Mirip seperti bentuk istana Tenkakuden di ibukota, Perguruan Hoshigiri dibangun di puncak gunung tertinggi Narkhaz yang tentu saja beku. Suhunya lebih ekstrem daripada wilayah Kuil Akatsuki. Kedua daerah abnormal yang berada di utara kerajaan Ragnar tersebut sama-sama berada di perbatasan. Yang membedakan keduanya hanya letak di dalam peta. Jika Kuil Akatsuki berada menjorong di pojok sebelah kiri denah, maka Perguruan Hoshigiri terletak tak jauh darinya, menjorong di peta bagian tengah. Nyaris keluar dari batas teritorial.
Berlainan dari Kuil angker yang menyimpan ribuan mayat di bawah batu-batu nisan, Perguruan Hoshigiri lebih seperti pemukiman kuno yang memiliki alam liar dan kondisi geografis yang masih terjaga. Jurang-jurang dan rekahan tanah membelah jalan yang dilalui orang-orang, memaksa membangun jembatan. Tebing-tebing licin dan curam bersembunyi di balik kabut putih yang menyerupai awan. Nyaris tak dapat dilihat jika orang awam mendekat ke sana. Setelah melalui beberapa rumah warga setempat yang melekat di dinding batu di kanan dan kiri, Ribuan undakan berbaris dengan permukaan salju dapat membuat sepatu tergelincir. Gerbang masuk ditulis melalui aksaran kuno, terpampang di gerbang yang berada di depan barisan anak tangga. Sore yang menjelang menciptakan siluet jingga di langit.
Aku beserta anggota rombongan lain yang dari tadi berusaha bertahan tak bisa mencegah keluhan yang meluncur dari mulut. Berujar,
"Bu--Bukankah anda tadi bilang 'letaknya tak jauh dari sini'?! Tapi kita telah menempuh jarak berkilo-kilo!!"
Bahkan Mei Ling yang merupakan makhluk ras iblis menelan ludah. Menatap ribuan undakan panjang yang menanti di depan mata dengan ngeri. Berteriak histeris,
"MA--MASIH BELUM SAMPAI?!!"
pria yang disebut-sebut sebagai pemilik garis keturunan seni beladiri terbaik menyahut.
"Kita sudah sampai dari tadi, Mei Ling." Katanya.
"Namun kita belum benar-benar mencapai dojo Hoshigiri yang menjadi tempat tinggalku. Bersabarlah."
Ia lalu memulai langkah pertama mendaki gunung anak tangga meninggalkan rombongan.
Mei Ling membentaknya.
"Orang juga memiliki batas kesabaran, bodoh!!"
Meski kesusahan dan berkali-kali istirahat di tempat, pada akhirnya kami juga berhasil melewati ribuan anak tangga bersalju tersebut. Memaksa tubuh untuk terus bekerja dan tidak memberontak perintah otak. Mengusir kekesalan seraya memandangi parit raksasa yang mengelilingi kawasan. Tampak gelap, curam dan penuh duri es biru. Di bibir parit yang terletak jauh dari anak tangga menuju langit, beberapa hewan liar berbulu putih menggonggong kasar saat pandangan mereka bertemu denganku. Ganas dan buas.
Aku sempat bergidik--
"Serigala Putih Narkhaz."
--Namun Chika Aoi menjawab sebelum aku bertanya kepadanya. Kedua mata wanita tersebut menyipit perlahan. Lalu dengan santainya ia melambai kepada kawanan binatang yang berusaha melompat kemari tapi duri-duri tajam menahan gerakan mereka.
"Serigala Putih... Narkhaz?"
Senyum simpul wanita berambut hitam sepunggung terangkat.
"Mereka banyak berkeliaran di sekitar Pegunungan Narkhaz yang berbahaya. Biasanya hewan-hewan tersebut beraktivitas di luar teritorial Ragnar, tepat di balik wilayah perguruan ini. Setiap tahun mereka memang memakan korban jiwa dari pasukan yang bertugas. Tapi, jangan khawatir. Di bawah perlindungan kawasan Hoshigiri, kita pasti aman."
Setelah Chika-sama selesai menjelaskan, aku mencoba mengangguk paham. Mengalihkan pandangan kembali ke depan. Berusaha melupakan makhluk-makhluk barusan. Mengabaikan gonggongannya yang terdengar sampai di sini.
Satu jam menaiki tangga tanpa henti, kami akhirnya sampai di puncak Alpeno, gunung tertinggi yang berada di wilayah Narkhaz sekaligus lokasi perguruan Hoshigiri yang terkenal berada.
Mencapai anak tangga terakhir sambil menahan nafas, kami satu rombongan yang tidak pernah melatih fisik sekeras orang-orang Hoshigiri langsung terkapar dengan dada naik-turun. Beberapa prajurit pingsan di tempat. Dan Mei Ling yang dari tadi memaksakan diri mengeluh kakinya tak bisa digerakkan.
