KYAAAK!! KYAAAK!!!
"Semuanya, pertahankan barisan sambil tetap menjaga jarak!! Pemanah, tembaki mereka sebelum sampai kemari!!"
Sedetik setelah makhluk kenyal dan lucu melompat gesit menuju barisan prajurit elit, semuanya kacau balau. Anak panah melesat bagai semilir angin. Belati-belati es yang kutembakkan dari atas menghujam bagai rintik. Serangan petir yang kupinjam dari Orion pula.
Akan tetapi, meski tubuhnya sudah dihantam berbagai macam serangan dan ditembus logam-logam, makhluk bernama Slime Parasit itu ternyata masih bisa bergerak lincah. Menghindari anak panah yang tersisa. Meluncur menuju prajurit pemegang tombak. Melompat ke arah kepalanya.
ZRASSH!!
Untung saja sang komandan, Rhize Mikado berhasil menebas sebelum suatu hal yang buruk terjadi. Pedangnya yang panas membelah tubuh kenyal menjadi dua. Menghanguskannya seketika. Menoleh kepadaku untuk memberi instruksi.
"API, AMURO-KUN!!"
Suaranya bertarung dengan jeritan slime yang semakin keras dan dekat.
"GUNAKAN API UNTUK MELELEHKAN TUBUH SLIME DI DEPAN!!"
"A--Aku mengerti!!"
Melihat puluhan monster hijau yang seharusnya menggemaskan sudah berada di hadapan pasukan tombak elit, aku berteriak kencang. Mengalirkan energi sihir di kedua telapak tangan. Mengangkatnya ke depan seolah memikul benda berat.
Tiga lingkaran sihir kemudian terbentuk di dekatku. Membidik slime-slime yang bergerak gesit. Berdesing kencang seolah mesin yang siap bekerja.
Nafasku tertahan.
Akurasiku mungkin tidak sebaik para pemanah elit di belakang.
Tapi, jika aku mampu membakar semua benda yang ada di hadapanku sekali tepuk, meleset sedikit tidak akan bermasalah, bukan?
"SEKARANG!! SEMUANYA MENUNDUK!!"
Aku memberi aba-aba.
Melepaskan kekuatan sihirku.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Tingkat Tinggi: Tembakan Meriam Api Raksasa, Tiga Kali!!
BUUUM!! BUUUM!! BUUUM!!
KYAAAAAAAAKKK!!!!
Momen itu akhirnya tiba.
Tepat ketika puluhan monster slime melompat sekaligus, menyergap bersama, aku melepas tiga tembakan meriam api yang pernah kulihat dari Orihara-san. Membumi-hanguskan segala sesuatu yang ada di depan--termasuk bangkai ogre yang belum dibereskan. Membakar gumpalan-gumpalan hijau yang sebelumnya tidak mempan ditembus beberapa senjata.
Melenyapkan mereka hingga menguap ke udara.
Aku terduduk lemas ketika ketiga serangan sihirku berhasil. Mengambil nafas melalui dada yang mulai sesak. Terasa nyeri di berbagai titik tubuh.
Jangan.
Aku berusaha memerintah tubuhku.
Jangan sekarang!!
Baru saja ketiga pimpinan rombongan menghela nafas lega, tetapi kemudian konstruksi ruangan raksasa kembali melepaskan sebuah reaksi. Menggerakkan dua sel berbentuk piramida dengan warna yang sama. Mendarat dari dua arah yang berbeda. Jeruji besi yang menghalangi celah sel tersebut berhasil terbuka ketika pasukan elit keluarga Aoi terburu-buru memasang barikadenya. Memunculkan puluhan monster slime yang baru.
Dengan gerakan yang lebih gesit. Dan jumlah yang lebih banyak.
Bahuku merosot putus asa demi melihat hal itu.
"Ya--Yang benar saja!!"
"Tembak!! Tahan slime itu supaya tidak datang kemari!!"
Akhirnya dengan refleks kami membagi diri menjadi dua kelompok. Rhize-sama bersama kedua putri Aoi menghadang slime hijau di sisi kanan, sementara aku bersama tiga pembunuh bayaran Dewa Kematian memimpin di sisi kiri.
Mendirikan kuda-kuda kokoh. Menatap slime-slime yang baru saja datang.
Sambil menyiapkan tembakan sihir api baru, aku bertanya kepada Kirisaki.
"Apa yang terjadi... Jika monster itu berhasil menyerang kita?!!" Teriakanku beradu dengan jeritan slime yang menjadi-jadi.
Sambil meringis menahan denging yang merusak telinga, pria yang menggunakan dua belati itu menjawab.