"Anu... Chika-sama. Apakah tujuan kita masih jauh? Disini sudah sangat dingin, lho..."
Mengetahui tidak ada yang berkomentar sepanjang perjalanan di dalam cuaca ekstrem, Orion Marry yang sudah kehilangan kesabarannya memutuskan memecut tali kendalinya sedikit lebih keras. Maju ke barisan terdepan. Bertanya kepada pimpinan rombongan yang menunggang kuda putih.
Sungguh tindakan yang sangat berani sampai mengundang todongan senjata belasan prajurit elit yang ada.
Putri bungsu yang memahami perasaan kesalnya mengangkat tangan. Meminta para bawahannya berhenti. Lalu menjawab.
"Tahanlah sebentar, pedagang... Kau ini adalah orang yang memiliki pengetahuan, bukan? Seharusnya kau sadar bahwa wilayah Akatsuki berada jauh dari ibukota, terpencil diantara dataran tinggi di ujung barat. Tentu saja kita akan berjam-jam untuk sampai disana."
"Namun kita akan mati membeku sebelum sampai kesana jika kondisinya seperti ini!!"
"Setidaknya itu lebih baik daripada berakhir di tiang gantungan."
Kemudian percakapannya berhenti. Orion Marry mengalah. Para prajurit kembali menyebar. Bergerak dalam formasi menyusuri pegunungan Narkhaz yang tidak bersahabat. Beberapa kali hampir terkena longsor salju. Sisanya terjungkal karena mengambil jalur yang salah. Jatuh berguling-guling hingga memaksa pasukan penakluk berhenti sebentar. Menunggunya kembali dalam keadaan kotor sementara matahari sudah terbenam. Digantikan malam yang gelap dan lebih dingin.
Hanya Anna yang menyadari perubahan sikapku sepanjang perjalanan. Menatap diam-diam sambil bertanya dalam batin apa yang sedang terjadi. Ketika kuda kami berdekatan, akhirnya wanita itu melayangkan pertanyaan dengan alis mengkerut. Berusaha memastikan firasatnya.
"Amuro-kun... Kau kenapa?"
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Masih bingung dengan apa yang telah terjadi. Akan tetapi, begitu tersadar dari kecamuk pikiran yang melanda. Aku akhirnya membalas. Pucat.
"Aku tidak tahu."
Bahuku gemetar.
"Pasukan bayangan yang sebelumnya kusebar..."
"... Semuanya tiba-tiba menghilang."
Terperanjat Anna mendengar hal itu. Namun ia segera mengendalikan diri untuk tidak berseru. Meneruskan.
"A... Apa yang terjadi? Dari tadi kau menggunakan sihirmu?"
Aku mengangguk. Menatap telapak tangan yang dibungkus sarung hangat.
"Ya, ide yang diberikan oleh Chika-sama sepertinya bagus. Kita bisa memanfaatkan pasukan bayangan yang kumilikki untuk mengidentifikasi medan tempur terlebih dahulu. Apalagi kekuatan musuh sama sekali tidak diketahui. Kupikir aku bisa memperoleh informasi tentang Penjaga Kuil yang dikabarkan... Tapi gagal. Pasukan Bayanganku kehilangan kontak tepat ketika mereka memasuki pegunungan ini. Sekarang, aku tidak dapat memanggil mereka kembali."
Keringat dingin mengalir di wajah Anna.
"Jangan-jangan, ia diserang oleh hantu yang berkeliaran disekitar Kuil Akatsuki?!" Ia berseru tertahan.
"Keluarga Akatsuki menyimpan ribuan mayat disekitar kediaman mereka, bukan?!"
"Aku tidak tahu." Jawabku. Melepas pandangan kepada alam yang mengamuk: Badai bersalju, suhu minus, kabut putih tebal.
Seratus prajurit elit keluarga Aoi terus bergerak menyusuri pegunungan Narkhaz. Sesekali berhenti untuk melihat peta yang hampir saja dilempar angin. Mengangkat bendera kerajaan dan simbol keluarga tinggi-tinggi.
Beberapa saat kemudian kami akhirnya menemukan tempat yang dimaksud.
Daerah tersebut sebenarnya adalah lembah kecil yang berada diantara tanjakan pegunungan yang sama sekali tidak menarik. Memang luas. Tapi sebagian besar sudah kacau balau oleh sisa-sisa pertempuran. Tembok batu sederhana yang mengelilinginya juga. Di beberapa titik telah jebol untuk suatu alasan. Hal yang paling membuatku ketakutan adalah jumlah makamnya: terlalu banyak dan menyebar hingga luar pagar kediaman keluarga Akatsuki yang dikabarkan kosong sejak beberapa tahun lalu.
Ratusan batu nisan yang berada di bagian terluar tampak memiliki nuansa yang berbeda. Dipenuhi zirah-zirah berdarah. Dengan senjata tertancap di dekat gundukan tanahnya. Bendera kerajaan Ragnar yang sobek terlihat berkibar diatas beberapa kuburan yang agak mencolok tersebut. Terkesan baru.