Chika Aoi hampir saja ditembus pisau tulang ketika semua musuh di hadapannya tiba-tiba berhenti. Membeku seolah es. Kedua tangannya tidak lagi kokoh memegang tombak. Gemetar setiap kali menyayat atau menusuk. Lecet parah. Menyakitkan sekali rasanya.
"A... Apa yang terjadi?" Gumamannya bercampur antara kaget karena dirinya hampir saja mati dan musuh yang diam bagai patung. Puluhan monster slime yang dijatuhkan dari atas juga mengambang tanpa pergerakan. Membuat komandan Rhize yang berada di sebelah ikut kebingungan. Kemudian berujar,
"Jangan-jangan... bocah itu...--"
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Tingkat Tinggi: Naga Api!!
"GRAAAA!!!"
Kemudian seekor naga dengan api-api menjilat terbang tepat diatas kepalanya.
Aku mengokohkan kuda-kuda diantara lantai batu. Mulai mengendalikan setelah baru saja melumpuhkan musuh dengan sihir waktu. Berteriak,
"Rasakan ini, monster jelek!!!"
"GRAAAAAA!!!!"
Naga api mengamuk hebat. Hanya dalam satu manuver, ia berhasil melahap seluruh slime parasit yang hampir saja menerkam dari atas. Menelan mereka dalam tenggorokan yang sangat panas. Membakar hingga jadi abu. Lalu naga api berbelok ke arah pasukan sisi kanan. Mengakibatkan orang-orang berseru panik. Namun Rhize-sama dan Chika-sama yang mengerti naga ini ulah siapa dengan sigap mengendalikan situasi. Menyuruh mundur.
"NAGA ITU ADALAH SEKUTU KITA!! SEMUA PASUKAN, MUNDUR!!!!'
Nafas api yang begitu panas langsung menyembur ketika sisa-sisa prajurit yang masih hidup berlarian meninggalkan medan perang. Tertatih dengan luka menganga. Merapat ke arah pasukan pemanah di garis belakang. Memasang tameng.
WHOOSSSHH!!
Nyala api yang demikian membakar langsung melenyapkan monster slime yang berhenti di udara. Monster mutasi yang menerjang juga. Sementara di sisi kiri, aku melepaskan sihir lain. Menarik nafas dalam-dalam.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es: Neraka Beku!!
Berpuluh-puluh massa es yang biru mencuat dari lantai. Ujungnya yang lancip menembus monster-monster mutasi yang sedang mengepung Anna dan Kirisaki di dekatku. Sementara Si Tukang Tidur yang terlanjur dilahap kepalanya kuperangkap dalam penjara es yang dingin. Mencegah gigi bergerigi tajam melukai lehernya. Menghalau dari perubahan menuju monster mutasi baru.
Wanita berambut pirang yang sadar diriku akhirnya melakukan sesuatu menghela nafas lega, membentuk alis hingga tampak seperti anak panah. Tampak kesal.
"Kenapa baru sekarang, sih?!!"
Kirisaki yang tubuhnya menjadi tameng supaya aku tetap terlindungi juga tersenyum tipis.
Kerja bagus, Amuro-kun.
Merasakan kekuatan sihir dahsyat bergemuruh di dada, energiku meledak secara abnormal. Jurus yang tak pernah kutemui sebelumnya tiba-tiba saja berputar dalam benak seolah langit tiba-tiba memberiku anugerah.
Aku berkata pelan.
"Terima kasih, semuanya."
"Terima kasih telah menungguku sampai kalian seperti ini."
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Cahaya Suci: Pemulihan Instan!!
Sinar cahaya putih tercipta diantara lingkaran raksasa yang muncul dibawah kaki. Begitu terkena cahaya tersebut, segala macam luka sembuh bahkan jika ia adalah buta seperti yang dialami oleh Yanagi-sama. Anggota tubuh yang putus juga diregenerasi kembali. Muncul seolah tunas. Stamina pulih seketika layaknya istirahat berjam-jam.
Demi melihat itu Anna yang terharu kedua kakinya berhasil dikembalikan menangis sesunggukan. Melotot kepadaku dengan mata yang basah. Mulutnya terbuka lebar.
"DARI TADI... APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN, AMURO-KUN?!!!! KAU LAMBAT SEKALI!!!"
Berada tepat di sebelahku, pria berambut pirang yang tak dapat dilihat semua orang berbisik mengingatkan.
"Tinggal setengah menit lagi."
Suaranya sangat serius.
"Lebih dari itu kau akan mati. Sihir terlarang sekalipun tak akan mampu menghidupkanmu."
Dalam hati aku menjawab.
Aku paham, kok.
Kemudian mengarahkan kedua tangan ke langit. Membidik sel-sel mengambang yang tersisa. Jumlahnya masih ada ratusan atau bahkan ribuan. Tapi aku tidak masalah dengan hal itu. Karena sekarang aku memiliki 1% kekuatan dari Sang Peniru yang tak tertandingi.
"ENYAHLAH KALIAN, MONSTER-MONSTER TERKUTUK!!!"
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Gabungan Tingkat Tinggi: Enam Naga Elemental!!
Lingkaran sihir raksasa berdesing di udara. Darinya, keluar enam naga yang mewakili enam elemen sihir berbeda: Air, petir, tanah, es, tumbuhan, dan angin. Semuanya meraung ganas. Berpencar ke arah yang kutentukan bersama naga api yang lebih dahulu menerkam. Mereka mengincar sel-sel yang jerujinya dipasangi jimat merah. Menghancurkan mereka melalui berbagai cara. Menjatuhkan mereka ke bawah. Ditelan kegelapan tanpa ujung.
Rhize-sama tak berkedip melihat pemandangan itu. Yanagi-sama dan Chika-sama juga. Sementara dengan tubuh pulih total, pasukan berseragam biru berseru-seru girang. Sungguh bahagia karena berhasil selamat setelah diserbu slime hijau yang ganas.
Teriakan mereka bergema setiap naga-naga elemental berhasil menjatuhkan sel di sekitar. Diantara mereka ada yang menangis. Atau bahkan melempar anak panah ke celah jeruji, berusaha menumpahkan kekesalannya pada makhluk di dalam.
Hingga dalam beberapa detik, seluruh sel yang mengambang di sekitar tempat kami langsung lenyap tak bersisa. Bersamaan dengan hal itu, tubuhku terasa semakin lemah. Langkahku berat. Tapi aku tidak berhenti, berseru kepada semua orang.
"SEMUANYA MERAPAT!! AKU AKAN MEMINDAHKAN KALIAN KE TEMPAT SEMULA UNTUK MENGHADAPI SI PENUNGGU KUIL, CEPAT!!"
Orang-orang tertegun sebentar ketika mendengar ucapanku. Akan tetapi, hanya dalam tiga detik, mereka berkumpul dengan gesit di dekatku--kecuali si Tukang Tidur. Untuk sementara waktu, ia tidak bisa kuajak.
Tinggal lima belas detik lagi.
"Amuro-kun, semuanya sudah siap!!" Chika Aoi berseru ketika seluruh pasukannya sudah berada di lokasi. Merapat di dekatku.
Aku berseru.