Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #57

Menggali Informasi

Sebenarnya aku sempat berpikir bahwa Mei Ling akan memotong sayuran. Mengiris daging. Meracik bumbu atau semacamnya. Namun, yang ia lakukan ternyata lebih sederhana: Meraih beberapa lembar jimat yang ada di laci dapur. Mengucapkan mantera ajaib sambil sedikit meniupnya. Sedetik berlalu, lembaran merah yang terlihat horor itu tampak silau oleh cahaya. Berubah seperangkat makan malam yang mewah. Daging domba panggang pedas. Salad buah dengan mayonaise. Jus jeruk yang diberi sedikit perasan lemon.

Aku kehabisan kata-kata untuk berkomentar.

Ce--Cepat sekali!!

Mei Ling merapatkan telunjuknya di bibir. Mengecilkan suara.

"Jangan beritahu yang lain, ya~? Anggap saja kita habis memasak bersama dengan romantis dan ini adalah hasilnya!"

Dalam hati aku mengeluh.

Tidak akan ada orang yang percaya makanan sebanyak ini dibuat dalam waktu singkat, tahu.

Terpaksa sekali aku mengangguk. Akan tetapi, dengan mengamati cara kerja gadis penjaga kuil mengeluarkan makanannya, aku jadi sedikit paham bagaimana kekuatan musuh berjalan.

Ia menggunakan jimat-jimat untuk melepaskan kekuatan tertentu. Melihat dari tragedi Rhize-sama, sepertinya kekuatan tersebut adalah hasil serapan dari sihir-sihir yang berhasil disegelnya. Makanan-makanan ini juga. Aku bertaruh ia telah membuatnya dari dahulu dan menyimpannya dalam selembar kertas merah. 

Benar-benar kekuatan yang serba guna.

"Tuan Pangeran, bisa bantu aku membawakan makanan-makanan ini~? Aku baru saja selesai menyiapkan semuanya, lho~!"

Mei Ling tidak bercanda ketika mengatakan hal tersebut. Baru saja bekerja, ia sudah menghidangkan sekitar lima puluh piring daging domba beserta salad yang diletakkan diatas mangkuk kecil. Gelas-gelas jus juga. Dipisahkan di tempat yang berbeda.

Meja masak dapur yang besar langsung penuh dengan makanan berjibun. Membuat perutku keroncongan karena belum makan sepanjang perjalanan. Memancing seringai jahil Mei yang mendengar suaranya. Menusuk perutku dengan jari.

"Ah, sepertinya pangeran tidak sabar menyantap masakan Mei Ling, ya~? Imutnya...~"

Aku memalingkan wajah sambil mulai mengangkat beberapa piring di tangan. Sebenarnya aku berharap pasukan bayangan ada disini untuk membantu. Akan tetapi, mereka baru saja hilang ketika kuperintah menyelidiki pegunungan Narkhaz. Memaksaku berjalan berdua bersama Mei Ling. Meletakkan hidangan makan malam di meja tamu setelah berbelok beberapa kali di lorong hijau. Melepaskan aroma wangi. Merebut perhatian semua orang.

"Semuanya, masakan Mei Ling dan pangerannya sudah selesai~! Bisakah kalian membantu kami mengangkut mereka dari dapur~?"

Adalah Chika Aoi yang melabrak meja tamu pertama kali. Melotot kepada kami berdua. Tatapannya tidak normal.

"Ja--jangan bilang... Kalian baru saja memasaknya bersama?!! Secepat ini?!!"

Mei Ling tersenyum manis.

"Tentu saja. kami gitu, loh~"

"MUSTAHIL!"

Anna tentu saja juga tidak percaya dengan omong kosong itu. Akan tetapi, demi melihat bahuku yang merosot, sepertinya wanita itu tidak tertarik menanyai lebih lanjut.

Keheningan menyergap ruang tengah yang hangat tersebut.

Dirasa tidak ada yang mau bergerak, komandan Rhize selaku kesatria sejati berjalan menuju lorong tempat kami muncul. Menjadi orang pertama yang membantu bahkan sebelum Mei Ling menunjukkan dimana dapurnya. Membuat pasukan elit Aoi saling tatap. Bergumam dalam hati.

