Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #56

Mei Ling

Bagian dalam kediaman keluarga Akatsuki lebih bersih dan rapi daripada yang kubayangkan. Masuk melalui pintu geser yang terbuat dari rangkai kayu dan kertas washi, sebuah ruang tamu besar menyambut kami dengan meja pendek di tengah. Beberapa guci dan pot tanaman berbaris di sudut-sudut. Lukisan kaligrafi kanvas terpampang di dinding. 

Berlari sambil menarik tanganku, gadis penjaga kuil yang sebelumnya membuat kami hampir mati tampak senang melihat tamunya terpukau. Tubuhnya berputar-putar dalam tarian menyerupai dansa. Lonceng emas di pinggangnya berbunyi setiap kali bergerak.

"Bagaimana, semuanya~?! Mei Ling adalah istri yang baik hati dan bertanggung jawab, bukan~?! Lihatlah mahakarya rumah yang rapi ini!! Aku yang membereskannya sendirian, lho~?!"

Kemudian ia pamer.

Aku menelan ludah. Tertegun membayangkan gadis kecil sekecil ini mampu mengurus rumah lima lantai seorang diri. Tapi kemudian Anna di samping menginjak kakiku. Berbisik.

"Hei, bodoh! Cepat puji dia!"

Aku hampir menepuk dahi demi mendengar hal itu. Mengangguk.

"Mei Ling... Kau melakukan semua ini sendirian? Hebat..."

Anna menjambak rambutnya sendiri secara tidak normal.

Terlalu datar!!

Lalu memberikan kode kepadaku.

"Biar kuajari!"

Mengelus-elus kepala Mei Ling. Mengangkat kedua sudut bibirnya.

"Wah, jika istrinya seperti ini, pria yang menjadi pendamping hidup Mei pasti akan sangat bahagia~?! Kakak jadi iri, deh...~"

"Bukan begitu, tuan pangeran~?!"

Hampir saja aku melompat karena wanita yang membersamaiku ternyata memiliki kemampuan khusus seperti itu. Untungnya aku masih konsentrasi, mencoba mencari cara yang terbaik untuk membuat gadis kimono merah merasa dihargai jerih-payahnya. Memikirkan sesuatu.

Akhirnya ia kupeluk dari belakang. Berbisik pelan di dekat telinganya yang dingin. Menghirup aroma rambut yang wangi.

"Jangan paksakan dirimu, Mei Ling."

Jantungnya berdegup kencang sekali. Hingga aku sendiri mampu mendengarnya.

"Aku tidak ingin dirimu terluka."

Kedua mata Mei Ling berputar-putar kebingungan. Untuk beberapa detik, ia kehilangan kendali atas tubuhnya, mulai mengigaukan hal-hal aneh dengan wajah seperti kepiting rebus.

"Pa... Pangeran?"

"... Me... Mei senang sekali jika pangeran begitu khawatir pada Mei... Tapi... kepala ini terasa begitu pusing... Mengapa Mei tiba-tiba jadi mengantuk, ya?"

Lalu ia jatuh pingsan. Jatuh begitu saja dibawah kedua tanganku yang menjepit lengan-lengannya. Memaksaku menggunakan kekuatan lebih untuk menopang berat tubuh gadis tersebut. Lantas kebingungan.

Kakak-beradik Aoi bersama Rhize-sama melongo tidak percaya menonton adegan itu. Mereka saling berpandangan. Setelah itu mengangkat bahu bersamaan.

Suasana tiba-tiba hening,

Aku mencoba memanggil si penunggu kuil. Berujar,

"Me--Mei Ling?"

Tapi gadis tersebut tetap terlelap.

Tidak dapat dibangunkan lagi.

"Woi, Mei Ling? Kau tidak apa-apa?"

Lanturannya semakin ganas.

"Pa--Pangeran! Jangan begitu! Jika kau tidak berhenti, Mei akan menjadi gila!!"

Wanita berambut pirang berseru kencang.

"MO--MONSTER!!"

Orang-orang menoleh kepadanya.

Tapi pembunuh bayaran pengguna cakar itu menyungging senyum bangga.

"KAU TERNYATA MEMILIKI BAKAT, AMURO-KUN!!"

"Anna, tenangkan dirimu!!" Kirisaki mengingatkan. Kedua belah belatinya kembali teracung.

"Musuh sedang tak sadarkan diri... Ini kesempatan kita untuk menyerang!!"

Seolah bangun dari alam bawah sadar, ketiga pimpinan rombongan yang teringat lagi dengan tujuan mereka menganguk mantap. Menyambut ucapan kirisaki. Mencabut kembali senjata mereka.

"Be--Benar juga."

"Kerja bagus, Amuro-kun!!"

"Sekarang serahkan yang disini pada kami!!"

Yang pertama kali menyerang adalah Chika Aoi. Wanita berambut hitam tergerai itu tidak sabar lagi membunuh gadis yang kimononya terulur hingga lantai. Membayangkan kematian ayahnya beberapa waktu lalu disebabkan dirinya. Menghunus tombak panjang bersamaan dengan rasa dendam di dada. Melepas salah satu jurus beladiri.

Aku melompat ke samping ketika calon kepala bangsawan Aoi melancarkan satu tusukan lurus yang dilakukannya sambil meloncat, membiarkan tubuh Mei ambruk di lantai. Lantas tombak Chika-sama mengincar lehernya yang dingin dan pucat.

TAAANK!!

Tapi sungguh sayang. Bukannya menembus atau melukainya, ujung tombak yang tajam itu berhenti tepat satu jengkal dari kulit Mei. Dihalangi sebuah pelindung tak kasat mata yang tiba-tiba muncul dalam cahaya terang. Membuat jurus wanita pengguna tombak gagal. Kehilangan keseimbangannya saat terperanjat. Jatuh berguling-guling diantara lantai tatami yang hangat dan hijau. Wajahnya kesal sambil mengaduh kesakitan.

"A--Apa-apaan itu?!"

"Dia memiliki pelindung?!"

Kemudian kakaknya, Yanagi-sama menyusul. Mengayunkan pedang besar yang memiliki ukuran sama dengan tubuh kecilnya. Mengirimkan jurus lain yang tak kalah mematikan dengan si calon kepala keluarga. Menarik nafas.

Aliran Barat: Tebasan Penghancur Batu!!

PRAAAANKK!!

Kali ini malah lebih parah. Alih-alih tertangkis atau semacamnya, cahaya pelindung yang menyelimuti tubuh Mei Ling menyerang balik. Mengirimkan getaran misterius saat mata pedang Yanagi Aoi mendarat di lapisannya. Mematahkannya dalam fenomena adu kekuatan yang tidak logis. Wanita yang mengaku berusia dua puluh tujuh tahun akhirnya pucat. Kedua matanya menyipit tidak percaya. Kakinya bergerak mundur sambil mengangkat pedang yang patah separuh.

"Mu--Mustahil."

Suaranya Yanagi Aoi bergetar.

Prajurit biru akhirnya malah ragu untuk menyerang. Memandangi senjata mereka masing-masing. Tidak ingin mereka patah.

"Pedangku ini... Terbuat dari titanium, bukan?"

Hanya komandan Rhize yang tidak menyerah setelah melihat keadaan itu. Dalam satu aliran sihir, ia menyalakan pedang panjangnya dengan api berkobar. Mendirikan kuda-kuda kokoh. Melesat dalam satu gerakan gesit. Menumpukkan seluruh berat dalam tebasannya yang mematikan.

Lihat selengkapnya