Dengan permintaan dari gadis imut yang sangat memalukan, jujur saja aku kalap. Kedua tanganku terangkat mencoba menenangkan Hoshigiri Rin yang kelihatannya sangat serius. Sengaja batuk tiga kali sebelum akhirnya berujar, patah-patah.
"Ya... Yang paling penting sekarang, Rin-chan. K... Ki--Kita harus segera mencari jalan untuk kembali ke perguruan."
Hoshigiri Rin tahu lagi-lagi aku menghindari permintaannya dengan halus. Namun ia berusaha memakluminya, menyahut dengan antusias.
"Ba--Baik!"
Aku kembali berpesan.
"Kita tidak boleh membuat orang-orang di dojo semakin cemas."
"Baik!"
"Dan berhentilah mengajak orang lain menikah secara sembarangan!" Aku berseru, agak kesal.
"Tapi aku memang suka!"
Beberapa detik berlalu dalam kecanggungan, Hoshigiri Rin wajahnya masih memerah. Nafasnya menghangat. Bola matanya berbinar-binar.
Sambil menahan nafas, aku mengalihkan pandangan darinya sebelum terpikat lebih jauh. Menggerutu dalam benak.
Dia...
... Tidak benar-benar menyukaiku, bukan?!
Kita ini masih anak-anak, lho?!!
Aku mengusap wajah pelan. Memijat kening.
"Jika kau mengucapkan hal memalukan seperti itu pada setiap lelaki yang kau temui, Rin-chan..."
Hoshigiri Rin menelan ludah. Kepalanya mundur sedikit.
"... Hidupmu akan dalam bahaya besar!!"
Telunjukku menuding.
"Siapa tahu orang yang kau anggap keren dan membuatmu kagum sebenarnya menyimpan niat buruk terhadap dirimu, bukan?! Kau tahu sudah berapa banyak gadis sepertimu yang diculik dan dijual secara gelap di kerajaan kami?!!"
Tak dinyata, ternyata gadis berambut hitam sebahu memberikan pendapatnya. Menundukkan wajah.
"Selama yang menculik itu Amuro-kun..."
"... Rin tidak masalah."
Pikiranku tambah kacau.
"JUSTRU ITU MASALAHNYA!!"
Belum selesai urusan belanja, tersesat di wilayah yang ekstrem dan bersalju...
... Aku juga harus menghadapi gadis yang sedang dibutakan perasaannya sendiri?!!
JANGAN BERCANDA!!
"ARGH!! Bagaimana caranya membuat anak kecil bisa memahami hal ini, sih?!!"
Aku mengacak-acak rambut. Lalu berhenti.
Tunggu, bukankah aku sendiri juga anak kecil?!
"Rin sekarang paham." Tiba-tiba saja Hoshigiri Rin berujar.
Firasatku buruk.
Ia mendekat lagi.
"Supaya Rin tidak dianggap sembarangan mencari calon pendamping hidup, Rin harus menjelaskannya ke orangtua Rin, bukan?"
Nafasku tercekat.
Dia sama sekali tidak paham!!
"WO--WOI!!"
"Kalau begitu, Amuro-kun!!"
Hoshigiri Rin menyambar tanganku paksa.
"Setelah ini... Ayo kita laporkan hubungan kita secara terus terang kepada Kanata-sama!!"
"TI--TIDAAK!! BUKAN ITU MAKSUDKUU!!!"
Beberapa mil jauhnya dari lokasi dimana aku tersesat bersama Hoshigiri Rin, seorang murid yang sedang bertugas di asrama pertama menjemur selimut sambil sesekali menyeka keringat di pelipis. Rambut cokelatnya yang halus diikat ke belakang supaya tidak mengganggu. Tatapannya datar dan dingin tapi ia sangat mempesona.
