"A... Aku kalah."
Hanya ucapan demikian yang dapat terlontar dari mulutku setelah bertarung lumayan lama dengan pemilik dojo Hoshigiri. Begitu mendengarnya, belasan murid yang berada di pinggir arena bersorak. Merayakan kemenangan guru mereka yang sangat kuat dan keren. Sementara Chika Aoi yang tadi sempat khawatir menghela nafas lega. Bersyukur tidak ada hal berbahaya yang terjadi selama duel. Hanya Mei Ling yang mengomel-ngomel marah karena tidak terima pangerannya kalah. Membalikkan badannya sebal. Lalu gadis itu pergi entah kemana.
Di tengah lapangan pelatihan yang dingin dan berkabut, Hoshigiri Kanata melangkah maju, mengulurkan tangannya.
Pria itu berujar,
"Pertarungan yang hebat, Amuro-kun."
Pedangnya kembali tersarung.
"Meski masih belia, kau mampu mengeluarkan berbagai macam jenis sihir dengan kekuatan legendaris yang sering diceritakan itu. Sihir pahlawan kuno dari Voltaire benar-benar hebat. Untung saja aku tidak menghadapimu dalam versi dewasa."
Mataku mengerjap.
"Te--Terima kasih, Kanata-sama."
Meski agak kesal, dengan berat hati aku menerima uluran tangan pimpinan dojo di depan. Mengakui kemenangan yang diperolehnya. Melupakan ide untuk menjadi murid di perguruan ini. Berbalik badan. Menjauh dari si pria tua gagah.
Sebetulnya aku tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan kekuatan sihir yang tersisa, aku mungkin masih mampu menggunakan transformasi wujud menjadi Cerberus seperti yang kemarin kulakukan di Kuil Akatsuki. Menyerang balik. Namun, demi mengingat bahwa setelahnya aku pasti akan membutuhkan banyak penyembuhan dari Mei Ling dan menghabiskan ratusan jimat ajaibnya, aku urung. Tak ingin merepotkan banyak orang akibat keinginan yang konyol. Memilih menyerah saja.
kurasa yang begini akan lebih baik.
"Pertempuran yang bagus, bocah penyihir!!"
Beberapa murid yang tadinya menonton mengacungkan jempolnya padaku. Meski bersorak akibat kemenangan gurunya, ternyata anak-anak muda ini masih memedulikanku sebagai lawan yang tangguh. Memberikan semangat.
"Janganlah bersedih! Tadi itu kau sudah melakukan yang terbaik, bukan?!"
Walaupun benci menerima kekalahan di depan umum, aku mengusahakan diri menahan emosi yang masih bergejolak di dada. Memberikan respon.
"A... Aku mengerti."
Saat sampai di rombongan, beberapa prajurit elit segera menepuk pundakku. Berseru,
"Ah, sayang sekali, Amuro-kun! Padahal sebelumnya aku sempat mengira kau yang akan menang melawan pria tua itu!"
"Semuanya, kalian seharusnya paham tidak boleh memanggil Tuan Kanata dengan sebutan buruk seperti 'pria tua', bukan?"
Belasan prajurit biru pucat pasi wajahnya saat mendengar suara tersebut berbunyi.
Memutar bola mata sekali, kulihat si putri bungsu Chika Aoi sudah berada di depan dengan tatapan kesal yang berusaha disembunyikan. Memaksa pasukan biru yang berada di sekitar untuk menjauh. Sementara ia sendiri mendekatiku dalam seringai. Menambahkan.
"Jika tadi kau berani melakukan yang tidak-tidak di hadapan Tuan Kanata yang agung... Aku tidak akan ragu menghasut Mei Ling supaya tidak mau menyembuhkanmu, lho~? Sebelumnya kau berpikir akan berubah menjadi monster Cerberus sekali lagi, bukan? Mengakulah padaku, Amuro-kun~"
Olivia gemetaran melihat sikap Chika Aoi yang berubah total.
"Chi--Chika-sama... Mengerikan!!"
Karena aku tidak ingin berbohong, aku menyahut.
Kedua bahuku terangkat.
"Ya--Yang penting, aku sudah menyerah, benar?"
Chika Aoi mungkin belum puas dengan jawaban yang demikian. Meski bukan pengguna sihir hebat, wanita itu baru saja berhasil menebak isi pikiranku dengan insting dan firasat yang dimilikinya.
Untung saja ia tak berniat memperpanjang masalah. Mendengus pelan sebelum akhirnya berbalik meninggalkanku sendiri. Melangkah pada suatu titik lokasi yang agak jauh. Menghilang seperti si gadis kimono merah.
Menatap langit secara acak, tiba-tiba saja aku mendapati suatu bayangan. Awalnya kukira ia adalah seekor burung gagak yang memiliki ukuran agak besar dan sedang membikin formasi dengan beberapa kawannya. Akan tetapi, setelah memerhatikan secara teliti, bayangan tersebut ternyata bukanlah gagak. Ia adalah sesosok pria rambut pirang tampan yang sedang mengambang menggunakan jubah hitam dengan pinggiran merahnya. Memiliki mata biru yang berkilauan seumpama laut. Memerhatikanku dari langit seolah malaikat yang diutus tuhan.
