Pagi yang cerah di Kuil Akatsuki dua puluh perwakilan keluarga cabang masih berbincang. Berbeda dari tadi malam, setelah menerima surat dari kerajaan, mereka sekarang berdebat mengenai siapa gerangan yang sudah menyerang pasukan komandan Sora yang bermukim di dekat pegunungan Narkhaz. Menurut kabar yang diterima, pasukan itu hanya dalam kondisi siaga dan sedang mengurus monster yang meresahkan warga di pinggiran kerajaan. Sama sekali tidak ingin menyerang Akatsuki.
Sebenarnya semua orang dari pihak kerajaan tidak memiliki bukti untuk menuduh bahwa keluarga penjaga makam itu yang melakukannya. Namun, dengan melihat fakta bahwa keluarga tersebut sedang mengadakan rapat internal dan memiliki pedang suci Aegis.
Akhirnya sembilan naga merah memberi kesimpulan bahwa hanya mereka yang mampu melakukannya. Terlebih satu-satunya keluarga besar yang mendiami pegunungan Narkhaz cuma mereka.
Di dalam rumah, ayah Akatsuki Rikka lagi-lagi melerai pihak yang bertikai. Wajahnya terlihat lelah dengan percakapan yang telah berlangsung sejak pagi buta dan ia malas melihat kerabat-kerabatnya saling tuding telunjuk.
Pria itu berujar,
"Sudahlah, semuanya... Jika memang tidak ada yang sedang menggerakkan kekuatan diantara kita, sebaiknya kita tidak usah saling menuduh."
"TIDAK BISA BEGITU, RENTAROU-SAN!!" Salah seorang perwakilan berseru. Sorot matanya serius.
"JIKA KITA BISA MENYERAHKAN ANGGOTA KELUARGA YANG TERLIBAT DENGAN PENYERANGAN TADI MALAM, MUNGKIN KITA BISA MEMBEBASKAN SEBAGIAN BESAR KELUARGA KITA DARI TUDUHAN PENGKHIANATAN TERSEBUT!!"
Ia menunjuk pria paling muda yang kemarin malam mengaku telah mengirim mata-mata dan bersikeras ingin melawan kerajaan.
"DAN PENGKHIANAT ITU PASTI ADALAH ORANG INI!!"
Orang-orang menoleh. Tidak berkedip.
Tapi pria yang dituduh tidak dia. Dia membalas.
"Justru orang yang pertama kali menuduh itu biasanya adalah pelaku kejahatan sesungguhnya, Obe-san."
Lelaki bernama Obe terkesiap. Beberapa orang berbisik di dekatnya.
"Be--benar juga. Bukankah Akatsuki Oba sebelum ini pernah menjalin kontak dengan kerajaan elf di Benua Terlarang? Jangan-jangan... Ia meminta salah satu penyihir hebat disana untuk melakukan sesuatu kepada pasukan komandan Sora..."
"HEI, JANGAN MENUDUH SEMBARANGAN!" Akatsuki Obe yang mendengar percakapan tersebut meraung marah. Mengakibatkan dua pria yang tadinya berbisik terperanjat ketakutan. Buru-buru saling menjauh.
Pria gendut bernama Obe menjelaskan.
"HUBUNGAN DENGAN KERAJAAN AVELORN ITU HANYALAH SEBATAS PERMINTAAN PRIBADI SUPAYA ANAK SEMATA WAYANGKU BISA DIOBATI KUTUKANNYA, TAHU!! BANGSA ELF MEMILIKI PENYIHIR-PENYIHIR PENYEMBUH HEBAT, BUKAN?!"
Perwakilan paling muda menyahut.
"Oh, ya? Bagaimana dengan belati pendek yang tadi malam kau letakkan di meja? Apakah itu juga bagian dari penyembuhan anakmu? Lambangnya jelas-jelas dari kerajaan Alevorn, bukan?"
"ITU HANYALAH OLEH-OLEH DARI SALAH SATU PETINGGI MEREKA, TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI!!"
"Tapi kau membawa senjata ke tempat sakral ini. Seharusnya kau dihukum--"
"SUDAHLAH, SEMUANYA!! HENTIKAN PERTIKAIAN INI!!"
Muak dengan apa yang terjadi diantara keluarga besarnya, ayah Rikka, Akatsuki Rentarou, berseru sambil membanting gelas keramiknya. Melempar sembarang ke depan hingga isinya tumpah menciprati beberapa peserta. Sementara matanya melotot marah kepada tamu-tamu yang dari tadi tidak bisa diajak bicara.
Dadanya bergemuruh.
"JIKA MEMANG TIDAK ADA YANG MENGAKU, BIAR AKU SAJA YANG MENYERAHKAN DIRI KEPADA PIHAK KERAJAAN!! KALIAN PULANG SAJA DAN TEMUI KELUARGA KALIAN DENGAN TENANG SANA!!"
Lalu ia bangkit untuk meninggalkan ruang tamu. Membuka pintu geser hijau-putih di salah satu sisi sebelum orang-orang bisa mencegahnya. Menemukan anak-anaknya ternyata sejak tadi menguping diam-diam. Terkejut melihatnya keluar ruang tamu. Namun Akatsuki Rentaroi tidak sempat memedulikan. Kembali ke kamarnya disertai hentakan keras. Berdebum.
Lalu kediaman besar itu kembali hening.
Beberapa detik berlalu, Akatsuki Kaito selaku pemilik otoritas diantara adik-adiknya berseru.
"Bukankah sudah kubilang untuk segera menjauh tadi?!"
Tapi adik-adiknya, termasuk Akatsuki Rikka, balas mengernyitkan dahi. Melawan.
"Yang mengajak kami kesini... Kaito-niisan, bukan?!!"
Lalu anak-anak Akatsuki Rentarou itu bertengkar di lorong. Sementara para peserta diskusi melanjutkan perdebatannya di ruang tamu. Saling berargumentasi siapa yang paling mencurigakan untuk melancarkan aksi tadi malam.