Dedaunan gugur bersama hembusan angin. Langit cerah berawan tampak indah dengan siluet biru di angkasa. Kelopak bunga menari sambil membawa semerbak. Diantara panorama alam yang segar, aku mendapati diriku bengong dengan keadaan tubuh babak belur. Kulit melepuh di beberapa tempat. Pakaian koyak dengan percikan darah.
Bola mataku membesar.
Ini... Dimana?
Aku bertanya pada diri sendiri.
Apakah aku... Sudah mati?
Pikiranku ragu.
Melepaskan pandangan ke sekitar, yang kutemui hanyalah barisan gunung dan bukit yang menjulang. Mencoba berjalan, rumput yang tingginya hanya sebetis menggelitik kulitku halus. Sementara diantara gumpalan awan sekelompok burung terbang dengan rapi.
Saat aku berusaha mencari seorang yang bisa ditanya, beberapa daun dan kelopak bunga tiba-tiba menghantam wajahku. Membuatku mengedipkan mata sejenak. Kelilipan. Lalu mendapati sebuah sosok sudah berdiri di depan.
Sosok yang sangat kukenal.
Ia tersenyum tipis.
"Ha... Harui-san?"
Dengan gemetar aku bertanya. Menyebut nama sosok itu.
Pelan-pelan mendekat. Aku mengucek mata berkali-kali.
Sosok wanita wakil perserikatan petualang di ibukota mengangguk manis. Rambut merah mudanya berkibar indah ketika angin datang menerpa. Seragam hijau yang berbentuk mantel masih membungkus tubuh yang cukup kecil. Mulutnya terbuka,
"Selamat datang kembali..."
"... Amuro-kun."
BRUK
Tak bisa menahan diri, dengan refleks aku mendekap tubuh Najimi Harui erat-erat. Melintangkan kedua lenganku di pinggangnya. Sementara air mataku mengalir. Menangis sesunggukan. Najimi Harui hanya mengangguk-angguk pelan sambil mengusap kepalaku.
"Cup... Cup... Jangan menangis, ya, Amuro-kun."
"Maafkan aku!! Akibat diriku yang lemah ini, aku tidak bisa menolong Harui-san waktu itu! Maafkan aku, Maafkan aku!!!"
Mengangkat wajahku dengan tangannya yang hangat, Najimi Harui berkata.
"Amuro-kun sama sekali tidak salah, kok."
Suara yang kukenal oportunis itu kini terasa begitu nyaman di telinga. Membuatku bertambah sedih. Mengingat kembali dahulu betapa tidak bergunanya diriku kehabisan tenaga saat nona Harui dalam keadaan sekarat. Pingsan sebelum dapat menyembuhkannya.
Najimi Harui menambahkan.
"Amuro-kun... Sudah melakukan yang terbaik, bukan?"
Wangi dunia antah berantah yang kukunjungi begitu sedap. Tempias mentari yang indah menimpa wajah wakil kepala perserikatan. Menimbulkan bayang-bayang di sisi yang lain. Mengakibatkan kedua mata wanita tersebut berkilauan bagai bintang. Cantik.
"Meski nyawa Amuro-kun terancam, Amuro-kun tetap bertarung dan menyelamatkan orang."
Ia membuang pandangannya. Agak malu.
"Menurutku, itu keren sekali, lho."
Mataku kembali berkedip, kini sosok-sosok lain muncul di samping Najimi Harui. Berturut-turut, ia adalah Yukki-san dan Akame-san yang langsung memeluk diriku. Menangis tanpa berkata sepatah katapun. Komandan Rhize yang telah terinfeksi hanya diam di tempat. Memandangiku sambil terkekeh bangga. Sementara di belakang, Yanagi Aoi meski sempat kesal, akhirnya ikut mendekapku bersama yang lain. Ketiga panglima Voltaire juga. Membuat diriku semakin tersedu-sedu. Gemetar di sekujur tubuh. Tak kuasa menahan kesedihan dan rasa bersalah yang membara. Membuatku benci terhadap diriku sendiri. Ingin rasanya mati di tempat.
Tapi mereka berbisik bersama. Seolah berusaha mengusir kesedihan yang melanda diriku.
"Jangan khawatir, Amuro-kun."
Suara mereka berdenging di kedua telingaku. Membangkitkan semangat. Membangkitkan keinginan untuk bertarung sekali lagi.
"Kami percaya... Amuro-kun pasti bisa melakukannya."
Bayangan kenangan indah bersama sosok-sosok itu menari-nari di benakku.
Kekuatanku terasa meledak-ledak.
"Karena Amuro-kun..."