Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #53

Pertarungan Dengan Monster Penghuni Sel

Wajah Chika Aoi sudah dipenuhi bercak darah saat aku membuka mata. Belum menguasai tubuh sepenuhnya. Masih trauma akan panasnya cahaya yang baru saja menelan. Bangkit untuk duduk diantara batu yang lembab.

"SADARLAH, BOCAH!! KITA BUTUH BANTUANMU DISINI!!"

Sebuah seruan terdengar berdengung di telingaku. Saat mengedipkan mata lagi, sebuah tubuh yang familiar sudah terpampang di depan. Mengucurkan darah yang hangat membasahi kedua kaki. Tak dapat bergerak dengan tatapan yang semakin lemah. Sebuah pedang dengan ukuran besar tergeletak tak jauh.

Suaraku bergetar.

"Yanagi-sama."

Sambil berkaca-kaca, Chika Aoi yang kedua tangannya meremas bahuku berteriak.

"Kau adalah penyihir, bukan?! Dengan kekuatanmu kau bisa menyelamatkan kakakku, bukan?!!"

Tanpa menunggu lagi aku segera mengangguk. Memejamkan mata. Meminjam kekuatan Shirayaki Yukki, Sentuhan Penyembuh. Berbagai luka yang bersemayam di tubuh putri sulung Vin Aoi berhasil dipulihkan ketika sebuah aliran hawa dingin menyebar ke seluruh tubuhnya.

"A... Aku selamat?" Ia mencoba memastikan keselamatan dirinya. Menatap Chika Aoi yang menangis terisak.

"Ka--Kakak!!"

Keduanya lalu berpelukan.

Kirisaki yang berada tak jauh dariku berteriak.

"Jangan berhenti, Amuro-kun!! Masih banyak orang dari rombongan kita yang terluka!! Pinjamkan kekuatanmu pada mereka!!"

Aku menengadahkan kepala.

Sel penjara kubus. Jumlahnya sangat banyak. Mungkin ratusan. Mungkin ribuan. Mereka melayang diantara udara yang kosong seolah sebuah rantai menahan bebannya disana. Dengan jeruji-jeruji dipenuhi kertas merah, kubus penjara itu bergerak pelan menuju lantai batu yang entah mengapa terlihat begitu rapuh sehingga orang akan berhati-hati untuk tidak membuatnya hancur ketika melangkah. Prajurit elit berseragam biru disekitar membentuk formasi bertahan melingkar dibantu ketiga anggota Dewa Kematian. Puluhan makhluk berkulit abu-abu kehijauan dengan gada, kapak dan tombak raksasa mengepung dengan mata merah menyala. Tampak beringas. Kelaparan. Hawa membunuhnya sangat terasa hingga tulang.

Tenggorokanku terasa kering.

Apa gerangan... Yang terjadi disini?!!

Makhluk ini apa?!!

"Jangan bengong saja, bodoh!! kau ingin membuat orang-orang mati menunggumu, hah?!! Mereka sekarat, Amuro-kun!!" Anna melompat ke belakang ketika mengetahui aku terpaku di tempat. Memukul punggungku kuat-kuat. Menyadarkanku dari sikap tertegun. Aku tersadar sedetik kemudian. Melihat belasan prajurit berseragam biru bergelimpangan dalam formasi. Bersimbah darah. Cederanya lumayan serius.

"A--Aku mengerti!"

Kedua tanganku terangkat.

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es Modifikasi: Hembusan Penyembuh!!

Dalam satu hempasan hawa dingin yang menyejukkan, belasan prajurit yang sebelumnya terluka berhasil dipulihkan. Pendarahan mereka terhenti. Rasa nyerinya menghilang. Sambil menatapku tidak percaya, mereka bangkit lagi membawa senjatanya, berseru,

"Te--Terima kasih banyak, bocah penyihir!!"

"Kami sangat terbantu!!"

Aku mengangguk pelan. Mengacungkan tangan ke makhluk-makhluk aneh yang mengepung. Menciptakan lingkaran sihir api tiruan. 

"Aku tidak masalah... Tapi makhluk apa ini?!!"

Meriam api yang kupinjam dari Orihara-san meledak ketika salah satu 'binatang' yang bersenjata palu melompat hendak mengacaukan barisan yang rapi. Terpental jauh ke tepi lantai yang licin. Tergelincir disana. Jatuh ditelan ruang yang gelap dan lembab. Tak terdengar lagi jeritannya.

Rhize-sama yang melenting di langit sambil menebas dengan tubuh terbalik berseru,

"'Gorvak'!!!"

Pedangnya kembali terhunus dengan darah hijau menetes. Sebuah kobaran api tampak menjilat-jilat dari mata yang tajam. Melepas cahaya merah.

"Mereka adalah monster jenis goblin tingkat tinggi yang sejak kecil sudah disiapkan untuk bertempur!!"

Kemudian tubuhnya melesat sekali lagi. Menghantam salah satu lengan makhluk di dekatnya hingga memercikkan api. Lantas menembusnya. 

"Kulit mereka menyerupai baja, jangan menebas sembarangan!! Kelemahan mereka satu-satunya hanyalah sihir!!"

Melihat pedang berlapis api komandan militer Ragnar yang berlumuran darah musuh, aku mengkonfirmasi kelemahan yang diberikan. Menciptakan lebih banyak lagi lingkaran sihir di sekitar. Langsung delapan sesuai arah mata angin. Berteriak.

"... Ba--baiklah!!"

Lihat selengkapnya