Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #61

Harus Bersama Jimatnya

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Es Modifikasi: Penjara Es!!

KRAAAK!

Bertindak sebagai pembuka serangan, aku yang melesat sambil membawa sebilah pedang biru mengangkat tangan kiri. Mengalirkan kekuatan sihir yang sudah mulai pulih beberapa saat lalu, menciptakan lingkaran sihir yang bercahaya dibawah kedua kaki wanita bernama Han Ling.

Bongkahan es mencuat dengan ujung yang runcing. Dengan jumlah yang banyak, ia mengurung makhluk bertelinga lancip hingga tak terlihat lagi sosoknya. Tapi aku mengerti seorang jenderal perang kedua raja iblis tidak akan kalah semudah itu. Ia pasti akan melakukan sesuatu.

PRAAANK!!

Diiringi dentuman yang begitu keras, puluhan es yang mengurung Han Ling pecah berhamburan untuk melesat dalam serpihan-serpihan kecil. Akibat ledakan tersebut, ratusan monster yang berada di dekatnya ikut terkena imbas. Hancur tubuh beserta organ dalamnya. Terhambur diantara halaman Kuil yang penuh oleh batu nisan. Memercikkan darah yang membeku di udara. Berhenti seolah ia adalah lukisan diatas kain kanvas.

Han Ling terkekeh ketika es yang digunakan untuk mengunci tubuhnya terlalu mudah untuk dihancurkan. Tertawa.

"KALIAN PIKIR BISA MENAHANKU DENGAN JURUS SEPERTI ITU??!!"

Serunya tertahan.

Aku mendengus.

Sayangnya, dari awal tujuanku bukan itu.

Dengan kamuflase serpihan es yang menyebar bagai kabut, Mei Ling akhirnya bisa menyusup dengan mudah menuju kakaknya yang baru saja tertawa. Sepuluh lembar jimat sudah siap di tangan kanan dan kiri yang mungil. Melalui gerakan gesit, gadis itu menempelkanya ke wanita di depan. Mundur dalam satu hentakan kuat. Melayang kembali di udara. Mengaktifkan sihirnya.

Sihir Segel: Lepaskan Segel: Ledakan!!

BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!

Begitu kunci segel dilepaskan, kartu merah yang melekat di tubuh Han Ling menumpahkan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Melepaskan ledakan api yang menggelegar hingga menghempas beberapa prajurit yang tidak siap dengan kuda-kuda. Lantas menghanguskan seluruh sisa es yang berada disekitar wanita bertelinga panjang. Menenggelamkannya dalam cahaya kuning panas.

"Ba--Bagaimana?!"

Rhize Mikado berseru ragu. Kedua tangannya berusaha menahan panas yang menerpa wajah sambil meringis kesakitan. Baju zirah yang dipakai pria tersebut menghantarkan api yang berkobar di depan. Membuat tubuhnya kesakitan dengan suhu yang diberikan.

Semua orang menyipitkan mata saat api ledakan mereda. Digantikan abu yang menjadi hasil pembakaran rumah kayu tradisional. Sementara monster-monster yang tersisa hangus dengan kulit gosong.

"Ha... Adik sialan..."

Namun seperti yang diucapkan Mei Ling. Kakaknya itu benar-benar abadi. Awal ketika memperlihatkan diri, wanita tersebut memang kehilangan sebagian besar daging tubuh beserta tulangnya. Berdiri dalam wujud yang sangat mengerikan. Kemudian daging beserta darah yang terpisah dari tubuhnya bergerak-gerak sendiri. Merayap dibawah kaki. Menyatu kembali pada tubuh yang tunggal. Membentuk jaringan-jaringan baru. Merekatkan anggota yang sebelumnya teramputasi. Meregenerasi sel yang hilang.

Han Ling menyeringai saat dirinya kembali utuh. Satu-satunya hal yang tidak bisa ia sembuhkan adalah luka yang sebelumnya berada di dada. Masih menganga dan meneteskan darah. Tapi, dengan tubuh yang sudah beregenerasi, wanita bergelar jenderal perang raja iblis kedua lebih dari cukup untuk mampu melakukan 'sesuatu', berteriak.

"AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL KARENA TELAH MENGKHIANATI TUAN VORNHOLD YANG MULIA, MEI!!"

Sihir Pemanggilan Tingkat Tinggi: Cerberus!!

