"Yah, tidak mengejutkan juga gadis pengguna jimat itu bisa dikelabui dengan mudah. Jujur, aku cukup kagum dengan improvisasi yang kalian lakukan."
Aku sedikit ragu untuk menceritakan segala yang terjadi di kuil Akatsuki kepada Tuan Kanata. Bagaimana niat awal kami yang sebenarnya ingin sekali menaklukan tempat tersebut. Bagaimana kami baku-hantam dengan monster yang membuat banyak anggota rombongan gugur kehilangan nyawa. Hingga bagaimana asal-usul segel kakak Mei Ling bisa terlepas sampai kami berhasil menguncinya kembali.
Semuanya kujelaskan dengan singkat dan padat. Hanya saja, waktu yang terlewat cukup panjang.
Beliau turut berduka atas seluruh anggota yang tewas selama pertempuran. Akan tetapi, pria tersebut nampaknya cukup tertarik dengan bagaimana diriku bisa melakukan sandiwara tanpa ketahuan. Padahal, jelas-jelas aku ini hanya bocah dua belas tahun sementara pangeran Ov lebih tua daripada itu.
Apakah kebodohan Mei Ling...
... Memang separah ini?
"Pasti karena kekuatan peniru yang kau miliki, Amuro-kun." Hoshigiri Kanata mengambil kesimpulan setelah mengambil jeda sejenak. Akhirnya menyebut namaku.
Aku menelan ludah.
Beliau benar, batinku.
Hanya itu satu-satunya jawaban mengapa Mei Ling bisa menganggapku sebagai pangerannya yang sedang pergi jauh: Karena kami sama-sama memiliki sihir legendaris.
Kami adalah Peniru.
"Nona Mei memang tidak bisa melihat. Tapi ia memiliki indera penciuman dan pendengaran yang luar biasa. Kupikir tak berlebihan jika kalian memanfaatkan celah tersebut untuk balik menaklukkannya melalui sandiwara--apalagi jelas-jelas kekuatan peniru ada di pihak kalian."
"--Maaf sebelumnya, Tuan Kanata. Sebetulnya, misi awal kami memang ingin membunuh Mei Ling si penjaga Kuil. Namun, di tengah percakapan dengan gadis tersebut, Kami akhirnya mengerti bahwa ia sebenarnya tak sepenuhnya bersalah." Chika Aoi sedikit menambahkan. Menundukkan kepala.
Pimpinan dojo menyimak.
"Semua tindakan yang ia lakukan selama ini memiliki dasar moral yang benar. Dia mencuri pusaka kerajaan karena ingin mengamankan kakaknya supaya tidak lepas dan membahayakan manusia. Gadis itu menyerang setiap pasukan yang datang karena ia paham pasukan itu memang datang dengan niat ingin membunuhnya. Selama ini sebenarnya kita saja yang salah paham dan buru-buru mengambil respon tanpa menyelidiki lebih lanjut. Gadis itu tidak bersalah."
Di tengah penjelasan Chika Aoi, Kanata-sama bertanya,
"Oh. Jadi sekarang kalian sudah tahu asal-usul mengapa Nona Mei terlihat seolah memerangi kerajaan? Menarik. Kupikir tidak ada lagi yang tahu selain diriku."
Putri bungsu Aoi mengangguk.
"Um... Begitulah, Tuan."
"Meskipun, dalam beberapa hal yang Mei Ling sampaikan, ada sejumlah fakta yang saya sendiri belum memercayainya."
"Contohnya?"
"Monster Tanah dibawah istana." Chika-sama menyahut.
"Kata Mei Ling, ia sebenarnya adalah raja kuno kerajaan yang sengaja disegel saat kudeta pertama Sembilan Naga Merah. Informasi semacam itu... Cukup mengejutkan, bukan?"
Terkekeh pelan, Tuan Kanata tertawa kecil.
"Karena kejadiannya sudah lama sekali, aku sendiri tidak tahu, nona muda. Akan tetapi, karena Nona Mei memiliki usia yang panjang dan telah hidup berabad-abad, kurasa tak ada salahnya memercayai gadis tersebut dalam batas-batas tertentu."
Lalu ia mengganti topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, Nona Chika, Amuro-kun..."
"... Apakah kalian juga mendapatkan cerita mengenai Akatsuki Rikka, sahabat dekat Mei?"
Kami berdua tertegun saat kembali mendengar nama itu.
Terakhir kali, kalau tidak salah ia terucap dari mulut si gadis kimono saat menangis sebelum kami pergi, lebih tepatnya saat malam kepergian kami. Ketika itu, aku masih ingat Mei Ling sedang diminta oleh Chika-sama untuk menjadi sahabatnya. Akan tetapi, gadis itu menolak. Ekspresinya tiba-tiba berubah. Dan ia terisak. Aku sendiri penasaran mengapa nama tersebut seolah memiliki hubungan kenangan yang buruk dengan Mei Ling.
Sayangnya, kami belum pernah bertanya lebih jauh.
Nona Chika menggeleng pelan.
"Kami memang sempat mendengar Mei Ling menyebutkan nama Rikka-chan. Namun kami sendiri belum pernah diberitahu seperti apa sosok Rikka-chan bagi Mei Ling sendiri."
Aku mendadak nimbrung dalam percakapan.
"A... Anu..."
"Apakah Kanata-sama... Sering mengobrol dengan Mei Ling?"
Sebenarnya pertanyaan itu terlalu absurd. Akan tetapi, yang ditanya tak begitu keberatan serta memutar bola matanya sebentar. Menyangkal.
"Tidak." Kata beliau.