Sambil memandangi langit yang cerah di balik kabut-kabut tebal, wanita yang sebenarnya sedang merawat murid-murid sakit itu menghela nafas pelan. Memikirkan sesuatu. Menutup pintu geser berbahan kaca yang tembus hingga halaman.
Bibirnya yang merah alami terbuka.
"Rin-sama hari ini..."
"... Terlambat pulang, ya?'
***
Satu jam berlalu semenjak kami tergelincir ke jurang akibat longsor yang tiba-tiba terjadi. Berjalan memutar, kami mencoba kembali ke lokasi awal dengan mencari dimana lajur yang bisa digunakan untuk naik ke dataran tinggi. Menyusuri tebing-tebing yang curam dan licin. Bertanya dalam hati dimana gerangan Kanata-sama dahulu mengantar kami menuju perguruan terkenal tersebut.
Sebelumnya saat pertama kali datang, aku tak begitu memerhatikan jalan yang kami satu rombongan lalui.
Tapi, ternyata memang serumit ini, ya?
"A... Amuro-kun... R--Rin sudah mulai kedinginan lagi..."
Berjalan di belakangku sambil memeluk lengannya sendiri, Hoshigiri Rin yang setengah jam lalu diam mengekor di belakang akhirnya memecah sunyi. Mengeluh akan suhu tubuhnya yang kembali turun. Meminta Kehangatan.
Berbalik badan, aku mengernyitkan dahi sambil menyentuh kedua bahu putri tungga Kanata-sama lembut. Mengalirkan energi sihir di ujung-ujung jemari. Memulai aktivasi.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api Modifikasi: Penghangat badan!
Cahaya kuning berpendar terang. Suara desingan terdengar cukup keras di antara gempuran salju dari langit.
Setelah selesai memberikan 'kehangatan' pada Rin, aku bertanya.
"Sudah lebih baik?"
Menganggukkan kepala pelan, gadis Yukata biru berujar.
"Um, iya."
"Terima kasih."
"Ayo kita bergegas."
Aku langsung mengembalikan pandangan ke depan. Melangkah maju.
Hoshigiri Rin gelagapan.
"Tu--Tunggu aku!'
Pegunungan bersalju Narkhaz yang luas seolah tidak ada habis-habisnya kami telusuri. Meski sudah berjalan jauh, tetap tidak terlihat oleh kami area landai yang bisa digunakan untuk mencapai daerah lebih tinggi. Hujan salju semakin lama semakin lebat. Matahari yang tadinya bersinar hangat tertutup oleh awan-awan kelabu. Mengisyaratkan badai.
Karena tadinya kami jatuh ke jurang gara-gara longsor, maka otomatis opsi kami di sini untuk melewati tebing di kedua sisi hanya ada dua hal: memanjat sekian puluh meter, atau terbang.
Tapi sayang. Dua opsi itu sama-sama mustahil.
Memanjat tebing?
Itu hanya akan membuat kami terluka sekali lagi karena jatuh terpeleset.
Terbang ke langit?
Sihirku belum ada yang bisa melakukan hal seperti itu.
Akhirnya, karena tidak ada perkembangan signifikan, kami malah patah semangat dan lelah berjalan. Nafas kami semakin lemah. Dengan badai yang mulai mengganas meski siang, kami menggigil hebat sambil sesekali bersin. Memandang satu sama lain.
"A... Apakah kita... Sebaiknya tidak istirahat saja sebentar?" Menyeka mulut dengan sapu tangan dari saku, Hoshigiri Rin bertanya polos sambil mengangkat dagunya.
Ketika awan kelabu di atas semakin hitam, aku cepat-cepat mengangguk. Terperanjat mendengar satu larik petir yang bercahaya terang membahana di langit. Menyetujui.
"Ka... Kau benar." Nafasku menjadi uap di depan wajah.
"Sebelum cuacanya lebih berbahaya, ayo kita cari tempat yang aman untuk berteduh."