Di depan kami, tampak patung-patung pendiri utama perguruan berdiri gagah dalam posisi memegang pedang. Memasang kuda-kuda. Di sebelah mereka, curahan mata air panas alami muncul bersama uap yang terasa hangat dan menenangkan. Dataran yang begitu tinggi hingga menembus awan memperlihatkan pemandangan matahari yang sedang terbenam di barat. Langit yang biru bersih mengundang perhatian dan rasa kagum.
"Ca--Cantiknya!!"
Sebuah lukisan yang sangat indah. Setara sekali dengan susah payahnya kami mendaki kemari.
Seraya menyatukan tangan di belakang punggung, Hoshigiri Kanata selaku tuan rumah membungkuk dan membuka mulutnya. Sangat sopan dan berwibawa.
Ia berkata,
"Terima kasih telah menahan diri sejauh ini, semuanya."
Suaranya terdengar serak.
Kedua mataku terbelalak tak percaya mendapati apa yang baru saja kulihat. Chika Aoi dan prajurit elit yang masih bangun juga mengedarkan pandangan. Menikmati panorama yang tercipta di puncak gunung tertinggi Narkhaz dengan senyum melebar.
Lidah mereka kelu.
"Dan selamat datang..."
"... di Perguruan Hoshigiri yang selama ini kalian nanti."
***
Api yang dibakar di sudut ruang tamu dalam tungku terasa hangat hingga ujung kaki. Lilin-lilin dikeluarkan dalam mangkuk cekung yang ditata rapi oleh remaja berpakaian putih dan sabuk hitam. Sejumlah hidangan terpampang di atas meja sementara aroma lezat yang menyeruak darinya memancing nafsu makan.
Sup daging pedas.
Dengan wortel dan rempah-rempah yang mungkin diambil di sekitar pegunungan ekstrem, mereka menebarkan wangi yang sungguh berbeda dan asing. Berhasil meruntuhkan rasa sungkan kami yang kelaparan, menyebabkan kami buru-buru menyergap makanan tersebut bahkan sebelum dipersilahkan oleh si Tuan Rumah. Mengambil sumpit yang telah disediakan.
"SE--SELAMAT MAKAN!!!"
Satu suapan berhasil masuk ke mulut.
"E--ENAK!!"
Jika dahulu aku menilai masakan Mei Ling yang muncul dari jimat memiliki nilai seratus, maka masakan yang disajikan di dojo Hoshigiri poinnya seribu. Benar-benar tak tertandingi.
Gadis kimono merah sendiri yang memerhatikanku begitu lahap terlihat agak kesal. Merasa tersaingi. Akan tetapi, dia tetap lanjut makan menghabiskan jatahnya. Melupakan apa yang baru saja dipikirkannya. Bahkan tanpa rasa malu, gadis tersebut meminta tambah kepada seorang remaja lelaki yang berada di dekatnya. Mengancam dengan jimat merah yang mengambang melalui jemari. Melahap sup daging pedas kedua melalui cara yang bisa dibilang rakus.
"Umm... Semuanya?"
Hanya Chika Aoi yang dapat menahan diri untuk tidak makan tanpa sopan santun. Demi melihatnya, Hoshigiri Kanata terkekeh pelan. Menganggukkan kepalanya sebagai tanda mempersilahkan. Lantas putri bungsu Vin Aoi itu mencicipi masakan yang berada di hadapannya dengan hati-hati. Pelan-pelan menggunakan sumpit melalui jemari ramping. Lalu kedua matanya berbinar sambil menyentuh pipi yang hangat. Berseru,
"LU--LUAR BIASA!!"
Hoshigiri Kanata mendengus.
"Bahan-bahan dari wilayah ekstrem selalu memiliki kualitas lebih bagus daripada bahan yang selalu dimanja oleh alam dan sistem manusia. Kalian yang berasal dari ibukota kerajaan tentu akan kaget dengan rasa masakan kami yang luar biasa."
Orang-orang tidak tertarik untuk menanggapi ucapan pemilik dojo tertua di kerajaan Ragnar. Dengan cepat, mereka menghabiskan hidangan yang disuguhkan. Menegak segelas air putih segar yang diambilkan dari bongkahan es murni pegunungan. Memiliki mineral-mineral terbaik yang berusia ribuan tahun. Sangat baik untuk dikonsumsi setelah melalui proses pencairan singkat.
"Terima kasih atas makanannya!!"
Rombongan kami akhirnya malah kekenyangan. Beberapa orang memang tak sengaja cegukan--termasuk Nona Chika yang kukenal sebagai wanita paling anggun sejauh ini. Meski malu, mereka cepat-cepat menutup mulut. Tapi untung saja tuan rumah yang mereka hadapi bukanlah orang dingin dan sensitif. Pria di depan memaklumi tingkah tamu yang berlebihan menikmati jamuannya. Merapatkan kedua tangan di depan wajah. Secara khusus menatapku penuh misteri. Berkata pelan,
"Baiklah semuanya..."
Ia sengaja menahan ucapannya.