"Sang Peniru yang asli... Sampai sekarang belum mati?"
Nada jernih yang penuh rasa penasaran menyebar di antara taman bunga kastel Sylphira, kerajaan Avelorn, Benua Terlarang yang telah menutupi diri beberapa tahun terakhir. Rok panjang berenda putih berkibar anggun bersama terpa matahari yang hangat. Tanaman hias yang meliuk dengan bentuk abnormal terlihat indah di dekat meja krem di bagian tengah. Sosok gadis remaja polos tampak duduk tenang disertai sejumlah pelayan berseragam hitam. Di hadapannya, seorang wanita dewasa bertelinga runcing memegang sebuah buku cerita berwarna. Rambutnya putih pucat. Mahkota berlian yang berkilauan bersemayam di kepalanya.
Sosok gadis remaja itu, yang tak hentinya kagum dengan cerita dari wanita di depannya bangkit dari kursi. Merapikan rok yang terasa berat. Mengepalkan kedua tangannya ke langit.
Senyumnya melebar bersama dengan telinga panjang yang bergoyang.
"Kalau begitu... Sebagai calon pewaris tunggal yang diangkat di kemudian hari, Luna akan berusaha keras mencarinya!!"
Gadis itu berseru riang. Tampak percaya diri.
Wanita dewasa yang berada di kursi sama tidak berniat mencegah. Membiarkan gadis yang bersemangat meneriakan tujuannya ke awan nan jauh. Ikut tersenyum simpul. Mengangkat cangkir teh yang disuguhkan di meja krem di depannya. Mengangguk pelan.
Gadis yang polos meneruskan.
"Untuk menyelamatkan kerajaan kita yang rapuh..."
"... Kita akan bekerja sama dengan penyihir legendaris itu!!"
***
Di tempat lain.
"Kekuatan Peniru?"
Pemuda tampan dengan rambut pirang bertanya pelan, memastikan setelah menutup buku sihir yang sedang dibacanya, menguap agak ngantuk. Pakaian megah yang ia kenakan mengindikasikan betapa pentingnya ia berada di kerajaan. Di usianya yang muda, beberapa lencana penghargaan telah terima. Berkilat-kilat di bagian bahu seragamnya. Sementara lambang elang di bagian punggung terpampang bersama latar putih dan emas.
Simbol kejayaan kerajaan sihir manusia terhebat, Voltaire.
Setelah melakukan perenggangan otot sejenak, pemuda tadi kembali bertanya. Sorot matanya jatuh pada sosok pria bijaksana yang sedang bersandar di salah satu tepi rak buku. Menunduk.
"Bukankah kekuatan itu..."
"... Sudah tidak muncul beberapa tahun ini?"
Sesosok pria yang diajak lelaki tampan berbincang mengangguk.
"Benar." Katanya.
"Akan tetapi, saat Pangeran Lucian sedang menjalankan misi rahasia di perbatasan kerajaan Dwarf, kekuatan itu tiba-tiba bangkit di tubuh seorang bocah tak dikenal. Tentu saja kami telah mengkonfirmasi berita tersebut."
"Kalau tidak salah... Nama bocah itu..."
"... Takagi Amuro."
Pemuda yang dipanggil Pangeran Lucian menyipitkan mata ketika nama sebelumnya disebut. Suatu perasaan aneh muncul secara tiba-tiba di dalam dirinya. Beberapa detik, sudut bibir pangeran tersebut terangkat di antara tempias lentera perpustakaan di malam hari. Dari jendela yang terbuka, satu tiupan angin berhasil melambaikan anak rambutnya yang halus. Menerbangkan jubah putih emas yang ia kenakan. Menyibak beberapa halaman buku yang sedang dibuka di meja.
"Takagi Amuro... Ya?"
Ia lalu duduk. Diikuti pria yang sebelumnya hanya berdiri menyampaikan berita. Sambil bersenandung pelan dalam kesunyian, pemuda tampan berambut pirang merapatkan kedua tangannya di dagu. Menghela nafas pelan. Membuang pandangan ke sekitar.
"Jika Malaikat Hitam sengaja mundur dari ibukota, berarti jawabannya hanya satu, bukan?"
Wajahnya terlihat serius.
"Bocah itu..."
"... Ada dalam bahaya besar."