"Aku tidak sering mengobrol dengan gadis tersebut. Mungkin hanya pernah bertemu dengannya sekali. Ketika itu, aku mendapat kabar bahwa di wilayah utara ada ancaman yang mampu menghancurkan armada militer kerajaan sendirian. Selesai mendengarnya, aku langsung bergegas menyiapkan barangku. Pamit kepada murid-murid disini. Lalu melesat ke daerah yang dimaksud guna memperjelas informasi dan menanggulangi bencana."
"Menanggulangi... Bencana kata Kanata-sama?" Aku mengulang.
"Ya. Jarak antara Kuil dengan perguruan cukup dekat, bukan? Jika ada bahaya di dekat tempat tinggalku, aku tentu tidak bisa diam."
Aku mengeluh dalam hati.
Justru jaraknya sangat jauh, Kanata-sama!!
Pria tersebut meneruskan.
"Sesampainya di tujuan, aku langsung bertemu dengan gadis itu. Awalnya aku memang sempat terkecoh dengan penampilannya yang benar-benar mirip dengan anak kecil. Akan tetapi, begitu kulihat ia bisa mengeluarkan berbagai macam sihir dari kartu ajaibnya, akhirnya aku menggunakan mode serius. Berhasil mengalahkannya dalam sekejap. Lalu aku memintanya mengaku apa yang sesungguhnya ia lakukan disini."
"Malam itu, aku mendapatkan berbagai macam informasi yang berguna sekaligus mengejutkan. Dirasa tidak bersalah, aku memutuskan untuk melepaskan gadis tersebut dan kembali ke tempatku."
Secara spontan aku mendadak memikirkan sesuatu yang tidak beres. Berkata agak ragu,
"Mo--Mohon maaf, Kanata-sama."
"Iya?"
"Jika tahu apa yang sebenarnya terjadi di daerah Akatsuki, mengapa Tuan Kanata tidak melapor ke kerajaan saja supaya mereka menghentikan aksi pengiriman pasukan yang selalu dilakukan tiap generasi? Jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, kemungkinan besar mereka akan berhenti, bukan?" Tanyaku. Janggal.
Tapi Hoshigiri Kanata membalasnya enteng.
"Aku sudah melaporkannya."
Wanita di sebelah mengernyitkan dahi.
"Namun entah apa yang terjadi, pesan yang kuberikan itu seolah tak pernah sampai ke Raja di Tenkakuden atau kepala keluarga Sembilan Naga Merah di Kurogane. Padahal, aku hampir melakukannya tiap tahun tak henti-henti."
Mataku melotot.
"Ti--Tiap tahun?!"
Komunikasi pemerintahan di Ragnar sangatlah buruk!
"Berarti benar kata Mei Ling~ Sebagian orang yang duduk di kursi kekuasaan Ragnar ada yang tidak suka kebenaran terungkap~ Payahnya~!" Chika-sama terlihat agak kesal. Merenungkan ucapan Mei Ling tempo hari saat masih di Kuil Akatsuki. Teringat bagaimana gadis tersebut kokoh mengatakan sebagian leluhur Ragnar sengaja berbohong demi menutupi aib-aib mereka.
Kanata-sama mengangguk.
"Hmm... Bisa dibilang begitu."
Kedua tangannya terlipat di dada.
"Hal itu juga menjadi alasan besar yang membuat perguruan Hoshigiri tak mau campur tangan dengan pemerinahan di wilayah selatan. Mereka terlalu banyak menyimpan kebohongan. Terlalu banyak melakukan manipulasi. Dan hal itu sangat bertentangan dengan prinsip pendekar sejati kami yang selalu mengutamakan kejujuran dan sportifitas."
"..."
Suasana lalu canggung.
Tidak ada percakapan lanjutan.
Aku mengerti bahwa Tuan Kanata memiliki informasi yang lebih lengkap daripada yang kami terima dari Mei Ling. Apalagi mengenai sosok Akatsuki Rikka yang masih misterius. Rasa penasaranku ingin sekali segera bertanya siapa ia, bagaimana ia bisa berteman dengan Mei Ling yang jelas-jelas memusuhi manusia, apa yang terjadi padanya dan lain-lain.
Namun, karena malam benar-benar larut dan kuperhatikan Chika-sama mulai merasa sungkan. Akhirnya kami undur diri secara terhormat sementara Tuan Kanata bingung. Tampak heran dengan tindakan kami berdua yang tiba-tiba senyum sendiri, padahal beliau baik-baik saja seolah siap berbincang semalaman penuh.
Wanita berambut hitam sepunggung bangkit dari duduk sambil membungkuk.
"Terima kasih banyak karena mau menerima kami dengan baik, Kanata-sama." Katanya, anggun.
Dalam keadaan seperti ini para bangsawan selalu mengerti apa yang harus mereka lakukan.
"Berkat Kanata-sama, sekarang kami bisa kembali tenang dan tak begitu memikirkan Mei Ling yang sedang kabur. Kami juga semakin mantap untuk mengoreksi lagi sejarah-sejarah yang beredar di kerajaan. Tapi, karena malam sudah larut, kami izin undur diri dahulu untuk istirahat. Mohon maaf karena telah mengganggu anda."
Hoshigiri Kanata juga berdiri. Mengangguk-engguk sopan sambil tersenyum lebar.
"Ah, tak perlu sungkan begitu."
"Aku bisa saja menerima kalian sampai pagi menjelang--Tapi, memang yang namanya anak kecil itu harus segera tidur, ya? Hahahaha..."
"Anda benar, hahahaha..."
Kedua orang dewasa tertawa bersama.
Aku meringis.
Maksudnya anak kecil itu...
... Aku?