Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #91

Irene Mimosa

"Kendalikan dirimu, Ov. Jangan tinggalkan kami."

Suara yang jernih namun khawatir memenuhi gendang telingaku. Terkesan seperti wanita muda. Agak terisak. Menggema seolah berada di lorong gelap yang panjang.

Tak ada yang terlihat di tempat itu. Hanya hitam. Dengan tubuh mengambang berputar seolah bintang di luar angkasa. Tak ada cahaya. Tak ada orang. Akan tetapi, suara yang sama sekali asing bagiku itu kembali muncul. Begitu dekat seakan-akan ia berada di depanku. Sangat familiar dan akrab bagaikan aku pernah mengenalnya dimana.

Bunyi tersebut begini.

"Sadarlah sekarang juga."

Berhenti sebentar.

"Atau kami terpaksa membunuhmu."

Kicauan burung bernyanyi di langit jingga sebuah kota sederhana. Awan-awan mengambang seolah gumpalan kapas yang diterbang angin. Beberapa bintang mulai terlihat di angkasa mengiringi bulan. 

Menyorot ke bawah, tampak beberapa anak kecil bermain di jalanan. Orangtua membawa hasil tangkapan berburu dengan wajah bahagia. Penyihir berjubah putih keemasan memberikan hormat pada rakyat jelata yang melintas. Membungkuk rendah.

Di atas semua pemandangan tersebut, sepasang sepatu tampak bermain di sebuah ketinggian. Sekilas itu terasa seperti milikku. Akan tetapi, begitu mencoba mengendalikannya, aku tidak bisa. Memberikan indikasi bahwa ia memiliki kesadaran diri. Kehendak sendiri. Pemiliknya sendiri. Hingga tak lama berselang, gerakan sepatu tersebut berhenti bersamaan dengan panggilan seseorang dari belakang. Riang sekali nadanya.

"Whoa~!! Ov!! Tak kusangka kau malah berada disini sendirian!! Menangis lagi, ya~?!"

Aku tak mengerti siapa yang dipanggil oleh orang tersebut tapi mulutku refleks menjawab.

"Diamlah, Irene." Kataku, ketus.

"Aku hanya mencoba menenangkan diriku."

"Biar kuberitahu, ya~! Tak ada ceritanya seorang gadis akan suka dengan pria cengeng tahu~!"

"Aku tidak cengeng."

"Lalu kenapa tadi kau lari dari teman-teman saat bermain~?"

"Semua orang bisa menggunakan sihir." 

Aku diam sebentar.

"Tapi tidak dengan diriku."

Sosok yang berada di belakangku tiba-tiba duduk di samping. Turut menjulurkan kedua kakinya ke udara. Ketika kuperhatikan... Ia adalah seorang gadis belia berseragam biarawati yang memiliki rambut hijau. Senyumannya yang menawan begitu berkilau bersama sinar di ufuk barat. Angin yang datang dari seberang ikut menyibak harum pakaiannya yang menenangkan.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Suaraku tercekat.

Yui-san, Yukki-san, Nona Mei Ling, Hoshigiri Rin, Chika-sama...

... Semuanya jika dikumpulkan tak akan mampu menandingi gadis yang satu ini. 

Dia... Luar biasa cantik.

Tadi namanya siapa?

Irene?

Gadis biarawati merangkul leherku erat. Sedikit mencekik.

"Ayolah, kawan~ Tidak semua orang bisa menggunakan sihir di usia muda, tahu~! Lihat, aku sendiri juga belum bisa menggunakan sihir~"

"Kau berbeda, Irene. Kau cantik. Tidak akan ada anak-anak yang akan mengejekmu jika tidak bisa mengeluarkan aktivasi magis."

"Kalau begitu kita tinggal memberikan rok kepadamu~! Dari dulu aku juga penasaran jika Ov itu wanita... Dia akan secantik apa, ya~?"

Kemudian gadis di sebelahku tertawa.

"Tidak lucu."

