akatsuki Rikka sebenarnya hendak mengabaikan panggilan itu. Mencoba membujuk pikirannya bahwa suara tadi adalah khayalan semata. Tidak perlu ditanggapi. Atau malah jangan-jangan ia panggilan roh penasaran yang baru saja menyadari keberadaannya. Mengajak 'bermain' seperti cerita-cerita horor kakak-kakak penjaga kuil tersebut.
Ia menggeleng kuat sambil menggenggam erat telapak tangannya. Bergumam.
"Tidak..."
Keringat dingin bercucuran membasahi pakaiannya.
"Aku tidak akan berakhir menyedihkan... Seperti tokoh utama dalam mitos mengerikan Kaito nii-san pekan lalu!!"
Lalu ia berkata optimis.
"Yang kulakukan hanyalah dua hal: berhentilah penasaran, dan segera kabur dari hal yang mencurigakan, ngoahahaha!!"
"Kumohon."
"Sebentar lagi aku akan mati."
Sungguh ajaib suara yang lirih itu masih terdengar oleh gadis berkimono putih meski ia sudah berlari cukup jauh. Bergema dari jarak yang begitu panjang. Terpantul diantara lorong yang remang. Membuatnya terdiam. Membeku bagai patung. Agak ragu setelah mendengar frasa 'mati' diucapkan untuk berlari lebih jauh. Kali ini ia menolehkan wajahnya sedikit. Berhati-hati jika ada sosok roh mengerikan yang akan melompat menakutinya. Akan tetapi, karena tidak ada hal aneh yang terjadi. Akhirnya gadis itu mau mendengarkan. Membalikkan seluruh badannya. Meneguhkan hati.
Bertanya balik.
"Sebelum itu, jelaskan dulu siapa dirimu dan tempat macam apa ini?!"
Suaranya yang keras menggema diantara jalan menuju tangga. Terpantul hingga mencapai ruang-ruangan yang lain. Secara ajaib terdengar oleh wanita yang tadinya meminta tolong. Memperoleh tanggapan tepat saat Rikka berpikir dirinya sudah gila karena berani mengajak bicara seseorang yang misterius di tempat yang misterius.
"Aku adalah Han Ling, dan tempat ini adalah penjara segel yang diciptakan adikku, Mei Ling. Kau adalah Akatsuki Rikka, gadis penjaga kuil yang akhir-akhir ini dekat dengannya, bukan?"
Mendengar nama sahabatnya disebut-sebut, gadis yang sudah kehilangan kewarasannya semakin penasaran. Dalam benaknya kini timbul berbagai macam asumsi. Dari yang paling normal sampai yang membuatnya ketakutan sendiri.
Kakak Mei Ling.
Penjara Segel.
Jimat-jimat merah.
Semua informasi baru itu menyebabkan Rikka yang sebelumnya menjalani kehidupan biasa harus meninjau ulang hubungannya dengan si kecil Mei sekali lagi. Teringat dengan cerita-cerita anehnya. Kemampuannya yang luar biasa hingga tak terkalahkan saat bermain. Reaksinya yang aneh ketika ia memastikan eksistensinya sebagai manusia.
Wajahnya menjadi semakin pucat.
Sebenarnya... Apa yang sedang terjadi disini?
"Apa yang terjadi padamu, Han Ling?"
Rikka mencoba berkomunikasi.