Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #80

Hoshigiri Kanata

Beberapa jam berlalu. 

Setelah memindahkan seluruh penjara segel beserta monster-monster yang ada di dalamnya melalui jimat-jimat ajaib, Mei Ling berjalan bersama kami sambil mengenakan jaket bulu yang tebal. Tak henti-hentinya bersenandung dengan tangan menggandengku erat-erat. Sementara belasan prajurit terus memandanginya lalu beralih kepada Chika Aoi selaku pimpinan rombongan. Menelan ludah.

"Chika-sama." Panggil salah seorang dari mereka. Agak pucat.

"Apakah hal seperti ini... Tidak akan bermasalah?"

Kedua mata berbulu lentik Chika Aoi berkedip sekali. 

Seraya mengedarkan pandangan di jalan bersalju yang ditutupi kabut, ia mengangguk. Menghalangi sinar matahari siang yang jatuh di wajahnya dengan satu telapak tangan. Seragam biru yang digunakannya berkibar bersama semerbak parfum ketika angin datang menerpa. 

Wanita tersebut menyahut.

"Tenang saja." Ucapnya santai. 

Menyungging senyum.

"Jika masalah yang kau maksud itu adalah kerajaan dan keluarga sembilan naga merah, biar aku yang akan mengurusnya. Tapi, jika masalah itu merupakan bahaya yang tersimpan di dalam diri Mei Ling, percayakan saja pada Amuro-kun. Dia adalah 'suami'-nya, bukan?"

Sebetulnya Chika Aoi sengaja mengeraskan suaranya ketika berbicara supaya terdengar oleh kami berdua. Mendapati hal itu tentu Mei Ling semakin salah tingkah. Membenamkan wajah yang memerah hangat. Mengakibatkanku ingin mengeluh. Tidak nyaman dengan kondisi yang sedang berjalan. 

Hanya saja, demi sandiwara yang harus dipertahankan ini, aku terpaksa tidak boleh melakukan sesuatu yang mencurigakan atau hal-hal yang bisa membuat gadis kimono merah kehilangan kendalinya supaya kami tetap aman.

Untuk saat ini, aku harus menjadi pangeran Ov Vanguard tiruan yang sempurna.

Tetap tenang. Dan tetap romantis.

"Ngomong-ngomong, semuanya. Apakah kalian yakin ingin kembali ke ibukota kerajaan Ragnar sekarang?" 

Tiada angin tiada ombak, tiba-tiba saja saat mengangkat kepalanya kembali, Mei Ling seolah mengingat suatu hal yang sangat penting. Bola matanya membesar.

Akibat ucapannya tadi, gerakan rombongan terhenti untuk beberapa saat. Menoleh untuk memerhatikan ekspresi datarnya. Terdiam di tempatnya masing-masing.

Salju berguguran di sekitar. 

Putri bungsu Aoi mengernyitkan dahi. Bertanya,

"Ma... Maksud Mei-chan?"

Sambil melintangkan kedua lengannya ke tangan kananku, gadis yang lonceng emas di pinggangnya selalu berbunyi saat bergerak memiringkan wajah. Menjawab,

"Pangeran Palsu Mei sedang ada di ibukota." 

Kalimatnya sangatlah singkat.

"... Meski samar. Mei Ling dapat merasakan kekuatannya yang sedang meledak disana. Sangat kuat dan mencolok. Mei Ling tidak keberatan menghadapinya, sih. Tapi, apakah kalian benar-benar ingin kesana?"

Nafasku terhenti demi mendengar istilah aneh itu akhirnya keluar kembali. Dengan hati-hati aku berujar pada Mei Ling. Menatap kedua matanya yang tak memiliki kornea.

"Pa... Pangeran Palsu Mei?"

Suaraku menyimpan sedikit rasa penasaran.

Gadis kimono merah mengangguk pelan. 

"Benar." Ungkapnya.

"Orang itu sudah berkali-kali mengunjungi Mei walau Mei selalu menolaknya. Dia adalah penyihir yang jahat. Meski mengaku sebagai pangeran, Mei tahu dia bukanlah pangeran Mei yang asli. Wataknya sama sekali tidak mirip."

Chika Aoi dan Olivia Marry meneguk lidah saat Mei Ling berkata demikian. Aku sendiri yang tahu diriku bukanlah 'pangeran yang asli' sontak ketakutan. Bulu kudukku menegang. Keringat dinginku mengalir. 

Ternyata bukan kami sendiri yang mencoba mengelabui si gadis penunggu kuil dengan bertingkah sebagai pangeran yang ia tunggu.

Sudah ada pihak lain yang melakukan hal serupa lebih dahulu. Sayangnya, ia gagal total dan dicap 'palsu' oleh Mei yang menyadari wataknya yang aneh.

Saat suasanya tiba-tiba tegang dan canggung, Mei Ling mengangkat kedua sudut bibirnya, berseru riang.

"Tapi tidak masalah!"

Orang-orang jadi terkejut.

"Karena sekarang Mei sudah memiliki pangeran yang asli disini, Mei rasa tidak apa-apa jika kita bertemu dengan si pangeran palsu itu. Biar sekalian ia merasa cemburu berat saat Mei bermesraan dengan pangeran yang asli--Ngoahahahaha!!"

Untuk ke sekian kalinya gadis penunggu kuil tertawa sendiri diantara kami. Mengisi kesunyian yang menyergap di wilayah pegunungan Narkhaz yang ekstrem. Merubah suasana yang terlalu tegang menjadi santai kembali dengan auranya yang kuat. Hingga orang-orang yang sempat takut menghembuskan nafas lega. Ikut berpendapat.

"Be--Benar juga. Jika pangeran palsu itu marah, kita tinggal mengadu siapa yang lebih kuat diantara dua pangeran Mei Ling, bukan?" Yang pertama berkata adalah Chika Aoi.

 Dengan tanpa rasa bersalah, wanita tersebut memberikan gagasan 'saling mengadu' kepada Mei Ling yang sedang riang-riangnya. Mengakibatkan gadis tersebut berpikir sejenak dalam diam. Kemudian menjentikkan jari. Berseru,

"I--ide bagus!!"

Firasatku buruk. Sangat buruk.

"Bagaimana jika nanti bertemu di jalan, kita akan mengadu siapa yang lebih kuat di antara pangeran yang palsu dan yang asli?!!"

Cepat-cepat aku menolak ide yang sangat gila tersebut.

Lihat selengkapnya