"Aku serius."

"Gadis sinting."

"Whoa!! Kau baru saja menggunakan kata-kata kotor!! Selamat~!!"

"Jangan ganggu aku, Irene."

Muak dengan tingkahnya yang tidak bisa diam, aku--atau seseorang yang dipanggil Ov--berdiri dengan sigap. Menepuk-nepuk pakaian lusuh yang dikenakan dengan kedua tangan. Menuruni tangga spiral yang dimiliki oleh sebuah menara kota. Cukup kotor dan berdebu. Meninggalkan derap sepatu yang menggema hingga di bawah. Meninggalkan gadis bernama Irene sendirian menatap matahari terbenam.

Tapi gadis itu mengembangkan kedua pipinya hingga besar. Cepat-cepat mengejar sambil berseru.

"Ka--Kau ini!!" Panggilnya, mengangkat rok supaya bisa menyusul menapaki anak tangga.

"Meninggalkan seorang gadis cantik sendirian itu melanggar pasal pertama prinsip lelaki sejati, lho~!! Kau tidak tahu~?!"

"Aku tidak peduli." Aku membalas ringan. Tidak menoleh.

"Justru berduaan bersama seorang lelaki saat menjelang malam merupakan pelanggaran di rumah ibadahmu, bukan? Berkacalah, bodoh."

Irene berhasil menyusulku. Mencubit dengan kencang.

"Whoa!! Kau menghinaku lagi!!"

"Lepaskan." Aku menepis kedua tangan Irene yang bermain di wajahku.

Kami akhirnya diam. Menapaki tangga menara yang mengarah ke bawah dalam senyap. Hanya terdengar suara langkah yang berirama. menerbangkan debu.

"Anu... Ov Vanguard." Gadis berbusana religius memanggil.

"Jangan memanggil nama lengkapku."

"Eh, kenapa?"

"Membuatku curiga."

"Bagaimana caramu tahu?!"

"Tuh, kan."

"Begini, ya..."

Gadis bernama Irene mencegat langkahku di depan. Menyembunyikan kedua punggung tangan di belakang. Menyungging senyum lebar-lebar.

Sebenarnya sosok itu sangat mempesona hingga dadaku terasa bergemuruh. Begitu berisik. Tapi tubuh yang kumiliki seolah begitu dingin dan kaku. Mengernyitkan kedua alisnya tajam. Mendengus.

"Jijik."

"Ini yang ketiga!!"

"Jangan halangi langkahku."

"Tunggu!! Biarkan aku bicara!!"

"Kesempatanmu sudah habis."

"Besok ada bangsawan yang hendak mengadopsiku!!"

Suaranya yang merdu melengking panjang di sepanjang tangga menara. Memantul dari satu sisi ke sisi lainnya. Berdengung di telinga. 

Untuk sejenak, keheningan memperlihatkan bola mata hijau yang berkilau diterpa cahaya. Anak rambut yang berkibar begitu lembut dan wangi. Ujung rok hitam-putih berenda berkibar memperlihatkan sepasang kaki pucat.

Dalam keadaan itu, akhirnya Ov Vanguard terdiam. Tak mampu memberikan komentar dingin seperti sebelumnya. Menatap gadis di depannya tak percaya. Menelan ludah dalam-dalam.

Sambil menahan kesedihan yang dari tadi dipendam, Irene berusaha tersenyum lebar. Membendung air mata yang mulai menggenang di kantung. Berkata sekali lagi, agak patah-patah.

"Ka... Karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi..."

Gadis itu tak lagi mampu menahan kesedihannya. Air mata mengalir dengan deras. Menetes melalui dagu yang lancip.

"... A... Apakah tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan?!"

Sunyi.

Dalam pikiran dan jiwanya, meski tak merasakan secara langsung, aku tahu sosok bernama Ov Vanguard sedang sedih. Marah. Bingung. Kecewa. Segalanya menjadi satu. Walaupun selalu bersikap ketus dan cuek, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, gadis berambut hijau di depannya adalah sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang telah menciptakan banyak kenangan indah bersamanya beberapa tahun terakhir.

