"Maafkan aku, Amuro-kun. Tapi, untuk permintaan yang itu... Aku tidak bisa."
Setelah melalui keheningan yang cukup lama, pemilik dojo terkenal Ragnar, Hoshigiri Kanata, menggeleng dengan nada menyesal. Ia berusaha tersenyum tipis meski sadar melakukan yang dilakukannya adalah penolakan.
Tadinya aku berpikir akan diterima dengan mudah. Namun, setelah mendengar pernyataan tadi, aku tertegun. Menelan ludah dalam-dalam. Bertanya,
"Me... Mengapa?"
Chika Aoi dan para prajurit biru yang lebih mengerti mengenai perguruan ini terlihat tak begitu kaget dengan keputusan yang diambil. Menundukkan kepalanya ke meja. Memilih diam.
Kanata-sama menjawab dengan hati-hati.
"Murid dari perguruan Hoshigiri hanya bisa diambil dari anak-anak yang memiliki potensi. Sejak dahulu, leluhur kami mengutamakan kualitas daripada kuantitas yang biasanya malah memperburuk sistem dojo dan citra. 'Masakan terbaik berasal dari bahan terbaik'. Hal itu juga berlaku dalam sistem pendidikan beladiri. Jika ingin menjadi murid disini, Nak Penyihir, satu-satunya cara adalah melalui tes fisik. Maaf, aku tidak bisa menerima permintaanmu."
"Jangan melakukannya, Amuro-kun."
Seolah paham betul aku akan meminta tes yang sedang dibicarakan, Chika Aoi memberanikan diri untuk menyela. Memperingatkanku melalui nadanya yang serius.
"Chi... Chika-sama?"
Kedua mataku berkedip.
"Jumlah korban jiwa yang jatuh akibat gagalnya tes perguruan Hoshigiri mencapai seribu remaja pertahun."
Mulutku melongo.
"Jangankan bocah sepertimu. Pendekar hebat seperti komandan Rhize dan aku sendiri saja tidak lulus. Beruntung kami masih bisa selamat--Apalagi dirimu."
Beberapa remaja di sekitar kami mendadak gemetar seolah terkena sengatan listrik. Memerhatikan mereka lebih jauh, kini aku mendapati bahwa anak-anak muda yang berada di sini memiliki banyak luka pertempuran yang disembunyikan di balik pakaian putihnya. Meski tak terlihat meyakinkan, aku terkejut mereka mampu melewati tes dan menjadi murid Hoshigiri. Di saat komandan Rhize dan Chika-sama justru tidak dapat melaluinya.
Seorang prajurit biru tampak keberatan dengan ungkapan putri bungsu Aoi sebelumnya. Berbisik lirih.
"No--Nona Chika... Sepertinya ucapan anda barusan agak..."
"Biarkan saja." Chika Aoi menyela.
Prajurit biru ketakutan.
"Aku hanya ingin memberikan anak ini sebuah kenyataan. Siapa tahu dengan hal tersebut aku bisa menyelamatkan nyawanya sebelum terlambat. Kita tidak ingin kekuatan peniru hilang secara sia-sia, bukan?"
Sebuah rasa takut merayap dalam pikiranku. Perlahan namun pasti, ia mencoba menggoyahkan keinginan yang tadinya sudah kubangun. Menggerogoti fondasi-fondasinya. Menanamkan ragu.
Tes masuk perguruan silat... mengakibatkan kematian ribuan orang pertahun?
Itu adalah kabar yang sungguh buruk.
Apakah seleksi ini... Memang semengerikan itu?
Hoshigiri Kanata tentu paham apa yang dipikirkan oleh Nona Chika. Khususnya mengenai fakta mengenai calon murid-murid yang datang. Untunglah, pria tua tersebut tidak berniat membiarkanku melaluinya dalam tubuh bocah yang masih belum tangguh. Ia ingin menawarkan hal lain. Berujar,
"Jika memang keberatan... Bagaimana kalau begini saja?"
Saat suasana menjadi canggung kembali, Hoshigiri Kanata mengangkat suara. Lelaki itu nampaknya memiliki suatu ide.
Aku yang hampir saja menarik permintaan tertegun.
Sosok gagah dengan rambut beruban berkata.
"Kau akan berduel denganku satu lawan satu."
Bola mataku membulat.
"Jika berhasil mendaratkan satu serangan saja, entah itu melalui senjata atau sihir, kuanggap kau sudah layak menjadi murid di dojo ini. Jika gagal, aku tak akan menuntut apapun darimu atau rombonganmu."
"Bagaimana? Ide yang bagus, bukan?"
Sekarang Olivia Marry yang malah khawatir.
"Menghadapi pemilik dojo langsung..."
"... Bukankah itu tambah buruk?"
Hoshigiri Kanata menggeleng.
"Tidak, tidak... Aku akan menggunakan syarat tambahan, nona." Ucapnya.
"Selama bertanding, aku sama sekali tidak boleh menyerang. Cukup bertahan saja sampai musuh memutuskan menyerah. Apabila terbukti melakukan serangan, maka aku yang akan kalah. Kau tertarik?"
Kata-kataku langsung meluncur dari bibir.
"I--Itu bagus sekali!!"
"Amuro-kun!!" Chika Aoi memperingatkan. Wajahnya sedang serius.
Sebagai mantan pendekar yang berusaha masuk dojo Hoshigiri, aku paham wanita ini mengetahui sesuatu tentang kekuatan pria bernama Hoshigiri Kanata di depan. Ia ingin mencegahku karena tahu duelnya akan sia-sia dan pemenangnya sudah jelas bahkan sebelum aba-aba dimulai.
Aku tahu betul apa yang ingin dikatakan wanita tersebut.
'Simpan tenagamu. Kita tidak tahu kapan musuh akan datang menyerang'.
Kurang lebih itu maksud tatapan mata biru Chika-sama yang berkilau.
Tapi, aku memiliki kehendakku sendiri.
"Jangan khawatir, Chika-sama."
Aku tersenyum tipis.
"Tidak seperti prajurit kerajaan yang hanya menggunakan kekuatan fisik dan senjata untuk menyelesaikan masalah, aku ini penyihir. Aku bisa melakukan apa yang tidak bisa kalian lakukan. Santai saja."
Kedua bahuku meninggi.
"Kanata-sama juga bukanlah orang yang terlihat ingin membunuhku. Aku yakin kali ini pasti aman. Aku hanya ingin mencoba. Hitung-hitung menambah pengalaman bertarung."
Raut tidak suka terlihat jelas di wajah Chika Aoi. Namun, dengan terbatasnya otoritas serta posisi yang dimilikinya di dojo Hoshigiri, putri bungsu Aoi memilih untuk tidak ikut campur lagi. Menghembuskan nafas berat sambil membuang pandangan ke samping. Lalu ia mengangguk tipis.
"Huh... Baiklah. Yang penting tadi sudah kuperingatkan."
"Terima kasih banyak karena telah mencemaskanku, Chika-sama."
"Jadi... Kau akan menerimanya?"
Pria tua yang sedang menunggu bertanya memastikan.
Aku mengangguk cepat. Menggenggam erat kedua telapak tangan.
"Ya!"
"Kalau begitu, mohon bantuannya... Kanata-sama!!"
***
"Mu--Mustahil!!"
BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!
Ledakan api berhamburan di tengah lapangan pelatihan Hoshigiri yang telah dilapisi pelindung buatan Mei Ling.