Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #87

Momoko Hikaru

Pemukiman warga yang tinggal di sekitar perguruan Hoshigiri terletak di bawah. Berada di dekat ribuan anak tangga yang menjulang ke puncak gunung Alpeno. Memiliki atap-atap dan tembok yang dilapisi salju. 

Ukuran mereka tak terlalu besar. Mungkin hanya cukup untuk sekitar lima sampai enam orang setiap satu rumah. Dengan jumlah sekitar seratus lebih, penduduk tersebut membuat wilayah utara Ragnar yang sebenarnya sangat sunyi dan minim kehidupan menjadi lebih ramai. Tampak seperti sebuah desa atau kota kecil.

Dan di situlah kami, orang-orang yang datang sebagai tamu dan sejumlah murid Hoshigiri, mengadakan upacara kematian untuk seratus murid Kanata-sama yang dahulu dirampas oleh Malaikat Hitam. Membakar dupa. Sementara Tuan Kanata sendiri beserta sejumlah muridnya yang ikut tak bisa menahan rasa sedih. Menghampiri satu demi satu tubuh yang dikenali. Mendekapnya. Mengucapkan permohonan maaf yang berulang-ulang dengan suara keras. Menangis tersedu-sedu.

Aku yang memerhatikan dari jauh tak bisa berkata apa-apa. Membayangkan betapa tragisnya perguruan tersebut ketika dahulu diserang oleh anggota inti Malaikat Hitam. Bertambah geram kepada si kecil Kageha Enma yang selama ini memanfaatkan orang-orang tak bersalah demi membunuh penyihir-penyihir di Voltaire, mengepalkan kedua tangan.

Seharusnya...

Seharusnya...!!

Seharusnya gadis itu kubunuh ketika aku masih di ibukota!!

Tapi sayang. 

Nasi sudah jadi bubur. Segala yang terjadi tak dapat diulang kembali. 

Selesai upacara, aku ingin melupakan semua yang tela terjadi. Menghapus jauh-jauh pemandangan puluhan remaja bersabuk hitam bersimpuh di depan peti-peti mayat. Menjerit-jerit memanggil nama kawan dan sahabat yang mereka kenali. Jelas sekali tidak rela mereka diangkut untuk dikuburkan di bawah tanah bersalju.

Aku pun kembali ke asrama untuk berlatih sebagai pelarian sementara. Entah melatih sihir atau melatih fisik. Memperbaiki diriku supaya lebih tangguh di masa depan.

Aku tak tahu siapa lagi musuh yang harus kulawan. Dengan kekuatan peniru yang sangat mencolok ini, aku yakin berbagai macam pihak akan mendatangiku demi kepentingannya masing-masing. Jika di saat itu aku belum memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membela diriku sendiri beserta orang-orang yang kusayangi, aku hanya akan menjadi mangsa empuk yang tinggal disantap.

Dan tragedi Desa Chiharu akan kembali terulang.

Kenangan dimana Yui-san terbakar. 

Homuro-san hangus.

Tempat tinggalku diluluh-lantakkan.

Membuatku bergumam pelan.

"Aku harus berlatih."

Bahuku gemetar. 

Tanganku mengusap wajah. Mencoba mengusir masa lalu buruk yang tiba-tiba datang.

"Aku harus berlatih!"

"Demi semua yang kumiliki pada saat ini... Demi yang menantiku di masa depan... Aku harus berlatih dan menjadi lebih kuat!!"

Langkahku pun mantap menjauh dari kerumunan orang. Mencari arah kembali ke asrama yang kuingat di depannya ada lapangan tempat murid-murid tadi malam mengasah kemampuannya. Berniat ingin ke sana.

Perasaanku sekarang lebih baik dan teratur.

Aku kembali mengingat tujuanku dengan jelas.

Homuro-san benar. 

Lingkungan hidup sangat memengaruhi keinginan dan keputusan yang akan kita ambil.

Dengan berbagai tragedi dan kekacauan yang kualami beberapa waktu terakhir, akhirnya aku berusaha menjadi tangguh. Bertahan hidup di berbagai situasi mematikan yang jelas mengancam nyawa. Berkali-kali terlibat dengan otoritas-otoritas berkuasa. Berhadapan dengan mereka. 

Sesuai dengan apa yang beliau katakan, hanya dengan memikirkan berbagai kejadian itu saja, lalu sedikit merenungkan apa yang akan terjadi berikutnya, tiba-tiba aku memiliki dorongan misterius di dada untuk berlatih keras. Menggelora seolah api baru saja menyulutnya. Meluap-luap laksana air yang sedang mendidih.

Tapi sayang sungguh sayang.

Baru beberapa langkah menaiki anak tangga yang melelahkan, seorang murid dojo menghampiriku sambil menunduk. Dari pakaian yang ia kenakan jelas ia tadi ikut upacara kematian yang digelar di dekat sini. Menyapa hangat sebentar dengan nada sopan. Lalu meminta maaf. Memberitahu,

"Begini, penyihir muda."

