"Kumohon, pangeran!! Bangunlah!"
Suara itu tak henti-hentinya memanggil. Beredar diantara tumpukan salju yang dingin. Dipudarkan oleh bunyi tiupan angin yang kencang. Diulang berkali-kali. Persis layaknya mantera.
Cercah cahaya timbul di ufuk timur sejak beberapa jam lalu. Memberikan sinar hangat yang menerpa wajah, menerpa badan. Menyebabkan senjata-senjata berkilat. Melihat ke tumpukan salju yang berada di sekitar kuil Akatsuki, sejumlah besar mayat terlihat bergelimpangan, bersimbah darah. Bola mata sebagian dari mereka terbuka lebar. Masih melotot seolah rasa sakit menghantui mereka sampai detik-detik kematian. Meninggalkan bekas yang khas. Membuat orang-orang ngeri.
"Jangan mati disini, pangeranku!!"
Air mata Mei mengalir hingga membentuk lintasan merah di wajah yang pucat. Kedua bahu gadis itu gemetar. Tangannya menggenggam tubuh bocah yang dari tadi sudah kaku. Tidak mau bergerak dan membuka mata. Kehilangan kesadaran setelah menghantam tanah dari ketinggian belasan meter.
Nafas bocah itu semakin lama semakin lemah. Nyaris hilang.
"Kalau pangeran mati disini, siapa lagi yang akan berdiri di samping Mei?!!"
Angin dingin menerbangkan anak rambut yang kusut. Sisa-sisa jimat bertebaran acak. Sejumlah orang yang berhasil selamat dari amukan jenderal iblis kedua beserta ratusan monster berbagai jenis tampak menangisi jasad-jasad yang mereka kenali. Kirisaki dan Anna menguburkan Si Tukang Tidur yang tidak lagi tertolong, menemukannya berada di antara ratusan monster yang berhasil kabur dari penjara segel. Sementara Chika Aoi memeluk adiknya yang tewas terbakar dalam keadaan mutasi, hanya meninggalkan setengah badan setelah tidak sengaja terkena ledakan meriam raksasa. Di titik yang tak begitu jauh, Olivia terlihat memanggil-manggil kakaknya yang telah menutup mata. Air matanya kering oleh udara yang dingin. Meski percuma, ia berusaha menyadarkan kakaknya yang tak lagi bernafas. Mencoba meyakinkan diri bahwa lelaki di hadapannya itu masih hidup. Tapi yang ia lakukan percuma. Dengan luka yang begitu besar, Orion tidak akan kembali untuk selama-lamanya lagi.
Belasan prajurit gotong-royong mencari kawan-kawan mereka yang gugur. Mereka mengumpulkannya di satu tempat dalam keadaan berbaris. Lalu mengubur jasad-jasad tersebut bersama ribuan batu nisan yang tersebar di halaman kediaman Akatsuki. Meneguhkan satu dengan yang lain. Meyakinkan bahwa kematian rekan-rekan tersebut tidak sia-sia. Dan setelah ini mereka akan melapor kepada keluarga mereka yang bersangkutan. Memberikan belasungkawa. Menceritakan betapa beraninya anak mereka bertempur di dalam Kuil yang terkenal angker.
Tangisan terdengar sahut-menyahut di halaman yang penuh dengan salju.
Malakor Vex atau Han Ling telah berhasil ditaklukan. Pedang Aegis beserta jimat kuning telah dipasangkan kembali. Wanita pemanggil monster tersebut akhirnya kembali tertidur dibawah kekuatan pusaka suci kerajaan yang berharga.
Akan tetapi, terlepas dari semua kabar gembira yang ada itu, harga yang diberikan tetaplah mahal.
Mahal sekali.
Banyak anggota rombongan penakluk yang kehilangan nyawa dan anggota badan. Kediaman Akatsuki hancur total. Ratusan makam dirusak oleh pertempuran yang berlangsung dahsyat dalam semalam. Pagar-pagar batu tua bolong di beberapa titik.
Setelah berusaha keras menyembuhkan dengan ratusan lembaran jimat ajaibnya, Mei Ling yang mendapati bocah lelaki yang berada di hadapannya memberikan respon tampak terkejut. Meski lemah, gadis tersebut sadar ia baru saja menggerakkan ujung jarinya yang dingin. Menelan ludah. Merasakan adanya harapan untuk menyelamatkan. Buru-buru menambah jumlah jimat yang dipasang. Melepaskan sihir penyembuhan tanpa henti sambil terus memanggil pangerannya sampai serak.
Keringat dinginnya mengalir.
"Pangeran!! Apakah pangeran mendengar suara Mei?!!"
Membuka mata yang terasa begitu berat, aku mendapati tubuhku memiliki suhu yang begitu dingin bagai mayat. Rasa nyeri merambat dari seluruh tubuh. Jeritanku pecah bersama dahak berdarah yang keluar dari tenggorokan. Sisa-sisa racun dan sel Cerberus yang ungu berhasil dimuntahkan. AKu duduk sambil dibantu Mei Ling yang memeluk erat seraya menangis tersedu-sedu. Bersyukur diriku berhasil diselamatkan setelah ratusan jimat penyembuh diberikan. Tak ingin melepaskan. Menempel bagai bayi yang minta digendong. Berseru,
"Syukurlah, pangeran... hiks... hiks... Syukurlah!!"