Sesuatu yang tak ingin ia pasrahkan begitu saja untuk pergi.

"He... Jadi begitu, ya~?" Karena terlalu lama menunggu, Irene mengusap air matanya sambil berusaha menjaga wajah cerianya. Getir.

"Selama ini... Mungkin aku yang memang terlalu berharap padamu, Ov Vanguard."

"Selamat tinggal."

Gadis itu lalu berbalik. Berlari sekencang-kencangnya menuju lantai terbawah. Menyembunyikan wajahnya yang jelas-jelas menangis dengan menggunakan kedua lengan yang dikedepankan. 

Sementara lelaki yang tubuhnya sedang kutinggali masih diam di tempat. Tak merespon apapun saat gadis bernama Irene pergi. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

Mengerjarnya kembali? 

Mungkin itu sia-sia.

Meminta maaf padanya?

Gadis itu tetap akan pergi.

Maka dari itu, daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang tidak pasti, lelaki bernama Ov melakukan sesuatu yang sangat-sangat kubenci: Menghela nafas berkali-kali. Memalingkan wajahnya dari Irene yang tersedu-sedu kencang. Terdengar hingga kemari.

Seraya melangkahkan kaki kembali ke atas, lelaki tersebut menjuntaikan kedua kakinya ke langit-langit kota. Menonton bagaimana matahari terbenam di ujung kota dengan indah. Mencoba merelakan, melupakan semuanya.

Tetapi, sayang sungguh sayang.

Segala usaha yang ia lakukan tak begitu berarti.

Kedua matanya tetap berkaca-kaca. Bahunya gemetar.

Sambil menyeka melalui ujung-ujung lengan, perlahan ia bergumam dengan suara yang lebih sedih. Suara yang terluka. 

Suara yang baru saja kehilangan sosok yang sangat berharga.

"Hiks... Hiks... Hiks... Selamat tinggal juga..."

"... Irene Mimosa."

***

"Amuro-kun, bangunlah! Amuro-kun!" Panggilan yang sendu memenuhi sudut gua yang gelap. Debu-debu mengepul. Bebatuan menumpuk hingga membentuk suatu gundukan tinggi. 

Di tengahnya, sambil mengerang kesakitan, aku membuka mata. Kupikir tadinya Hoshigiri Rin akan langsung memenuhi pandanganku melalui ekspresi khawatirnya yang lugu. Namun, saat terbuka, yang kudapati malah seekor ular lain, kali ini puluhan kali lebih besar, dengan sisik hitam yang lebih keras dan tebal, memiliki kepala mencapai belasan, tengah memandangiku sementara putri tunggal Kanata-sama terjebak tak jauh darinya. Mencoba melepaskan diri dari bongkahan batu besar yang melindas kakinya hingga berdarah. Meringis menahan perih seraya berharap aku segera bangun.

"Bangunlah, Amuro-kun!!"

Kedua mata Rin basah, ingin sekali menangis ketakutan sekaligus putus asa.

"Ri--Rin-chan?!!"

Demi melihat keadaan yang terjadi, tanpa pikir panjang aku langsung berdiri, mengangkat kedua tanganku yang bercahaya di antara redupnya gua, mencoba mengaktivasi sihir. Mengarahkannya kepada ular raksasa yang menghadang di depan.

Sihir Peniru: Tiruan Sihir Api: Meriam Api--

BRUK!

Tapi, siapa sangka, ternyata aku lebih dulu ambruk. Menabrak bebatuan yang mungkin terjatuh dari atap tempat kami meluncur. Mendapatkan beberapa lecet baru di bagian wajah. Sakit sekali. Berdarah. 

"SA--SAKIT!!"

"Jangan bergerak, bocah. Kaki kananmu masih patah." 

Lihat selengkapnya