Sihir Cahaya Pelindung: Penghancur Segala Pelindung!!
Dengan pedang suci berada di genggamannya, Han Ling yang berhasil memojokkanku tiba-tiba saja memiliki kekuatan baru. Mengangkat kedua sudut bibirnya di hadapanku, mengayunkan pedang panjang nan lebar bak perisai.
Dari langit-langit halaman Mei Ling memberitahu dengan wajah yang panik.
"JANGAN TANGKIS PEDANGNYA!!"
Aku terkesiap.
Terlambat!!
PRAAANG!!!
Secara refleks, satu-satunya senjataku yang tersisa kuangkat dengan kedua tangan. Berusaha berpikir bahwa ia dapat menahan serangan musuh yang ada namun sial, dari jurusnya saja ia disebut sebagai penghancur. Maka tak elak, pedang biru pemberian Master Azaroth itu patah jadi dua. Mata Aegis tetap meluncur menuju wajahku. Aku menghindar tepat di detik terakhir sementara tanah yang menjadi sasaran tebasan baru berguncang hebat. Merekah dengan retakan lebar bagai jurang. Dan pusaka kerajaan itu tertancap disana sampai Han Ling kembali mencabutnya dengan mudah.
Melesat lagi kepadaku.
"BIARKAN AKU MENGHABISIMU DAHULU, BOCAH PENIRU!!"
Kedua tangannya mengayunkan pedang keras-keras.
SYUT!
Akan tetapi, sebelum serangannya dikerahkan, sebuah anak panah meluncur di udara dari titik buta. Melaju kencang diantara salju yang berguguran. Lantas mendarat tepat di leher jenderal raja iblis kedua. Membuat keseimbangan tubuhnya sedikit kacau. Mengakibatkannya tidak fokus. Melirik siapa gerangan yang baru saja menyerangnya.
"JANGAN BERHENTI, AMURO-KUN!!"
Dua puluh prajurit elit berseru. Dengan mata berkaca-kaca sekaligus melotot, mereka mengganti senjata dengan busur jarak jauh. Membidik Han Ling yang mengambang melalui akurasi tingkat tinggi. Menembus lehernya sebelum benar-benar membunuhku.
"TERUS SERANG WANITA ITU!! ANAK PANAH KAMI TIDAK AKAN MENYASAR KEPADAMU!!"
Han Ling agak geli mendengar hal itu.
"BODOH!!"
Matanya menyipit. Mematahkan batang anak panah dengan sekali genggam.
"KALIAN PIKIR ANAK PANAH BIASA BISA MELUKAIKU, HAH?!!!"
Salah seorang prajurit menyeringai balik, membocorkan apa yang baru saja dilakukannya.
"Sayangnya, nona... Itu adalah anak panah berlumuran Organofosfat, senyawa dalam pestisida!!"
Tawa Han Ling tiba-tiba berhenti saat nafasnya tiba-tiba sesak. Otot-ototnya lumpuh. Otaknya berusaha mengirimkan perintah namun nampaknya perintah itu tidak berlaku di seluruh selnya.
Bola mata jenderal perang tersebut melotot.
"Benar! anak panah kami memiliki racun yang bekerja dengan baik pada spesies seperti manusia--Syukurlah dirimu termasuk!!"
BRUAAK!
Dalam satu detik, tubuh wanita itu akhirnya malah membeku di udara, ambruk menabrak salah satu makam yang sudah tua dan rapuh. Lalu belasan anak panah lain menyusul menancap di seluruh tubuhnya. Menambah racun yang menyebar di dalam darahnya.
Aku tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti itu.
"MEI LING!! JIMATNYA!!"
Dengan segera, aku berteriak memanggil sambil mendarat dan berlari mendekati tubuh Han Ling. Kedua kakiku terasa sakit sekali namun aku tidak boleh berhenti. Setelah melenting di langit berkali-kali dengan indah, gadis penjaga kuil itu melesatkan salah satu jimatnya yang berwarna kuning, memerintahkan,
"Letakkan itu di dada kakakku lalu tusuk dengan pedangnya!!"
Lantas ia kembali menghadapi monster Cerberus. Meledakkan puluhan jimat merahnya di wajah-wajah mereka. Melanjutkan pertempuran.
Aku mengangguk, menangkap lembaran kuning bercahaya yang dikirimkan dari atas. Mengatur nafas yang semakin kacau. Dalam satu lompatan, aku menempel jimat kuning pemberian Mei Ling di dada musuh yang masih kaku, beranjak menuju pedang suci yang masih digenggam di tangannya.
Tapi musuh itu keburu bangun.
Matanya merah menyala--mungkin efek dari racun yang menggelora.
Rahangnya bergetar.
"AKU TIDAK AKAN... LUMPUH SEMUDAH INI!!!"
Sihir Pemanggilan: Panggil Kekuatan Monster: Pemurnian Total!!