Sebuah lingkaran sihir putih tercipta dalam diameter besar. Dari cahaya yang meledak, seekor anjing berkepala tiga muncul dengan raungan yang membuat telinga berdenging. Tingginya menyamai lima lantai kediaman Akatsuki sebelum runtuh. Keempat kakinya begitu panjang dan bersisik tebal. Sementara bulunya tajam bagaikan duri-duri besi. Sambil menoleh kepada 'tuannya' yang baru saja memanggil, ia mengaum bagai seekor serigala lalu berlari ke arah Mei Ling. Mengincarnya yang masih mengambang.

Gadis berkimono merah menoleh kepadaku. Berseru,

"Kau lihat bagaimana Mei Ling melukai Han, pangeran?!"

Aku sempat terperanjat karena dipanggil saat monster bernama Cerberus sudah maju. Siap menerkam dengan tiga kepala yang berteriak ganas. Menjulurkan lidah-lidah panjang.

 Wajahku terangkat hingga bertatapan dengan Mei. 

Bingung sejenak.

Bagaimana cara... Melukai Han Ling?

Tapi aku tiba-tiba saja paham apa yang dimaksud oleh gadis tersebut dengan serangan ledakan sepuluh jimat merah tadi. Segera mengangguk. Merancang strategi untuk menghadapi si jenderal perang kedua raja iblis. Menggertakkan rahang menghadapi sorot matanya yang sinis.

Membalas si Gadis Penunggu Kuil.

"Aku mengerti maksudmu, Mei! Terima kasih!"

Kemudian menurunkan pandangan kembali. 

'Hancurkan tubuhnya hingga tak bersisa'.

'Cegah ia beregenerasi'.

'Lalu tusukkan pedang suci kembali ke dadanya'.

Itu adalah tiga cara yang kupahami dari percobaan serangan Mei Ling barusan. 

Namun, sebelum kesana, sepertinya kami juga harus memikirkan monster Cerberus yang baru saja dipanggil oleh Han Ling. Ukurannya terlalu besar sehingga dapat mencegah kami menyerang si wanita bertelinga lancip. Makhluk itu tidak terpengaruh oleh sihir waktu yang sedang berlangsung. Tampak sekali memiliki resistensi sihir yang tinggi. Kami wajib mengurusnya jika ingin menyergap Han Ling dengan lebih bebas. 

"Aku akan mengurus monster wanita itu!!" 

Mei Ling memberi arahan. Mengeluarkan ratusan jimat yang terbang di sekitar tubuh. Kain kimono merahnya berkibar dengan indah dibawah bulan yang bersinar tengah malam.

"Pangeran beserta yang lain... Cepat kepung Han Ling dan tancapkan pedang suci itu ke dadanya!!"

Dua puluh prajurit Aoi mengangguk pelan. Begitu pula Rhize yang menambah skala kekuatan apinya di bilah pedang. Yanagi-sama juga. Setelah memastikan Chika adiknya diletakkan di tempat yang aman, gadis tersebut mengacungkan pedang besarnya kembali. Berlari mendaki tumpukan material yang menggunung di tengah Kuil. Berseru sambil menatap lurus musuh yang tertawa lebar.

"KAU AKAN MENERIMA AKIBAT DARI MENYAKITI ADIKKU, WANITA SIALAN!!"

Ekspresinya sangat kesal.

Kirisaki dan Anna di dekatku bergerak gesit. Dengan senjata-senjata terhunus, mereka bergabung bersama barisan prajurit elit sambil menghindari sisa-sisa api yang masih merambat. Melewati celah-celah kaki monster Cerberus yang menghalangi. Berteriak kencang.

"SEKARANG, AMURO-KUN!! SIHIRMU!!"

Aku mengangguk. Memegangi pedang biru dengan kedua tangan. Mengambil ingatan kekuatan sihir yang berada dalam benak. Mengalirkan energi sihir ke matanya yang tajam.

"SEMUANYA, BERSIAP!!" Pintaku. Lantang.

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Modifikasi: Tebasan Neraka Api!!

Meniru sihir komandan Rhize, aku melompat tinggi sambil mengayunkan pedang ke arah bawah. Lautan kobaran api yang begitu besar melesat. Menjilat-jilat dalam redupnya malam. Dengan cepat, serangan tersebut melahap tubuh Han Ling yang tampak santai melihat dirinya diserang. Menarik nafas dalam-dalam.

Sebuah lingkaran sihir kuning berpendar-pendar dibawah kakinya.

Lihat selengkapnya