Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #60

Penaklukan Kuil Akatsuki

"Ketua, kita tidak boleh menyerah!"

Suara seruan terdengar keras di ruang tamu Akatsuki. Ruangan tersebut terang oleh lilin. Hangat dengan lantai tatami yang hijau. Sementara malam diluar terasa begitu dingin. Angin berhembus kencang diantara ribuan makam tua. Menerbangkan debu, menerbangkan salju.

Di dalam rumah, dua puluh perwakilan cabang keluarga berkumpul membahas sesuatu. Pria bergelar ketua, yang tak lain adalah ayah Rikka, terlihat berpikir keras. Bingung dengan masalah yang dihadapi keluarganya. Termenung dengan secangkir teh hangat berada di depannya.

"Aku tahu, semuanya." Katanya, setelah menghela nafas.

"Tapi, setidaknya akan kucoba sekali lagi untuk memberitahu kerajaan mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi pada kita."

Seorang peserta tiba-tiba menyela. Tampak paling muda dan pintar.

"Sebaiknya itu tidak ketua lakukan." 

Kata-katanya lantang.

Orang-orang menoleh. 

"Mata-mata yang kami miliki memberikan kabar bahwa militer keluarga Mikado sudah bergerak. Itu artinya, pintu diskusi dengan kerajaan sudah ditutup. Tidak ada jalan lain bagi kita untuk berbicara baik-baik. Mereka sudah siap berperang."

Peserta yang lain menggerbak meja.

"Padahal bukan kita yang mencuri Pedang Aegis!!"

"Benar! Apakah orang-orang dari kerajaan itu tidak bisa berpikir?!"

Hening.

Dua puluh perwakilan keluarga Akatsuki terdiam. Merasa kesal karena harus difitnah seperti ini. Tatapan mereka nanar.

"Memang benar bukan kita yang mencuri." Perwakilan paling muda berkata.

"Tapi anehnya penyihir pelacak kerajaan mengatakan bahwa aura pedang Aegis berada disekitar Kuil Akatsuki. Apakah mereka disuap?"

Orang-orang langsung menyahut.

"Mereka pasti disuap, tidak salah lagi!" 

"Dasar keturunan Ragnar! Padahal selama ini kita sudah membantu mereka!"

"Tenanglah, semuanya."

Ayah Akatsuki Rikka mengangkat suara ketika kerabat-kerabat jauhnya mulai emosi. Ia meminta mereka berpikir lebih jernih. Menundukkan kepalanya.

"Sebisa mungkin, kita akan menghindar dari pertempuran yang bisa mengancam nyawa keluarga kita. 'Selalu tenang dan bergerak dengan damai', itu adalah prinsip utama saat kita melakukan ritual selama ini, bukan?"

Orang-orang mengangguk demi mendengar hal itu. Menopang dagu dengan tangan. Memijat-mijat kening. Tapi percuma. Setelah lima menit berlalu, tidak ada cara lain yang bisa mereka pikirkan selain memilih bertempur, atau berakhir di tiang gantungan.

 Pemuda yang semangat perlawanannya paling kuat berbicara kembali. 

"Tidak mungkin, ketua."

Sorot matanya serius dan mantap.

"Tidak mungkin kita mencari alternatif lain di keadaan yang semakin genting ini. Instingku mengatakan sebentar lagi pasukan militer Ragnar akan datang. Kita harus segera mencari aliansi untuk memperkuat anggota kita sebelum semuanya terlambat."

Ayah Akatsuki Rikka agak keberatan dengan hal itu.

"Mencari aliansi..."

"... Itu berarti kita akan meminta bantuan kepada musuh-musuh kerajaan?"

Pria paling muda mengangguk. Beberapa anggota yang hadir juga dalam hati membenarkan idenya.

"Kerajaan Ragnar memiliki banyak masalah entah urusan di dalam negeri atau luar negeri. Pembunuh bayaran, bandit, kerajaan kecil di perbatasan seringkali bentrok dengan mereka. Jika kita berhasil membujuk orang-orang tersebut, bukan mustahil kita mampu bertahan dari serangan militer yang datang kemari. Menahan gempuran sedikit lebih lama."

Ketua diskusi menyahut.

"Dan itu adalah pemberontakan."

Orang-orang tertegun mendengar hal itu. Keringat mereka mengalir. Kulit mereka pucat.

Namun peserta termuda membalas.

"Kita tidak memberontak." Katanya. 

Matanya menyipit.

"Kerajaan duluan yang berkhianat karena menuduh kita sembarangan. Setiap perbuatan memiliki balasannya masing-masing. Kita hanya memastikan bahwa kerajaan juga terkena filosofi sederhana itu. Kita hanya menjaga kehormatan kita."

Dari balik pintu kertas yang berada di ruang tamu, Akatsuki Rikka yang penasaran membulat kedua matanya ditemani kakak sulung, Akatsuki Kaito, yang cemas menatapnya dari tadi.

Keduanya sedang menguping pembicaraan sang ayah beserta kerabat-kerabat yang tadi sore tiba-tiba berkunjung. Menurut informasi yang diberikan, keluarga mereka sedang dituduh oleh kerajaan telah mencuri pedang suci ketiga, Aegis, dan mereka disini untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Merasakan tegang yang luar biasa.

Sialnya, apa yang mereka dengar ternyata sungguhan.

Tuduhan itu asli. Dan keluarga mereka dalam bahaya.

Sepertinya, mereka sebentar lagi akan berperang. Mengangkat pedang. Menarik busur.

Keluarga pengurus ritual melawan kerajaan berkekuatan militer besar. 

Itu adalah pertarungan yang sama sekali tidak sebanding.

"Bagaimana, Rikka-chan? Kau mendengar sesuatu?" Akatsuki Kaito bertanya setelah mengamati adiknya yang tiba-tiba diam. Gadis tersebut menahan nafas seolah menerima sesuatu yang berat. Kedua tangannya melekat ke permukaan pintu. Telinganya ditempelkan dengan wajah menyamping. 

Perlahan, gadis itu menarik kembali kepalanya, menatap si kakak. Menjawab.

"Kabar itu benar, Kaito-niisan."

Lihat selengkapnya