"Su--Sudah kuduga pangeran itu adalah pria yang suka selingkuh!!"
Seolah belum cukup dengan segala masalah pelik yang sedang terjadi, ketika kedua tanganku masih digenggam Rin yang menatap dalam sorot mata misterius, dari atas Mei Ling muncul dengan pakaian tidur bergaris yang berkibar. Memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang pucat. Berteriak parau melalui nada sedih yang bercampur kesal.
Buru-buru turun dengan kedua alis berkedut, gadis tersebut memandangi sosok manis berambut hitam yang baru saja melamar 'pangeran'-nya secara terang-terangan. Mengirimkan tatapan membunuh yang pekat. Belasan jimat merah muncul seolah sulap. Mengambang landai di sekitar.
Firasatku buruk.
Sangat buruk.
"Dasar gadis murahan..."
"... Beraninya kau menggoda suamiku!!"
Kedua tangan Rin langsung tercabut dari genggamanku. Dengan wajah panik gelagapan, ia mengangkat keduanya sebagai tanda menyerah sebelum semuanya terlambat. Mencoba menjelaskan.
"Ri--Rin hanya bercanda!!"
Orang-orang juga kaget.
"'SU--SUAMIKU'?!!!"
"BOCAH INI SUDAH MENIKAH?!!"
Nafasku seolah terhenti. Jimat-jimat merah mulai mengeluarkan cahaya.
"JANGAN LAKUKAN, MEI LING!!"
"ENYAHLAH DARIKU, GADIS PENCULIK SUAMI!!!"
Sihir Segel: Lepaskan Segel: Ledakan Api!!
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Segel: Buka Segel!!
ZRRRUUUUUTTTT
Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Begitu kartu yang dikerahkan memunculkan sinar panas dari ledakan yang disimpan, aku balas mengacungkan tangan. Meniru apa yang dilakukan si gadis ras iblis. Menciptakan belasan jimat tandingan yang berada dalam kondisi terbuka. Saat ledakan terjadi, mereka segera menyerapnya dalam lembaran yang tipis dan penuh magis. Menyegelnya hingga padam. Mengamankan lokasi yang berstatus sebagai 'rumah orang' yang harus dihormati. Menyelamatkan Rin Hoshigiri yang sebelumnya nyaris dilumat.
Belasan jimat yang selesai melakukan tugasnya langsung lenyap di udara.
Dengan bahaya yang berhasil diamankan, sejumlah murid yang berada di pekarangan ambruk terduduk di lantai. Sekujur tubuhnya gemetar. Keringat dinginnya mengalir. Setelah mendapati keadaan sudah lebih baik, mereka berseru. Ketakutan.
"Tadi itu... Apaan?!!"
Lain halnya dengan Mei Ling.
Bukannya tambah tenang dan mengendalikan dirinya, gadis tersebut malah semakin ganas. Pangeran yang dicintainya baru saja menggunakan sihir untuk menyelamatkan seorang gadis cantik. Sudah pasti ia akan cemburu. Ingin meluapkan kekesalannya sekali lagi.
Mengangkat tangan dengan alis berkedut.
Bola matanya menatap sinis.
"Mei Ling, hentikan!!"
Akhirnya aku memeluk gadis tersebut. Mendekap tubuhnya erat-erat sambil mencengkeram kedua tangan. Berharap ia mau berhenti namun gadis tersebut ternyata memberontak. Balik melawanku sambil melepaskan tangan, membentak.
"Lepaskan Mei Ling!!" Gadis itu berseru. Matanya berkaca-kaca.
"Jika memang sudah tidak cinta dengan Mei Ling, lebih baik pangeran Ov Mei Ling hancurkan saja bersama gadis antah-berantah ini sekalian!!"
Pikiran yang sungguh pendek!!
Kartu-kartu merah kembali terangkat.
Wajahku pias.
"Tu--Tunggu, Mei Ling!!"
"Dengarkan penjelasan kami dulu!! Umm... Tadi itu kami hanya memainkan drama, lho?! Drama!!"
Gadis yang masih mengenakan pakaian tidur menyipitkan mata sambil menahan gerakan kartu. Dibalik perasaan benci yang meledak-ledak, ia pasti tidak mau menggunakan akalnya yang sehat. Termakan bisikan jahat yang seringkali menghancurkan. Membalas,
"Bohong."
Bahuku lemas.
"Pangeran pasti bohong!! Mei Ling tidak percaya lagi!!!"
Sinar merah berpendar-pendar.
Dengan bahaya yang semakin jelas terlihat, puluhan murid merangkak mundur seraya berseru meminta tolong. Akan tetapi, hal yang sama tidak berlaku kepadaku yang berada dekat sekali dengan gadis penunggu kuil. Mengingat pertempuran yang terjadi sebelumnya, mencoba menghindari jimat-jimat yang melayang itu dekat sekali dengan frasa mustahil.
Jadi aku mencoba mempertahankan pernyataanku. Membentak balik.
"Pangeranmu tidak berbohong, Mei Ling! Ayolah, 'lihat' mata dan detak jantungku, apakah aku terlihat seperti sedang berbohong?!"
Untunglah ungkapan yang demikian dapat meredakan amarah Mei yang membeludak. Hampir menghanguskan asrama dan murid yang tidak bersalah. Membuatnya berpikir dengan jernih sambil mengandalkan indera pendengaran kelas iblis. Memerhatikan detak jantungku yang tak berubah secara tiba-tiba.
Lalu ia melenyapkan belasan jimat yang tadinya melayang.
Sambil menatapku ragu, gadis yang tubuhnya masih dibungkus pakaian tidur berkata,
"Sedang bermain 'drama'..."
"... Apakah itu benar?"
Sambil menelan ludah, aku menoleh kepada puluhan murid remaja yang terduduk ketakutan. Mengerlingkan mata untuk memberi isyarat sekongkol, lalu aku bertanya.
"Te-Tentu saja itu benar! Semuanya, kita sedang bermain drama, bukan?!"
Suasana tiba-tiba sunyi.
Meski di awal sempat memendam konflik dan bentrok dengan diriku, lelaki-lelaki yang terpojok dengan anomali bertubuh cilik akhirnya berpikir ulang demi situasi yang ada. Setelah beberapa saat yang mencurigakan, mereka saling tatap. Lantas mengangguk serempak.
"Yah, bisa dibilang..."
"... Tadi itu hanya pentas seni."
Bagus, semuanya!
Aku mengepalkan tangan dalam hati.
Sayangnya si gadis dari ras iblis masih memiliki argumentasi.
"Lalu kenapa yang memainkan peran wanita bukan Mei saja?! Mei ini lebih cantik dan pangeran sayangi, bukan?" Ia bertanya dengan suara keras.
Aku menjentikkan jari. Kedua mataku membulat.
"Be--Benar juga!!"
Tapi lagi-lagi itu hanya dalam pikiran.