Bola mataku berkedip-kedip. Masih kabur memandang sekitar.
"Me--Mei... Ling?"
Begitu tersadar sepenuhnya, kondisi yang kulihat begitu tragis. Sebagian besar anggota rombongan tewas akibat pertempuran sengit melawan si Han Ling bersama sisa pasukan raja iblis yang berlangsung semalaman. Ratusan bangkai monster tergeletak bersama bau menyengat yang menjijikkan. Kuil Akatsuki yang sakral porak-poranda. Batu-batu nisan hancur. Pagar-pagar batu yang mengelilingi telah menyatu dengan tumpukan salju. Tak lagi berbentuk.
"Se... Semuanya..."
Pandanganku berhenti ketika melihat Orion Marry, si pedagang licik yang menemani perjalananku di kerajaan Ragnar itu berada di pelukan adiknya yang terisak kencang. Perutnya ditembus oleh pedang tulang si jenderal raja iblis kedua saat melakukan mutasi. Darah yang menggenang menyatu bersama salju putih. Merembes.
Pupil mataku mengecil.
"Orion-san." Bisikku pelan. Jantungku berdegup lebih kencang.
"O--ORION-SAN!!!"
Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk segera bangkit. Melepaskan dekapan Mei Ling dengan lembut. Menghampiri bangsawan berambut cokelat rapi tersebut dengan langkah pincang. Duduk di dekatnya.
Tapi segalanya sudah terlambat.
Dengan tubuh yang terluka parah dan tak segera mendapatkan perawatan medis, lelaki itu tidak lagi bernafas. Denyut nadinya kosong. Dan matanya telah tertutup. Sambil merasakan guncangan dan gemuruh emosi dalam dada, aku mengangkat kedua tanganku. Mencoba mengingat bagaimana dahulu pria pirang mengajari cara menghidupkan Shirayaki Yukki-Shirayaki Akame. Menggunakan tiruan sihir cahaya suci terlarang untuk memberikan Anugerah Jiwa--
"Hentikan."
--Tapi sosok yang mengaku sebagai Sang Peniru kembali muncul. Dengan tangannya yang dingin dan pucat, ia segera menghentikan tindakanku yang hendak memulai aktivasi. Menatap datar. Menyipitkan mata kepadaku.
"Jangan melakukan hal bodoh sekali lagi, Amuro-kun."
Suara berwibawa yang hanya dapat kudengar itu kembali mengingatkan.
Aku terkesiap. Hendak memberontak tapi tidak jadi demi melihat wajah orang di depan yang serius. Urung.
Lelaki itu berpesan. Hanya aku yang dapat melihat sosoknya disini.
"Jika melakukan Anugerah Jiwa di saat tubuhmu seperti ini..."
Ucapannya tertahan bersama tangisan yang berusaha kutahan.
"... Kau hanya akan kehilangan nyawamu sendiri sebelum selesai menghidupkannya, Amuro-kun. Pasrahkan saja. Segala sesuatu di dunia pasti ada harganya. Termasuk kemenanganmu pada malam ini. Jangan cengeng dan tataplah masa depan dengan mantap."
Sosok itu kemudian hilang. Meninggalkanku seorang diri bersama Olivia yang tampak begitu menyedihkan. Harus kehilangan salah satu keluarga yang disayanginya.
Gadis itu memang tak suka dengan cara si kakak yang memandang segala sesuatu dengan nilai harga dan keuntungan. Akan tetapi, Orion tetaplah kakaknya yang berharga. Ia tidak ingin kehilangan dirinya betapa cerobohnya lelaki itu membawa segala masalah besar kemari.
Olivia sangat menyayangi kakaknya.
"Si... Sial..."
Aku menggigit bibir sendiri karena merasa kesal, mengangguk pelan kepada sosok gaib yang tak lagi ada sebagai tanda paham. Merasakan diri ini tidak berguna untuk yang ke sekian kalinya. Menurunkan kedua tangan yang tidak jadi melakukan aktivasi. Menundukkan kepala.
"SIALAAAAN!!!!"
Di sudut lain, Chika Aoi yang tidak tega melihat sisa jasad kakaknya yang tinggal separuh menjerit histeris. Air matanya meleleh. Kedua lengan pakaiannya tak henti-hentinya menghapus pipi yang basah.
Komandan Rhize yang berhasil dilumpuhkan dan dihabisi secepatnya diberi penghormatan terakhir oleh para prajurit elit. Mei Ling yang berada diantara tumpukan puing melepaskan pandangan ke sekitar. Menghitung betapa banyak korban yang jatuh pada malam ini, meremas jimat-jimat yang ada di tangannya.
Menatap ke arah bawah. Bergumam dalam hati.
Seandainya aku bisa menyelamatkan lebih banyak dari mereka...
Gadis itu akihrnya malah menjambak-jambak rambutnya sendiri. Memaki kesal.