Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #64

Akhir Dari Kisah Gadis Penjaga Kuil

"Si... Siapa kamu?!!"

Suara ketakutan menyebar diantara halaman bersalju yang basah oleh darah, berantakkan oleh jasad. Tempias rembulan yang bersinar dibalik kabut dan awan menerpa kediaman yang hangus ditelan api. Badai yang dingin membuat kulit serasa ditusuk. Dibuat gemetar tak berhenti.

Sambil mencoba melindungi adiknya dengan merentangkan tangan, Kaito yang melihat bagaimana mudahnya si gadis misterius membunuh Akatsuki Obe cepat-cepat mengambil pedang yang tergeletak di undakan menuju teras. Menggenggamnya dengan satu tangan. Menghunus kepada sosok yang mengaku sebagai sahabat Rikka.

Gadis yang mengaku bernama Mei Ling terlihat tak begitu suka saat dirinya dihalangi. Jimat-jimatnya sudah siap mengambang di sekitar, namun lelaki di depannya kembali berseru, menganggapnya seolah penjahat.

"APA YANG KAU INGINKAN... DARI KELUARGAKU?!!"

Mei mengumpat dalam hati.

Padahal mereka baru saja kuselamatkan.

Tapi Gadis itu malah tertarik untuk mengompori lebih jauh. Tersenyum sinis.

"Rikka-chan."

Katanya singkat.

"Aku mau Rikka-chan..."

"... Diserahkan padaku."

Gemeletuk api terdengar pelan bersama gesekan angin yang ganas. Diantara darah yang perlahan mengering, Akatsuki Kaito dan adiknya sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan. Mereka saling tatap sejenak namun menggeleng bersama sebagai tanda tidak mengenal sosok yang berada di depan.

Parahnya, Mei Ling tidak suka melihat hal itu. Melesatkan satu lembaran merah di dekatnya. Meledakkan dinding kediaman Akatsuki yang berada di sebelah Kaito, mengancamnya.

"Kalian tidak akan mampu melindungi Rikka-chan dengan baik."

Gadis bernama Mei Ling melipat kedua lengannya di dada. Mengangkat dagu.

"Oleh karena itu, biar aku saja yang menjaganya di 'tempatku sendiri' yang tak jauh dari sini."

Meski ketakutan dengan ledakan yang sengaja dibuat meleset darinya, Kaito sebagai kakak menggeleng tegas. Menolak.

"JANGAN GILA!!"

Pedangnya masih teracung.

"MENYERAHKAN ADIKKU YANG TERAKHIR KEPADA ORANG ASING... AKU HANYA AKAN DIMARAHI LELUHURKU JIKA BERANI MELAKUKANNYA!!"

Mei Ling memiringkan wajah.

"He... Jadi, kau mau melawan?"

Puluhan kertas merah berputar-putar di sekitar tubuhnya. Berpendar-pendar terang seolah menyimpan ledakan-ledakan dahsyat dibalik lapisan tipisnya. Siap melaju dengan gesit jika sewaktu-waktu pemiliknya memberi perintah.

Akatsuki Kaito menelan ludah.

"Aku... Aku tentu tidak akan mampu."

Rikka di sebelah merinding ketakutan. Memegangi tangan kiri kakaknya yang gemetar.

"Ka... Kakak."

Kaito menggigit bibirnya sendiri.

"TAPI, SETIDAKNYA PERKENALKAN DIRIMU DAHULU, GADIS ANEH!!"

Ia menuding.

"KAU TIBA-TIBA SAJA MENGAGETKAN ORANG DENGAN JIMATMU YANG TIBA-TIBA MELEDAK, BODOH!! KAU PIKIR ORANG-ORANG TIDAK AKAN TAKUT?!!"

Mei Ling terkesiap. Akhirnya mengerti mengapa kedua orang yang baru saja ia selamatkan mendadak takut terhadap dirinya. Merenung sebentar dalam diam. Melekatkan tangan kanan ke dagu.

Masalah yang terjadi ternyata lebih sederhana daripada apa yang ia pikirkan: orang-orang ini takut terhadap kekuatan yang ia miliki.

"Ah, jadi begitu!" Mei Ling menjentikkan jari. Bola matanya membulat.

"Dengan kata lain... Jika aku bisa meyakinkan kalian bahwa aku adalah orang baik... Kalian tidak akan takut padaku, benar?!"

Kakak-beradik Akatsuki mengedipkan mata demi mendengar pertanyaan tersebut. Mereka ingin mengangguk. Tapi, sebenarnya dalam lubuk hati terdalam mereka akan ragu memikirkan bahwa gadis yang terlihat seperti psikopat ini adalah orang baik.

Lima detik berlalu, Akatsuki Kaito mengangguk pelan. Menurunkan pedang yang terhunus.

"Ba--Baiklah." Katanya.

Lihat selengkapnya