Aku kenal sekali siapa lelaki tersebut, menghela nafas.
"Ternyata, meski memiliki kekuatan legendaris, aku masih selemah ini, ya?"
Mengeluh tertahan, aku mengusap wajah.
"Takagi Amuro..."
"... Memang pemilik kekuatan peniru terbodoh."
***
Perkotaan Kurogane sudah hancur lebur saat kedua pembunuh bayaran itu sampai ke sana secara diam-diam. Saat mengedarkan pandangan, mereka mendapati puing-puing menumpuk di beberapa sudut. Mayat prajurit bergelimpangan bersama warga sipil. Senjata-senjata berserakan dengan genangan darah yang merah.
Dalam kegelapan malam yang menyergap, dua sosok tersebut, yang tak lain adalah Kirisaki dan Anna, bergerak mencari tahu apa gerangan yang sebenarnya terjadi. Ingin secepatnya kabur ke negeri tetangga yang lebih aman. Bertanya-tanya dimana kemungkinan mereka bisa mendapatkan tumpangan atau transportasi terpercaya.
"A... Apa-apaan?!" Wanita berambut pirang tak bisa menahan suaranya. Bergidik ngeri saat sebuah bangkai manusia yang tertimbun puing tiba-tiba bergerak bagai hantu. Hampir saja tersandung di tengah jalan.
Kirisaki yang menyadari ada yang tidak beres segera bertindak. Setelah memastikan di sekitarnya tak ada tanda-tanda musuh, ia menghampiri mayat salah satu prajurit yang terkapar dengan darah menggumpal di mulut. Melalui keterampilan pembunuh, lelaki tersebut menyadari bahwa tubuh mayat yang diperksanya masih cukup hangat. Yang mana berarti kehancuran parah seperti ini baru saja terjadi beberapa saat lalu. Sekian jam sebelum ia dan Anna datang kemari.
Kirisaki akhirnya memiliki satu kesimpulan sementara: Pelaku pembantaian orang di ibukota masih berkeliaran di sekitar mereka. Jika ingin selamat, mereka tidak boleh bertemu dengannya atau rencana melarikan diri ke negeri tetangga akan berakhir.
Beberapa detik kemudian lelaki itu berpesan kepada rekannya. Serius.
"Selalu awasi langkahmu, Anna." Katanya.
"Sepertinya, orang yang bertanggung jawab atas kematian orang-orang ini tak begitu jauh dari tempat kita berada. Jangan lengah."
Kirisaki diam-diam mencabut dua belati tajam. Melesat dari satu tembok bangunan ke tembok yang lain. Bergerak dengan lebih hati-hati dan senyap.
Namun, sayang sekali. Bukannya mendapatkan pemukiman yang ramai untuk dimintai tumpangan, kedua pembunuh bayaran tersebut malah menemukan area ibukota yang memiliki kerusakan lebih parah. Dengan mayat-mayat yang lebih banyak. Dengan kondisi yang lebih sadis dan memprihatinkan.
Jika sebelumnya orang yang terkapar hanya mengeluarkan darah mereka dari lubang-lubang tubuh, sekarang tubuh mereka terkesan seolah baru saja diledakkan dari dalam. Organ-organ terpisah dan menghiasi jalanan yang retak. Bola mata mereka menggelinding bersama batu. Membuat Anna tak sengaja tergelincir saat menginjaknya. Berseru kesal,
"Yang benar saja!!"
Ia mulai memaki.
"Setelah terlibat dengan makar pedagang licik dan bocah peniru itu, sekarang kita harus melihat pembantaian yang terjadi di ibukota?! Apakah ini yang dinamakan takdir buruk?!!"
Wanita tersebut menendang-nendang tanah kesal.
Namun Kirisaki tetap memperingatkan.
"Kecilkan suaramu, Anna."
Wajahnya agak panik.
"Dengan situasi yang sunyi begini, orang bisa mendengarmu dari jarak yang cukup jauh, tahu."
Kabar buruknya, Anna tidak mau mengalah.
"Bagaimana lagi, bukan?! Dengan matinya Orion, kita tidak akan bisa menagih upah jasa yang sebelumnya dijanjikan! Olivia adiknya juga masih berada bersama rombongan Chika-sama. Argh... Jika begini terus, kita akan bangkrut, Kirisaki!! Pikirkanlah sesuatu!!"
"Tadi itu..."
"... Kau menyebut bocah peniru, nona?"
Kirisaki pucat pasi ketika sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya. Kedua tangannya bergerak sangat cepat. Hendak mengirimkan tusukan ganda mengincar sumber hawa membunuh yang begitu kuat.
Tapi terlambat.