Bunyi pisau dan garpu bergemerincing dibawah terpaan lilin yang disebar di sudut ruangan. Kehangatan merambat dari lantai tatami hijau. Meja makan memperlihatkan wajah-wajah yang antusias. Terkejut dengan rasa yang memanjakan lidah. Tak disangka, makhluk yang mengaku sebagai jenderal raja iblis itu jago meracik bumbu. Melihat tamu-tamunya bersemangat menghabiskan, gadis kimono merah menyungging senyum sepanjang makan malam. Sesekali menambah minuman melalui jimat yang memunculkan gelas-gelas. Menoleh kepadaku, berbisik.
"Bagaimana?" Ia bertanya. Tatapannya begitu jahil.
"Masakan istri pangeran... Tidak buruk juga, bukan~?"
Aku mengangguk meski agak enggan.
Diakui atau tidak, masakan ini adalah yang terlezat dalam hidupku.
Apakah ini karena pengetahuan ras iblis lebih maju daripada umat manusia?
Chika Aoi sebagai orang pertama yang selesai dengan cepat kembali mengingatkan.
"Mei Ling, sudah saatnya kau memberi tahu kami soal warna tadi."
Nampaknya ia sangat penasaran.
Gadis dengan obi mengikat di pinggang tertegun. Lupa. Dengan cepat menanggapi seraya menoleh kepada putri bungsu Aoi. Menyatukan telapak tangan sebagai simbol maaf.
"Ah, benar juga! Mei Ling hampir lupa!"
Kemudian ia memainkan rambutnya yang halus.
"Begini, nona Chika. Segala sesuatu di dunia ini sebenarnya selalu bergerak dengan ukuran tertentu. Apakah Chika-neesama pernah mendengarnya?"
Chika Aoi menelan ludah. Menatap saudarinya yang langsung mengangkat kedua bahu. Menyahut.
"Tidak."
Mei Ling tersenyum.
"Sebetulnya ya... Meja, kursi, tembok, dan benda-benda yang sebelumnya kita sangka diam, jika melihat fenomena alam secara teliti, sebenarnya juga memiliki pergerakkan, lho. Osilasi. Dari pergerakkan yang kecil itu, sebuah getaran suara akan terbentuk dalam skala minimum. Memang tidak bisa didengar oleh manusia biasa. Tetapi, bagi diriku yang ras iblis, suara yang lembut itu cukup untuk menciptakan bayangan spasial dalam pikiran. Membuatku seolah dapat 'melihat' dunia. "
Keheningan.
Semua orang hampir tidak memahami apa yang baru saja dikatakan si gadis penunggu kuil. Hanya saja, demi melihat kenyataan bahwa ia bisa beraktivitas normal layaknya makhluk berpenglihatan normal, mereka berusaha percaya. Mengangguk-angguk pelan.
Chika sebagai penanya bergumam pelan seraya menundukkan wajah.
"Berosilasi..."
Keringat dinginnya mengalir di pelipis.
"Bisa seperti itu juga, ya?"
Dia berpura-pura paham.
Mei Ling mengangkat sudut bibirnya.
"Yah, kurang lebih seperti itu."
Penjelasannya dilanjut.
"Getaran benda bisa dipengaruhi oleh banyak hal. 'Resonansi', 'ketidakseimbangan komponen', 'pengaruh gaya luar'--Faktornya banyak sekali."
Kepala Anna semakin pusing. Begitu pula dengan Kirisaki.
"Contohnya, gelombang cahaya yang terjadi dalam kasus warna. Sebenarnya, warna yang 'kita lihat' itu adalah dampak yang diberikan oleh cahaya ketika ia memantul. Tanpa cahaya, warna tidak akan muncul. Dan itulah yang kita beri istilah dengan kata 'hitam'. Saat kalian melihat hasil cahaya yang terpantul untuk membedakan warna-warna, aku mendeteksi warna tersebut dengan getaran berbeda yang muncul dari pantulan."
"Konsepnya berbeda. Tapi pada akhirnya kita sama dalam melihat dunia ini."
Kemudian ia menunjuk kimono yang merah.
"Contohnya, pakaianku ini." Ia berkata.
Semua orang melihat.
"Warnanya getaran yang dimilikinya sangat rendah, maka warnanya merah. Berbeda dengan warna biru yang mendominasi seragam kalian. Frekuensi mereka tinggi."
Suaranya tiba-tiba berhenti. Tampak agak murung.
"Yah, meski terdengar hebat... Aku belum bisa menandingi 'generasi pertama iblis' yang memiliki indera paling kuat sepanjang masa. Fisik mereka tangguh. Sistem refleksnya tinggi. Instingnya tajam. Menurut legenda yang beredar di ras kami, seorang iblis kuno bahkan bisa membaca pikiran lawan bicara hanya dengan merasakan energi yang di kepalanya. Luar biasa, bukan?"
"Mu--Mustahil!" Anna berseru.
Tiba-tiba saja kakiku gemetaran.