***
Penginapan kelas dunia yang megah itu bahkan belum sepi meski malam menjelang. Di lantai pertama, berbagai macam hidangan ditata rapi melalui meja mahoni dan piring-piring perak. Lampu gantung di langit menciptakan suasana romantis. Berbagai tokoh penting berkumpul untuk membicarakan hal-hal darurat yang menyangkut urusan orang banyak.
Akan tetapi, tanpa disadari tamu-tamu yang berkunjung, penginapan yang memiliki sebutan De' Paradise ternyata menyimpan suatu rahasia. Ia memiliki pelayanan VIP terhadap penghuni yang berada di tingkat teratas. Lantai lima. Mempekerjakan gadis-gadis 'segar' yang diimpor dari berbagai belahan bumi. Datang silih-berganti dari satu pintu ke pintu yang lain sesuai pesanan melalui petugas khusus. Sangat privat. Sangat rahasia. Ditambah dengan peraturan hukum negara yang penuh celah, Hotel De Paradise menjelma sebagai suatu wisata ikonik yang berada di kerajaan kepulauan terkaya, Aurelion. Tempat dimana orang-orang berlibur. Orang-orang kaya mencari kesenangan. Melampiaskan segala kelelahannya.
Tempat itulah yang menjadi tujuan utama sang kepala perserikatan di Optima, Claude Vincost. Salah seorang pejabat penting yang berhasil selamat dari penyerangan di ibukota.
Setelah memperkenalkan diri kepada resepsionis di lantai satu, pria gendut tersebut segera diantar sejumlah petugas untuk naik. Berkeinginan mengunjungi tamu paling penting di penginapan. Melewati tangga spiral. Bertemu dengan sejumlah penjaga yang menanyakan maksud dan tanda penghuni. Karena tidak memesan kamar, pria itu hanya menunjukkan secarik kertas berisi pesan serta tanda tangan resepsonis. Lima detik berlalu, penjaga berjas cokelat rapi membungkukkan badan. Mempersilahkannya lewat.
Akhirnya tibalah pejabat perserikatan itu di lantai tertinggi. Lagi-lagi mendapatkan pemeriksaan yang lebih ketat. Mencari lorong paling jauh yang berada di ujung bangunan.
"Berhenti."
Berhasil menemukan kamar yang dimaksud, langkahnya malah terhenti karena dua pengawal khusus yang sedang berjaga di depan pintu. Badannya besar. Entah memiliki izin atau tidak, mereka membawa tongkat sihir pendek di bagian pinggang. Kepala mereka sama-sama botak.
Claude Vincost mengeluh sambil mengeluarkan sesuatu dari mantel hijaunya. Menyerahkannya kepada dua pengawal yang berjaga.
"Kerajaan Voltaire." Kata pria gendut berkacamata.
"Surat rekomendasi itu ditulis langsung oleh Yang Mulia Will. Kalian bisa memeriksa keasliannya kalau tidak percaya."
Dua pengawal botak mengangguk pelan. Dengan ketelitian yang mereka miliki, sebuah gulungan kulit yang diberi stempel merah kerajaan mereka buka sambil memerhatikan detail-detail kecilnya. Mencium bau tinta yang khas milik kerajaan, tidak berbau menyengat. Meraba stempel yang dibubuhi supaya yakin itu bukan jiplakan belaka.
Satu menit berlalu, kedua pengawal berdehem pelan. Meminta maaf pada tamu yang baru saja datang. Mempersilahkan masuk sambil mengetuk pintu kamar tiga kali.
"Permisi."
Claude Vincost berujar sambil membuka pintu. Kakinya tenang melangkah masuk ruangan. Saat berada di dalam dan menutup pintu kamar kembali, ia melepas pandangan ke sekitar. Mendapati sesosok pria tertidur pulas di kasur mewah berselimut merah. Sementara beberapa wanita terlihat sedang bersamanya dengan fisik yang jelas berbeda dari ras manusia: Elf, Beast, dan Iblis. Sosok tersebut memesan tiga paket sekaligus.
Meski agak kesal dan mengumpat dalam hati, Claude Vincost yang selalu mengutamakan pekerjaannya daripada segala sesuatu berucap,
"Maafkan kami karena mengganggu kesenangan anda, Tuan Elyzard."