Kami akhirnya berhenti mencari jalan menuju dataran yang lebih tinggi. Dengan sihir api penghangat badan yang dilakukan terus-menerus, kami melacak apakah ada gua atau semacamnya yang bisa ditinggali di dekat sini untuk sementara waktu. Langsung menemukannya dalam waktu singkat di salah satu dinding tebing yang bercelah besar. Bersegera masuk dalam tiupan bersalju yang menusuk-nusuk tulang.
Kedua bahu kami bergetar.
"Di--Dingin!!"
Berhasil masuk di celah yang dimaksud, kami menghembuskan nafas lega sambil melirik badai di belakang yang semakin liar. Dengan lebar celah yang begitu pendek, kami terpaksa bersempit-sempitan. Berhimpitan satu sama lain. Merasakan hangatnya nafas dari lawan bicara yang mengepul.
Hoshigiri Rin melempar sebuah batu ke lubang di depan yang sangat gelap dan lembab. Dengan kekuatannya yang diluar persangkaan, batu kecil tersebut terpantul berkali-kali hingga akhirnya terhenti di suatu titik. Menghasilkan suara yang mampu digunakan sebagai petunjuk. Memberikan informasi kepada si gadis hingga akhirnya ia berujar pelan.
"Hah... Hah... Hah... I... Ini gua."
Dadaku masih naik-turun.
"Be... Berarti di sekitar sini ada ular atau semacamnya, ya?"
"A--Aku tidak tahu." Hoshigiri Rin menggeleng. Wajahnya pucat.
"Yang penting, kita bisa menghindari badai yang terjadi dengan lebih aman disini."
Rin berusaha mengeluarkan butiran salju yang menempel di kulit tubuhnya. Sedikit membuka Yukata biru yang berada di bagian atas. Memperlihatkan kulit beningnya yang cantik.
Mendapati hal itu, aku buru-buru membuang pandangan. Tak berani melihat.
"Ja--Jangan main buka-buka sembarangan, dong!"
Aku pun menyalakan api.
Dengan sisa-sisa kayu yang mungkin pernah digunakan seseorang di gua ini, aku mendirikan api unggun sederhana. Lebar gua yang sempit membuat kami harus duduk agak berhimpitan. Suasana menjadi sangat canggung. Hingga kemudian tiba-tiba Rin berseru, panik.
"Be--Benar juga!" Bola matanya membulat.
"Daging yang tadi kita beli ketinggalan di pasar!"
Terperanga aku mendengar hal itu.
"Kau baru sadar?!"
"Maafkan aku!!"
Lalu kami kembali diam.
Gua yang gelap dan sedikit basah membuat bunyi tarikan nafas menggema di beberapa titik. Tiupan angin datang melambaikan anak rambut. Bahu kami yang saling bersentuhan menyebabkan degup jantung semakin kuat. Terdengar hingga telinga. Membuat wajah kami memanas.
Memecah keheningan yang tidak mengenakan, aku berkata tegas. Mengusap wajah.
"Biar kutegaskan lagi, Rin-chan... Meskipun kau mengajakku menikah seperti itu..."
"... Aku ini... Sudah memiliki kekasih, tahu."
Betapa memalukannya diriku ketika mengucapkan kalimat barusan. Jika Yui Chiharu berada di sini. Ia pasti akan mengolok-olokku sampai habis. Tertawa terbahak-bahak. Mengejekku karena bersikap sok keren.
Gadis berambut hitam sebahu yang penampilannya cukup berantakan menyahut.
"Aku tahu, kok."
Wajahnya yang menggemaskan tampak murung menatap perapian yang hangat. Mengangkat kedua tangannya ke sana. Melepas jaket Hanten cokelat yang cukup tebal. Menyingsingkan Yukata birunya. Memperlihatkan kulit yang mulus dan cerah.
Aku jadi salah tingkah.
"Kekasih yang Amuro-kun maksud itu..."
"... Gadis kecil yang dipanggil Mei Ling, bukan?"