Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #77

Dua Hari Di Ibukota

Empat puluh delapan jam berlalu di ibukota kerajaan Voltaire, Optima. 

Separuh lebih wilayah yang terbilang maju daripada kerajaan manusia pada umumnya hancur lebur. Menara-menara roboh. Tembok kota yang melindungi ancaman dari luar bolong di beberapa titik. Melihat ke jalanan, beberapa fasilitas dan infrastruktur vital milik Voltaire sengaja Dirusak. Istana kerajaan diledakkan. Dan api panas disulut di banyak tempat.

Diantara tumpukan puing yang berantakan, sosok wanita berambut ungu terlihat sangat kelelahan. Matanya merah berair. Sementara cairan darah perlahan menetes keluar darinya secara menjijikkan. Ditopang sebuah pedang yang cahayanya berkedip-kedip, wanita itu berusaha tidak ambruk sambil menyeringai karena seluruh musuhnya telah pergi. Memutuskan mundur. Dari kejauhan, empat penyihir berjubah putih datang menghampiri dengan wajah panik. Gelagapan. Buru-buru menyusul si wanita, yang tak lain adalah kepala akademi sihir Violet Omnius, yang baru saja menggunakan seluruh kemampuannya. Wanita itu nyaris saja berhasil membunuh musuh yang berusaha kabur. Tapi ia gagal, dan kini sedang menerima konsekuensi atas segala kekuatan yang dikeluarkannya barusan.

Wanita berambut ungu batuk-batuk dan menangis darah. Sedetik berikutnya, ia ambruk ketika wakil akademi di belakang berseru,

"VIOLET-SAN!!"

Sayangnya, wanita yang dipanggil Violet tak merespon. Dua belas pedang sucinya yang digunakan di awal pertempuran telah padam dari tadi. Kini, di sekitarnya mengambang dua belas pedang lain yang auranya berbeda. Memiliki hawa jahat yang membuat bulu kuduk merinding. 

Entah apa yang dilakukannya pada tubuh Violet, namun semakin lama pedang tersebut digunakan oleh si kepala akademi, tubuh beserta jiwa yang dimilikinya serasa diserang dari dalam dengan cara yang aneh hingga ia pingsan.

Dua belas pedang baru itu menghancurkan tubuh penggunanya dari luar maupun dalam.

"GAWAT SEKALI, HAYA!!"

"NONA VIOLET TERKENA KUTUKAN PEDANG ITU, MAYA!!"

Haya-Maya berhasil menyusul wakil kepala akademi bersama Master Azaroth. Penyihir kembar tersebut terperanjat ketika melihat kulit pimpinannya berubah menjadi ungu. Urat-urat darah yang tersembunyi dalam jaringan menegang. Membentuk garis-garis kasar yang mengerikan.

Wajah mereka berdua pucat.

"BAGAIMANA INI, HAYA-MAYA?!!"

"Ayo kita cari pertolongan terdekat pada penyembuh kerajaan, Nyonya Gleen!!"

Master Azaroth berseru lalu sigap memapah tubuh Violet yang bersimbah darah setelah menyarungkan kembali pedangnya. Tanpa memedulikan ibukota yang hancur, jenderal besar Voltaire itu berlarian diikuti kawan-kawannya dari akademi untuk mencari gerbang yang telah hancur. Menyusuri padang rumput yang luas sambil terengah-engah kecapaian. Hilang dibalik alam liar yang berada di luar ibukota.

Matahari telah terbit sejak beberapa jam yang lalu. Sinar terik yang dipancarkan menimpa wajah kepala akademi yang selama dua hari penuh bertempur dengan berani. Mengerahkan segala kemampuannya untuk merebut kembali ibukota. Mengusir sepuluh anggota inti Malaikat Hitam yang telah berbuat banyak kekacauan.

Akan tetapi, dengan pertempuran yang tak kunjung berhenti, wanita itu akhirnya terpaksa menggunakan kekuatan rahasianya. Memanggil dua belas pedang lain sebagai pengganti dari dua belas pedang suci pertama, yang seperti kata legenda, jika mereka digunakan terlalu lama, kutukan yang tersimpan di dalam bilah-bilahnya akan balik menyerang penggunanya. Menghancurkan tubuhnya. Mengutak-atik jiwanya.

Dua belas pedang Violet yang baru itu disebut sebagai '12 Pedang Terkutuk'. 

Dan, sesuai namanya, kini kepala akademi yang baru saja menggunakan mereka semua untuk bertempur habis-habisan harus menanggung 12 kutukan sekaligus dengan kondisi tubuh yang mengerikan.

Wanita tersebut butuh pertolongan khusus dari penyembuh terbaik kerajaan.

Jika tidak, bisa dipastikan sebentar lagi ia akan mati oleh kekuatan terlarang yang dimilikinya sendiri.

Suara serak Fionna Vagust terdengar bergetar.

"KUMOHON, VIOLET-SAN!!"

Air matanya menetes.

"JANGAN SAMPAI VIOLET-SAN..."

"... DIBUNUH JUGA... OLEH 'PEDANG-PEDANG TERKUTUK' ITU!!"

***

"Luar biasa! Sangat luar biasa!! Kukira tadi kita akan mati!!"

Berteriak sendirian diantara ruang tengah istana megah yang didominasi gelap dan bayang-bayang, anggota inti kesepuluh, Banda, mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. Wajahnya pucat. Kedua kakinya gemetar. Dari pertempuran yang sebelumnya terjadi, hampir saja ia lenyap dihantam kekuatan tingkat lanjut kepala akademi yang mendadak menjadi gila. Mengincar dengan sihir-sihir mengerikan yang tiba-tiba dimiliki. Tapi untung remaja tersebut masih memiliki rekan-rekan hebat yang bisa membantu. Membawanya kabur sebelum tewas meninggalkan nama.

Rena yang sekujur tubuhnya dipenuhi sayatan dan bekas luka tak tersembuhkan bertanya pada Satoshi Kirigaya, sang penyusun strategi. Ia tampak agak kesal dengan rencana kali ini. Sambil mengedutkan alis, wanita dewasa itu bertanya,

"Woi, bocah akademi." Panggilnya.

Lihat selengkapnya