Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #79

Maukah Kau Ikut Bersama Kami?

"Pangeran... Akan pergi lagi? Meninggalkan Mei Ling sendirian disini?"

Setelah semalaman menangis tanpa alasan yang jelas, Mei Ling yang diberitahu akan keberangkatan kami kembali ke ibukota kerajaan Ragnar, Kurogane, sontak tatapan matanya kosong. Bahunya bergetar bagai terkena gempa. Kedua tangannya merenggut ujung pakaianku erat-erat. Tak bergerak sedikitpun dari posisi berdiri gadis tersebut.

Cahaya mentari menempias Kuil Akatsuki yang masih belum selesai diperbaiki. Puing-puing masih berserakkan dimana-mana. Sisa-sisa bangkai monster meninggalkan bau yang sangat menyengat.

Dengan berlalunya segala pertempuran dan tukar informasi yang terjadi disini, seluruh tujuan dari rombongan yang dipimpin oleh Chika Aoi telah tercapai. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk berlama-lama di wilayah utara yang cuacanya selalu ekstrem tersebut. Mereka ingin pulang untuk kembali melapor. Memberikan kabar duka atas gugurnya banyak prajurit kerajaan yang dibanggakan. Mengabarkan kepada petinggi-petinggi sembilan naga atas apa yang baru saja dilihatnya tadi malam.

Hal yang sama juga berlaku pada diriku. 

Setelah memperoleh seratus pasukan bayangan yang ternyata memang ikut disegel Mei Ling di penjara bawah tanahnya, aku ingin segera ke perguruan Hoshigiri demi menyelesaikan tujuan awalku pergi. Menepati janjiku kepada Shirayaki Yukki yang masih menunggu di ibukota. Sementara kedua pembunuh bayaran yang tadinya menyertaiku sudah lebih dahulu menghilang. Kabur diam-diam saat seluruh prajurit kerajaan Ragnar tertidur.

Berbeda denganku, kedua pembunuh bayaran tersebut memiliki catatan kriminal yang lebih banyak dan harus dipertanggungjawabkan ketika kembali. Meski berhasil selamat dari petaka Kuil Akatsuki, belum tentu kerajaan Ragnar akan membebaskan mereka begitu saja dengan mudah. Maka tak heran ketika matahari terbit, dua orang itu, Kirisaki dan Anna, sudah tak terlihat di atas tikar darurat dan selimut yang tadi malam mereka gunakan. Untung saja putri bungsu Aoi tidak begitu menanggapi dan memaklumi keadaan mereka. Melarang prajurit elit yang dimilikinya untuk mengejar jejak kaki yang ditinggalkan diatas salju. Memilih untuk tutup mulut. Berpikir akan mengarang cerita bahwa dua pembunuh bayaran berhasil kabur saat dirinya bersama pasukannya lengah.

Jika di masa depan aku bertemu dengan kedua pembunuh bayaran itu lagi, aku akan mencoba membayar jasa mereka dengan caraku sendiri. Apabila dimungkinkan, aku akan membayar kedua orang tersebut dengan harga awal yang telah disepakati, yakni empat ribu koin emas, ditambah dengan biaya kompensasi atas tertangkapnya kami di penginapan dan Tukang Tidur yang gugur. Mungkin aku harus mulai memikirkan bagaimana caranya bisa menghasilkan uang sampai lima ribu koin emas.

Suasana masih hening dan sunyi. Orang-orang tentu tidak ingin langsung pergi diam-diam tanpa pamit kepada Mei yang telah berjasa menyegel kembali jenderal kedua raja iblis untuk umat manusia. Meski itu semata-mata karena cintanya pada pangerannya, tapi secara tidak langsung Mei Ling telah membantu umat manusia supaya bisa hidup damai. Bayangkan jika gadis ini kalut, tiba-tiba mengkhianati pangerannya dengan melepaskan jenderal Malakor Vex. Tidak ada yang bisa menjamin kerajaan Ragnar akan tetap berdiri. Sebab, para pahlawan dari Voltaire sudah tidak ada lagi.

Menatap Mei yang wajahnya sembab dan basah, aku tidak tega membiarkannya diacuhkan sehingga memeluknya erat-erat. Meski hanya sandiwara, dalam lubuk hati terdalam aku juga menyimpan simpati pada sosok gadis polos ini. Merasa berdosa, karena dengan kebaikan dan ketulusan yang dimilikinya, aku malah memanfaatkan gadis tersebut untuk kepentingan diriku sendiri. Sungguh kejam.

"Maafkan aku, Mei."

Aku berucap di dekat telinganya.

"Tapi, aku masih memiliki urusan yang harus diselesaikan secepatnya. Aku janji akan menemuimu lagi ketika akan pulang. Tunggulah saja disini--"

"--Dahulu pangeran juga berkata seperti itu pada Mei!!"

Menyela dengan seruan yang keras, Mei Ling membentakku melalui nada yang penuh pilu. Suatu kenangan buruk yang terjadi pada dirinya di masa lalu masih menghantui pikiran gadis tersebut. Berputar-putar seolah yakin hal itu akan terjadi lagi. Menambah trauma yang kembali datang. Tak ingin melepasku pergi.

Mulutnya terbuka lebar.

Lihat selengkapnya