Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #90

Mereka... baik-baik saja, kan?

Sebenarnya Chika Aoi masih cukup lemas setelah mendaki ribuan undakan untuk kembali ke asramanya di kawasan perguruan. Meski cuaca dingin, wanita muda tersebut melepas seragam militer birunya yang berada di lapisan terluar. Duduk menjuntaikan kaki di salah satu sisi teras. Sementara Olivia yang lebih lemah sudah tergeletak di sebelah. Tak mampu menggerakkan seujung jari pun.

Cahaya matahari siang mulai tertutup awan lebat di langit. Terlihat mendung.

"Kalau setiap hari harus naik-turun melelahkan seperti ini..."

Olivia Marry bergumam pelan.

"... Aku bisa mati!!"

Di dekatnya si putri bungsu Aoi tertawa kecil.

"Perjalanan yang sangat melelahkan, bukan~?"

Sepasang kaki gadis berambut cokelat bergelombang menginjak-injak lantai. Kesal.

"Aku ingin segera pulang!!"

Lalu gadis tersebut mengangkat wajahnya ke langit. 

Kedua alisnya berkedut.

"Oh, langit!! Kembalikan aku ke rumah!! Kumohon!!"

"Langit tak akan mendengarmu jika masih kesal begitu."

"Diam!"

Tak lama berselang, seorang murid bersabuk hitam datang menghadap kedua wanita yang sedang beristirahat. Dari keringat yang bercucuran di wajahnya, tampak jelas bahwa ia baru saja lari dalam waktu yang cukup lama. Nafasnya terengah-engah. Berujar,

"Ma... Maafkan saya, semuanya..."

Chika Aoi dan Olivia Marry bangkit duduk. Menatap murid yang datang sambil bertanya-tanya.

"Apakah Nona Rin... Sedang berada di sini?"

Gadis berambut cokelat melirik ke wanita di sebelahnya.

"Siapa?"

Dengan telunjuk dirapatkan ke mulut, Chika-sama menggeeleng sambil membalas,

"Tidak." Katanya.

"Bukankah tadi ia sedang berjalan bersama Amuro-kun, bocah lelaki yang memiliki rambut hitam dan mata merah itu?"

Si murid membenarkan.

"Tadi memang Nona Rin mengajak anak itu berbelanja... Tapi, seharusnya mereka sudah kembali beberapa jam lalu."

"Apakah ada yang melihat mereka datang?" Chika Aoi bertanya memastikan.

Lelaki yang mengenakan seragam dojo tampak merenung sebentar. Berkata,

"Ti... Tidak." 

Keringat dingin mengalir di keningnya.

Olivia memiringkan wajah.

"Jangan-jangan..."

"... Mereka tersesat?"

"Ter... Tersesat?!" Murid di depan berseru.

"Nona Rin tidak mungkin mengalami hal itu!!"

Namun Chika Aoi membantah.

"Mungkin saja." Ujarnya.

"Jika gadis itu berjalan bersama si bocah yang penuh kejutan... Segalanya menjadi mungkin dan bisa saja terjadi, tahu."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya si murid lelaki.

"Mulai mencarinya sekarang."

"Di pegunungan yang penuh kabut dan sangat dingin ini?!" Wajah Olivia pucat.

"Ya, mau bagaimana lagi?" Chika mengangkat kedua bahu.

"Laporkan saja dahulu apa yang sedang terjadi kepada Tuan Kanata. Jika beliau berkenan, mungkin sebagian besar murid bisa dikerahkan untuk turut mencari dimana keberadaan Nona Rin beserta bocah peniru itu."

"Ba--Baik! Saya mengerti!"

Tanpa basa-basi lebih lanjut, murid tadi langsung pergi. Meninggalkan kedua tamu wanita yang melongo di teras asrama keempat. Memandang sosoknya perlahan menghilang di jalan setapak yang diliputi kabut.

Sambil menghembuskan nafas berat, putri bungsu bangsawan yang sebentar lagi diangkat jadi kepala keluarga itu mengeluh. Memijat keningnya.

"Amuro-kun itu..."

"... Selalu mengundang kesialan, ya?"

***

Beberapa saat kemudian. 

Di kediaman utama Hoshigiri. Depan lapangan pelatihan yang luas.

"Biarkan saja."

Hoshigiri Kanata sungguh santai ketika mendapatkan informasi putrinya tak kunjung datang. Diduga tersesat saat berbelanja di pasar. Tidak menghentikan pembelajaran yang sedang berlangsung. 

Sambil memberikan beberapa instruksi ringan, beliau melanjutkan kuda-kuda bertahan yang diperagakan di hadapan ratusan murid dojo berseragam. Meminta mereka menirukannya sama persis. Berjalan melintasi barisan demi barisan. Memukul kencang murid yang posisinya kurang pas. Mengayunkan pedang kayu.

Lelaki yang sedang melapor bersama Chika dan Olivia melongo. Tak menduga bahwa pria tua yang sangat bijaksana itu justru mengabaikan berita yang mereka bawa. Memerintahkan supaya kedua anak yang tersesat itu 'dibiarkan'. 

Bercerita,

"Selama ini, anakku Rin telah berlatih keras di dalam wilayah dojo menggunakan seluruh kemampuannya. Akan tetapi, ia belum pernah berlatih memecahkan situasi kritis yang sedang menimpa dirinya secara tiba-tiba. Dengan tersesatnya anak itu, kuharap ia dapat berkembang dan mengasah kemampuannya lebih jauh lagi. Lagipula, ia bersama si bocah peniru itu. Aku yakin ia akan baik-baik saja."

Ketiga orang yang melapor tak ingin banyak komentar.

Dari langit, awan kelabu perlahan berubah jadi hitam. Tiupan angin bertambah kencang. Petir-petir bersahutan dalam warna kuning terang.

Sambil menelan ludahnya ke tenggorokan yang kering, Chika Aoi bertanya sekali lagi, ragu.

Lihat selengkapnya