"Hah... Hah... Hah... R... Rin-chan, langkah anda terlalu cepat! Aku tidak bisa mengimbanginya, tahu!" Setelah setengah jam berlarian tanpa henti dan arah yang jelas, akhirnya aku mengaku. Berseru keras-keras pada Rin yang bahkan sampai saat ini masih berteriak seolah tak memilki batas suara. Menghentikannya mendadak. Menoleh padaku. Tertegun.
"E... Eh?! A--Amuro-kun... Maaf!!"
Ia membungkuk dalam-dalam.
"A--Aku juga tidak tahu kalau Amuro-kun payah dalam hal berlari!"
"Jangan diperjelas lagi!"
"Maaf!!"
Lalu kami berdua kecapaian bersama. Merasakan dada naik-turun tak beraturan. Membungkuk memegangi lutut sambil sesekali menyeka keringat di wajah. Saling tatap. Kaget. Kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar.
Penuh kabut putih tebal. Tak ada lagi pemukiman maupun kios-kios dagang.
Aku menelan ludah.
Lagi-lagi firasatku mengatakan ada yang tidak beres.
"I... Ini..."
"... Dimana?"
Sekarang, yang ada hanya pohon-pohon menjulang dengan batangnya yang kering. Semak belukar mencuat dengan duri tajam nyaris melukai kaki. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya putih-keabuan yang menyerupai gumpalan awan dan asap. Tak ada lagi jalan setapak. Tak ada lagi penduduk yang mengenakan pakaian tebal-pakaian tebal.
Aku menoleh kepada Hoshigiri Rin yang bahkan juga terlihat agak kebingungan. Bertanya dengan hati-hati.
"Rin-chan..."
"... Masih tahu jalan untuk kembali ke pasar, bukan?"
Lagi-lagi gadis berambut hitam sebahu memohon maaf.
"MA--MAAFKAN RIN!!"
Kakiku lemas.
"RIN... RIN SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL TEMPAT INI!! MAAF!!"
Wajahku pucat pasi. Bersuara.
"... AAA...."
Demi melihatnya, putri tunggal Kanata-sama menghentikan jeritannya, mengernyitkan alis.
"...AAA?"
"AAARRGH!!!!"
Aku mengacak-acak rambut.
"JA... JADI, KITA TERSESAT?!!!"
Hoshigiri Rin menangis pelan layaknya anak kecil yang kehilangan bonekanya.
"Tadi... Tadi Rin hanya fokus untuk berlari sejauh-jauhnya dari pasar... Hiks... Hiks... Tapi Rin tidak akan menyangka bahwa lokasinya akan sangat asing seperti ini..."
Si--Sialan!
Ingin sekali aku mengeluh, melonjak marah dan mengomeli gadis di depan karena terlalu ceroboh dan tidak banyak berpikir. Memberinya pidato berjam-jam supaya lebih becus dan dapat mengendalikan diri.
Belanja kami belum selesai. Daging kami belum diambil. Dan kini kami tidak bisa kembali ke dojo.
Keadaan yang begitu...
... Sangat gawat, bukan?
"Bu--Bukan saatnya memikirkan itu!!" Aku mencoba fokus ke akar masalah. Memutar otak.
"Yang penting... Sekarang kita hanya harus menyusuri kembali jejak langkah kita kemari!! Dengan cara demikian, seharusnya kita bisa ke tempat awal dan menemui kawasan pasar di bawah perguruan!!"
"Ba--Baik!!" Rin hanya mengangguk patuh. Menyeka air matanya.
Kami berdua pun berbalik arah. Dengan stamina yang terkuras, kami melangkah agak gontai menyusuri jejak sepatu yang mulai tertutupi oleh salju. Menerobos gumpalan kabut yang tebal dan menyesatkan. Membuatku berkali-kali nyaris menabrak pohon yang tiba-tiba muncul di depan jika Rin tak segera menahan. Menarik tanganku kencang-kencang.
Sepuluh menit berlalu.
Jejak langkah yang menjadi navigasi kami akhirnya hilang dengan sempurna. Sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda kehidupan maupun keberadaan orang. Menoleh kesana-kemari linglung, Hoshigiri Rin tak menemukan satu pun petunjuk dimana kami sesungguhnya berada. Menoleh kepadaku. Gemetar.
"Pe... Percuma, Amuro-kun." Katanya, ragu.
"R--Rin sama sekali tidak mengenal tempat ini--Maafkan Rin!!"
Kulitku terasa semakin dingin dan menggigil.
Tapi aku belum menyerah.
"Ka--Kalau begitu..."
"... Kita gunakan insting kita!!"
Perjalanan pun dilanjut kembali. Kali ini lebih berani.
Dengan langkah-langkah yang lebih cepat dan nekat. Aku dan Rin menapaki setiap jalur yang memungkinkan kami kembali ke pemukiman warga komplek perguruan. Tak ingin memprotes takdir yang biasanya malah menyulut rasa putus asa. Sesekali berteriak memanggil di antara kabut-kabut yang tebal. Berharap di baliknya ada orang yang mendengar. Bergegas menghampiri kami untuk menolong. Membawa kami pulang ke kediaman Kanata-sama.
Ngomong-ngomong, pendengaran milik Kanata-sama... Juga tajam seperti Mei Ling, bukan?
Jika kami terus berteriak disini... Seharusnya beliau akan mendapati suara-suara aneh tapi familiar memenuhi gendang telinganya. Merasakan ada yang tidak beres. Bersegera kemari.
Atau mungkin... Badai salju yang selalu menerpa membuat seruan kami menjadi kabur, lalu hilang begitu saja?
Tidak, tidak, tidak.
Aku tidak mau memikirkan...
... Kemungkinan buruk seperti itu!
Aku ingin kembali dengan selamat!
SRAAK!!
"A--AMURO-KUUUN!!"
Salah menginjak suatu tumpukan salju, Hoshigiri Rin yang rasa kewaspadaannya rendah tiba-tiba terjerambab. Melalui wajahnya yang imut sekaligus ketakutan, ia memanggil namaku sambil ambruk ke depan. Berguling bersama salju serta tanah yang tiba-tiba bergetar dan bergemuruh. Ketakutan hebat.
Nafasku tertahan.
"Ri--Rin-chan?!"
GRADAK GRADAK
Getaran yang kuat menjalar hingga tempat aku berpijak. Membuatku menelan ludah. Berseru,
"JA--JANGAN BILANG..."
"... LONGSOR?!!!"
"AMURO-KUUUUUNN!!"
GRADAK GRADAK!!
Suara Hoshigiri Rin semakin pudar dan menjauh saat tanah yang putih merekah. Bunyi-bunyi bertambah berisik. Dan ketegangan yang dirasakan intuisiku meningkat. Demi mendapati hal itu, aku buru-buru melompat. Sengaja ikut terjerambab di antara gumpalan salju yang mulai bergerak ke bawah. Mendekati tubuh gadis berambut hitam yang tak berdaya melawan himpitan salju. Memanggilnya.
"RI--RIN-CHAAAN!!!"
GRAB!