Aku memiringkan wajah.

"Rin-sama telah menunggu anda di depan pasar. Apakah anda berkenan menemani beliau belanja hari ini?"

Hening.

Di detik itu sesungguhnya aku sempat bersyukur karena tidak jadi menaiki ribuan anak tangga setelah berdiri di upacara kematian selama sekitar dua jam meski ingin sekali segera berlatih. Namun, demi mendengar Hoshigiri Rin yang menungguku, mengirimkan utusannya untuk memintaku supaya mau menemani, jujur saja pikiranku kacau. Tujuanku ambyar ke mana-mana. Dan aku gugup.

Sekelebat wajah manis gadis berambut hitam pendek terlintas di depan mataku. Tampak tersipu. Tampak malu-malu.

A... Aku...

... A--Akan menerimanya?

Nafasku sesak.

Bola mataku melotot.

Ja--Jangan bercanda!! Aku sedang ingin latihan, tahu!!

Lagipula, jika nanti sampai ketahuan Mei Ling sekali lagi, riwayatku akan tamat!!

Meski Rin-sama memang cantik dan manis, sih...

Mulutku terbuka. Mengeluarkan suara.

"WHO...."

Murid yang berada beberapa undakan di bawahku mengernyitkan dahi.

"WHO?"

"WHOAAAAAA!!!!!"

Berseru kencang sambil berlari secepat-cepatnya, aku mendaki ribuan anak tangga seolah mendapatkan kekuatan tersembunyi. Mendadak kehilangan rasa lelah. Melompati sekitar tiga sampai empat anak tangga sekaligus dalam satu langkah. Kabur sejauh-jauhnya.

Mei Ling...

... Aku tidak mungkin mengkhianati Mei Ling sekali lagi!!

"MAAFKAN AKU!!! AKU TIDAK BISAAA!!!!"

Sejenak aku memuji diriku sendiri yang tabah dan mau menolak meski dalam lubuk hatiku yang terdalam mulai membayangkan betapa asyiknya berjalan dengan gadis seimut Rin-sama. Mengobrol berdua dengannya. Menatap langit yang cerah berkabut.

Tapi...

Tapi...!!

Aku ini pangerannya Mei Ling, tahu!!

Aku bukan tukang selingkuh!!

"Amuro-kun?"

Suara yang jernih dan merdu mendadak memenuhi gendang telingaku. Melalui iramanya yang khas, ia membuatku berhenti melangkahkan kaki. Bergidik ngeri dengan kaki gemetar. Pelan-pelan menoleh.

Sosok yang sesungguhnya tak ingin kutemui untuk detik ini.

Hoshigiri Rin.

Aku menyebutkan sebuah nama dalam hati.

Dengan pakaian yang telah diganti entah dimana, gadis rambut hitam sebahu kini mengenakan busana Yukata biru yang dilapisi jaket Hanten cokelat. Rambutnya disisir dengan satu pita putih menggantung di tepi kepalanya. Bulu mata yang lebat dan lentik alami memancarkan aura kecantikan yang tidak biasa. Sosoknya yang memukau dibalik guguran salju menambah kesan dramatis yang unik. 

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

"Amuro-kun... Kenapa berlari?"

Wajahku pucat.

Ce...

... Celaka!!

Harusnya tadi aku tidak menoleh!!

Murid yang barusan menanyai melapor.

"Mohon maaf, Rin-sama."

Aku hampir menjerit.

BO... BODOH!!

JANGAN LAKUKAN!!

"Sayangnya, anak bernama Amuro-kun itu tidak ingin menemani anda belanja di pasar. Apakah anda ingin ditemani orang yang lain?"

JIKA RIN-SAMA SAMPAI TAHU AKU MENOLAKNYA--!!

"E--Eh?"

Hoshigiri Rin terkejut mendengar kabar itu. 

Seolah tak memercayainya, ia mendekati ribuan anak tangga yang menjulang melalui langkah lari kecil. Ekspresinya cemas sekaligus kecewa. Dengan mata yang berkaca-kaca, gadis tersebut melayangkan tatapan iba yang begitu dahsyat. Tak mungkin dapat ditolak oleh lelaki manapun. Bertanya,

"A... Apakah itu benar..."

"... Amuro-kun?"

Ingin sekali aku langsung mengangguk mengiyakan lantas segera pergi dari sini. Melupakan apa yang baru saja terjadi sejak kemarin malam dengan gadis tersebut. Melatih diriku di asrama pertama. Bersikap tidak peduli.

Sayangnya, pikiranku yang lain mendapatkan persepsi seperti ini: 

'Apakah yang seperti itu...

... tidak terlalu kejam?'

Lihat selengkapnya