Jangan-jangan... Mei Ling juga...
Gadis yang matanya tak memiliki kornea mengangkat tangan. Sadar tamunya panik. Cepat-cepat menenangkan.
"Tapi jangan khawatir. Aku belum bisa melakukan hal seperti itu. Kemampuanku terbatas. Namun aku bisa membaca pikiran orang lain melalui kemampuan segelku, sih..."
Buru-buru aku mengingatkan.
"--Mei Ling, mengintip pikiran orang lain itu tidak sopan."
Senyum Mei Ling padam. Digantikan wajah cemburut. Matanya menyelidik kepadaku. Kesal.
"Bukankah pangeran yang dahulu sering membaca pikiran Mei dengan 'Telepati'?"
Aku tersenyum kecut.
Sepertinya aku tidak asing dengan nama sihir itu.
Pernah mendengarnya di suatu tempat.
Ov Vanguard...
... Apa saja yang kau lakukan pada gadis ini?!
"Ah, yang itu." Aku berusaha tetap tenang.
Berkata tegas.
"Jika gadisku memikirkan orang lain saat aku bersamanya..."
"... Aku tidak akan tenang, bukan?"
Anna yang tadinya meminum jus dengan santai langsung menyembur ke Kirisaki. Menyebabkan pakaiannya basah kuyup. Yanagi-sama memandanginya jijik.
Mei Ling tidak bersemu kedua pipinya. Merasa malu.
"Pa--Pangeran!!"
Adegan makan malam yang menyenangkan pun berakhir. Puluhan prajurit biru bersama Rhize Mikado bergerak bagai pelayan. Membereskan piring dan mangkuk salad yang habis. Berjalan menuju dapur dalam barisan. Kirisaki yang pandai mengendalikan diri mengusap pakaian dengan kain yang diberikan Mei Ling. Sementara gadis itu tersenyum-senyum secara misterius. Memandangiku melalui tatapan aneh. Saat orang-orang kembali, ia memberitahu.
"Kamar-kamar ada banyak di lantai atas."
Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Tangannya menopang pipi yang hangat.
"Rombongan kalian akan muat disana dan aku bersama pangeran akan tidur di lantai satu!!"
Anna tiba-tiba mengangkat tangan. Menyela.
"Anu, Mei Ling. Pertanyaanku belum dijawab."
Kepala Mei Ling ambruk di meja.
"A... Ada apa, ibunda?"
Mata pembunuh bayaran berambut pirang menyipit.
"Kau belum menjelaskan kepada kami... Soal penjara dengan monster pasukan raja iblis dalam sel itu, bukan?"
Aku terhenyak.
"I... Itu benar."
Bagaimana kita bisa melupakan hal sepenting itu?
Yanagi Aoi menambahkan.
"Mei Ling... Tidak mungkin menyerang kami jika tidak memiliki alasan..."
"... Apa kami salah?"
Mei Ling pun tersudut ditengah pertanyaan yang mendesak tersebut, mengangkat wajahnya lagi. Membuang pandangan ke samping. Membuka mulut.
"Mei Ling hanya mengira kalian adalah manusia yang jahat. Itu saja."
Singkat dan padat.
Hingga membuat orang-orang mengangguk.
Aku sendiri membenarkannya dalam hati.
Alasan yang masuk akal.
"Padahal ada aroma pangeran yang kau cintai bersama kami?" Belum berhenti, Anna yang sepertinya pandai memancing terus mengorek informasi.
Mei Ling ekspresinya panik.
"A--Aku juga tidak tahu!!"
Lengannya terlipat di dada.
"Awalnya kukira pangeran yang datang itu 'palsu'... Sebagaimana yang sempat kurasakan beberapa tahun ini. Akan tetapi, saat aku melepas beberapa monster pada kalian, tiba-tiba saja aromanya menguat. meledak di penjara segel yang kubuat. Hingga aku sadar sadar bahwa pangeran yang asli sedang ada disini. Terperanjat di teras rumah."
Aku memicingkan mata.
'Pangeran yang palsu'.
'Tiba-tiba aromanya menguat'.
Jangan bilang... Itu adalah saat dimana aku menerima 1% ingatan kekuatan dari si pria berambut pirang?
Apakah ini hanya kebetulan saja?
Rhize-sama bergumam.
"Manusia yang jahat..."
Tatapannya tajam.
"Jadi kau tidak benar-benar berpihak pada kami, ya?"
Mei Ling mendengus. Membenarkan dengan anggukan.
"Tepat sekali, pamanda."
"Dalam versi kami, yang membuat kerusuhan itu sebenarnya adalah ras-ras lain. Termasuk manusia. Kami para iblis hanya membela diri dan memberi pelajaran pada kalian. Iblis adalah pusat iri semua peradaban di bumi, bukan?"
Kirisaki menyahut dengan komentar menusuk.
"Dan kau mengkhianati bangsamu hanya demi Ov Vanguard. Sungguh mengejutkan."
Pipi Mei Ling mengembang. Matanya melotot.