Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #58

Mantan Kepala Akademi Omnius

Pertempuran besar masih terjadi di ibukota Voltaire. Sembilan anggota Malaikat Malam diturunkan untuk menghadapi lima murid generasi empat puluh dari akademi sihir kerajaan. Ronde kedua telah berakhir sekitar dua jam yang lalu.

Tadinya pertempuran hanya meletus diluar tembok ibukota. Akan tetapi, dengan situasi yang tambah kacau, peperangan berpindah ke tengah kota yang padat. Gedung-gedung infrastruktur hancur. Jalanan besar retak. Diantara malam yang gelap, belasan penyihir tingkat tinggi adu kekuatan dengan lingkaran aktivasi yang saling susul-menyusul. Berpendar indah diantara sinar rembulan. Memekakkan telinga setiap kali menciptakan ledakan. 

Untung saja ibukota itu sudah kosong. Diungsikan seluruh penduduknya ke tempat lain yang lebih aman. Sehingga orang-orang bisa bebas menggila di langit-langitnya.

"Bagus sekali, Azaroth! dua musuh sudah tumbang!!" Berseru sambil mengganti dua pedang sucinya di udara, sang kepala akademi Violet Omnius memuji rekan yang berhasil mencari celah pertahanan musuh, menyusup memberikan tebasan mematikan, mencipratkan darah. Membuat dua korban, yaitu Banda dan Kageha Enma, memuntahkan cairan merah dalam wajah panik. Melempar mereka jauh ke bawah. Berdebum menghantam jalanan.

Rena yang senjatanya tinggal satu berseru tertahan. Menoleh ke sumber dentuman.

"Ba--banda-kun!! Enma-chan!!"

Utsusemi Ringo lekas-lekas menyelamatkan 'boneka' kesayangannya. Turun mendekat.

Sihir Waktu: Berhenti!

Sihir Cahaya: Penghakiman Ilahi!!

Sayang sekali. Bukannya membantu Enma yang sekarat, Si Nomor Delapan malah keluar dari formasi kelompok Malaikat Hitam, menciptakan kesempatan bagi jenderal besar Voltaire dan kepala akademi untuk melepas kombo mematikan. Menghantam tubuhnya hingga menabrak gedung terdekat. Tembus hingga berpuluh-puluh meter ke belakang setelah terkena tebasan Pedang Aurelia.

Runtuhan bangunan mengepulkan debu tinggi. Sangat tebal, menghalangi pandangan.

Satoshi Kirigaya yang menggunakan senapan laras pendek di barisan belakang formasi berseru demi melihat itu.

"Bodoh!!" Kedua matanya berkilauan biru. Tidak mengendurkan pengawasan. 

Wajahnya tampak kesal. Meski matanya masih awas dengan telunjuk siap menekan pelatuk.

"Jangan bergerak keluar formasi tanpa perintahku, Utsusemi!!"

"Kirigaya-kun, awas!!" Jade yang tak lagi menggunakan serum penambah kekuatan mengingatkan saat dua musuhnya tiba-tiba saja menghilang diantara kepulan debu. Bergerak dengan pelambatan Waktu yang menelan tubuh sembilan anggota Malaikat Hitam dalam radius besar. Memberikan tambahan kecepatan yang luar biasa pada musuh. Perbedaan gerak semu. Itulah konsepnya.

Si Nomor Enam tahu siapa yang akan diincar oleh duo orang akademi.

'Otak dari pergerakan formasi Malaikat Hitam'. Batinnya. Menelan ludah.

Mereka pasti mengincar Satoshi Kirigaya Si Nomor Empat.

ZAP!

Dan benar saja. Sepersekian detik setelah pikiran itu keluar, Master Azaroth melalui kecepatan tingginya muncul dibalik punggung remaja berkacamata yang belum siap dengan kehadirannya. Menghunus pedang tinggi-tinggi. Siap mengakhiri nyawa murid akademi yang otaknya cemerlang. 

Senjatanya berkilat-kilat ketika cahaya rembulan memantul di permukaannya.

Hanya saja, murid akademi Omnius malah menyeringai. Tampak sebelumnya telah menduga akan diserang dari belakang. Menjulurkan lidah mengejek.

"To--Tolong aku--"

"--Bercanda deh~"

DASH! DASH!