Membantu musuh membawa makan malam? 

Mereka menghela nafas berat.

Jika Rhize-sama melakukannya, berarti kita juga harus ikut, ya?

Kemudian empat puluh prajurit biru yang tersisa menyusul komandan militer. Melewati Mei Ling yang sedang memeluk tanganku dengan sedikit takut. Lalu hilang ketika pintu di ujung lorong ditutup kembali.

Sekarang hanya tinggal kakak-beradik Aoi dan pembunuh bayaran tawanan yang masih di ruangan. Menatap hidangan yang panas dengan curiga. Kemudian beralih kepadaku. Meminta penjelasan.

Dirasa semuanya sudah beres, aku mengajak Mei Ling untuk duduk di salah satu titik meja ruang tamu. Berkumpul bersama Chika-sama dan Yanagi-sama yang telah berada disana. Membuka percakapan.

"Karena semuanya bergerak membantu, Mei Ling... Bagaimana kalau kau mulai berkenalan dengan orang-orang disini? Yang dikenal Mei Ling, hanya aku seorang, bukan?" Kataku sopan.

Ide yang bagus!

Anna mengepalkan tangan erat-erat. Memujiku melalui kedipan mata.

Chika dan Yanagi Aoi yang takjub membulat kedua matanya. Menelan ludah. Berharap gadis berkimono mau menurut tanpa banyak tanya.

Sayangnya, Mei Ling bukanlah orang yang mau membeberkan identitasnya kepada sembarang orang.

Ia terlebih dahulu memastikan.

"Memangnya, pangeran... Orang-orang ini apakah penting untuk mengenal diriku? Pangeran saja... Sudah cukup, bukan? Mei pikir mereka hanyalah budak, bawahan atau semacamnya...--"

"--Jaga ucapanmu, Mei Ling."

Nada suaraku berganti serius.

Aku sendiri tidak mengerti mengapa hal itu dapat terjadi.

"Mereka ini adalah rombongan keluargaku."

Gelas yang tadinya dipegang Mei langsung meluncur ke lantai tatami. Tumpah berkelontang. Kemudian gadis yang kimono merahnya gemetaran berseru patah-patah.

"Ro--Rombongan keluarga?! Jadi, ini adalah lamaran pernikahan?!!"

Aku mengangguk. Diam-diam menyesal karena harus berbohong kembali.

"Benar sekali, sayangku. Dua wanita berambut hitam ini adalah kakakku, Chika-neesama dan Yanagi-neesama. Sementara dua yang wajahya agak seram itu adalah ayah dan ibuku, Kirisaki dan Anna."

Tatapan Mei Ling jatuh kepada Kirisaki dan Anna yang mematung di tempat. Kedua pembunuh bayaran itu mendengus. Tak menduga aku akan mengarang cerita seperti itu. Tapi, kami ini tidak ada mirip-miripnya dengan dirimu, loh, Amuro-kun--

"Ti--Tidak mirip."

Firasat buruk Anna dan Kirisaki jadi kenyataan.

Di... Dia sadar!

Aku segera mengambil alih kembali situasi. Menjelaskan.

"Mei Ling ini... Bukankah dahulu aku pernah bercerita bahwa aku anak adopsi? Tentu saja wajahku tidak mirip dengan kedua orangtuaku."

Mei Ling terkesiap. Menyadari kesalahan fatalnya.

"Ah, benar juga! Pangeran itu... Sebenarnya adalah bangsawan yang dititipkan pada keluarga petani miskin, ya? Berarti mereka adalah keluarga pangeran yang kedua?"

Aku mengiyakan. Menjulurkan tangan untuk mengaktifkan sihir peniru, memutar ulang kondisi gelas jus Mei melalui sihir waktu, membuatnya kembali utuh di meja besar.

"Betul sekali." Kataku. Berusaha tenang.

Padahal aku hanya menebak!

Anna mengacungkan jempol.

Amuro-kun, kerja bagus!!

"Karena kalian adalah keluarga penting pangeran yang merawat di kala pangeran dalam keadaan sempit... Mau bagaimana lagi, Mei akan menjelaskan siapa Mei sebenarnya pada kalian."

Lihat selengkapnya