Bukannya berhasil menghabisi remaja yang dahulu dididik oleh Violet Omnius, Master Azaroth yang sekitarnya dipenuhi pecahan kaca familiar tiba-tiba saja dikepung oleh delapan anggota inti Malaikat Hitam sekaligus. Utsusemi, Enma, dan Banda yang sempat terkena serangan fatal juga ikut. Rupanya, drama serangan tadi hanyalah ilusi belaka yang dibuat si Jade. Belasan gedung di sebelah juga. Tidak ada yang tembus. Apalagi jalanan retak. 

Lux Veritas.

Violet hanya terlalu lama melepas kekuatan Pedang Suci Keempat yang mampu menyingkap segala ilusi tersebut. Memberikan peluang bagi musuh untuk bersembunyi dalam Dunia Palsu, membuat mereka terkecoh justru di saat yang genting.

Melihat kawannya terkepung, Violet hendak melesat menolong. Akan tetapi, gerakannya langsung dipotong oleh Rena yang telah bersiap melalui pedang terakhirnya. Memasang badan.

Kepala akademi menyesali kekeliruan yang baru saja diperbuatnya.

Mereka kini malah balik terdesak--

--Setidaknya itu yang dipikirkan oleh musuh.

Sudut bibir Violet terangkat.

"SEMPURNA SEKALI!! SEKARANG, AZAROTH!! PUTAR BALIK WAKTUNYA!!"

Master Azaroth mengangguk ketika Violet berseru seperti itu. Mengangkat kedua tangan. Rupanya ini adalah bagian dari rencana mereka.

Dari kejauhan, Fionna Vagust yang sudah siap dengan tongkat panjang melancarkan serangan pemusnah, merapal do'a-do'a. Dalam sekejap, empat roh elemental yang menerangi kota dengan cahaya sihir meraung dalam amarah. Bermanifestasi melalui wujud binatang purba yang sangat asing. Lalu dipadu dengan sihir waktu Azaroth yang aktif. Mundur satu detik tepat sesaat sebelum dunia palsu pecah dalam radius tertentu. Memberikan kesempatan bagi jenderal perang yang berperan sebagai pancingan untuk melarikan diri. Sementara empat makhluk purba menciptakan lingkaran sihir raksasa yang tingginya mencapai gedung sepuluh lantai. Menutup seluruh jalur pelarian delapan penyihir berjas hitam yang belum sadar apa yang terjadi. Mengakumulasi energi sihir api, air, angin dan petir dari simbol magis yang terletak di tengah bundaran aktivasi dari empat sisi. Membuat delapan anggota inti Malaikat Hitam mati kutu di ambang udara. Pasrah menonton sihir artileri wakil akademi melayang ke arah mereka.

Waktu tiba-tiba melambat.

Sangat sinematik.

Sihir Pemanggilan Roh: Empat Roh Elemental: Penjara Empat Elemen!!

BLAAAAAAAARRRR!!!

Tak terbayangkan lagi kekuatan macam apa yang menimpa delapan anggota organisasi kriminal tersebut. Meski berusaha menghindar atau menangkis, hantaman empat elemen dari roh sihir yang berbeda tetap melumat tubuh mereka. Menyebabkan mereka menjerit kesakitan. Tenggelam dalam lautan sihir yang kuat. Kedelapan penyihir itu mencoba meminta pertolongan. Namun, agaknya hal itu sia-sia. Suara teriakan kematian mereka ditelan oleh bunyi ledakan sihir empat roh yang sedang mengamuk. Tubuh mereka akhirnya tidak kuat lagi menahan serangan yang ada. Pasrah menerima jurus sihir roh yang ditembakkan. Lenyap dalam empat warna elemen yang menyala di malam Ibukota Optima. Tak terlihat lagi walau seujung jari. Disulap jadi debu dalam makna sesungguhnya.

Serangan artileri sihir berangsur mereda. 

Dari kepulan asap yang terbentuk, ratusan gedung terlihat rusak parah. Jalanan tak lagi berbentuk. Puing menumpuk di segala tempat. 

Daerah yang sebelumnya menjadi tempat musuh berada itu kini tak ubahnya gurun material bangunan. Bukit-bukit dan lembah berisi batu bata dan kayu. Api berkobar diantara gemeletuk petir kuning. Tiupan angin yang sejuk juga masih terasa. Bercampur dalam rintik air yang entah mengapa masih berputar di langit.

Lihat selengkapnya