Lidahku kelu.
Mendengar nama Irene Mimosa kembali disebut, aku jadi pusing. Kepalaku berputar. Suatu kenangan yang sebelumnya kulihat saat pingsan kembali muncul. Sosok gadis cantik yang riang teringat lagi olehku. Pakaian biarawatinya yang berkibar di balik jingga sore. Mata sipit yang berkilau saat diterpa mentari. Senyum lebarnya yang sangat menawan.
Lalu kulihat kembali sosok tersebut.
Sebuah tengkorak. Dengan kondisi yang sudah rusak. Berdebu. Dan rapuh.
Ia tak lagi memiliki rambut hijau yang wangi. Wajahnya yang manis juga lenyap tak bersisa. Pakaian hitam-putihnya koyak. Terlihat usang dan tua. Dengan renda-renda terlepas. Lalu tentu saja--sudah sangat kotor.
Aku nyaris muntah ketika melihat sosok gadis itu 'versi sekarang'.
Kedua tanganku menahan mulut. Wajahku kupalingkan ke belakang. Melangkah mundur.
Hoshigiri Rin yang berdiri di dekatku jadi khawatir.
"A... Ada apa, Amuro-kun?!"
Aku cukup geram, mengalihkan pandangan kepada belasan kepala Hydra yang menunggu di pangkal gundukan batu. Meneriaki mereka.
"Wo--Woi!!"
Monster Hydra tertegun.
"Apa yang kalian maksud dengan penyakit 'kematian', hah?!!"
Bau busuk begitu menyengat di hidungku.
"Penyelamat kalian itu jelas-jelas sudah tewas!! Dia tidak lagi sakit, tahu!!"
Belasan kepala saling pandang.
"... Sama saja, bukan?"
Aku melongo.
Tak paham.
"Jika 'penyakit' adalah gangguan yang suatu saat bisa dipulihkan kembali melalui mekanisme tertentu, maka 'kematian' juga termasuk sebagai penyakit bagi makhluk hidup, bukan? Lihat, kalian para penyihir bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati."
Mataku melotot.
"Ta... Tapi..."
"... Orang yang ingin kalian hidupkan kembali itu sudah menjadi tengkorak!!" Seruku.
"Meskipun aku melakukan sihir terlarang Anugerah Jiwa kepadanya, semuanya akan sia-sia jika tubuhnya sendiri telah hancur seperti ini!!"
Hening sejenak.
Kepala Hydra yang paling jauh tampak ragu, menyelidik.
"Dengan kata lain... Kau tak bisa menyembuhkannya?"
Rambutku sendiri kujambak. Mencoba menjelaskan.
"Bukan aku yang tidak bisa menyembuhkan!! Tapi penyelamat kalian itu yang sudah tak tertolong lagi kondisinya!!"
Kepala Hydra yang lain berseru. Lehernya yang panjang berkelok-kelok di langit.
"Dia melanggar kesepakatan!!"
Akibat mendengar hal itu, aku dan Rin meneguk ludah. Bungkam di tempat.
Atmosfer ruangan yang besar menjadi tegang kembali.
Desisan ular memantul dari satu sisi ke sisi lain.
"Bocah penyihir." Pimpinan dua belas kepala Hydra memanggil.
Aku sama sekali tak berkedip.
"Pernyataan bahwa gadis di atas sudah tidak bisa disembuhkan... Itu adalah hasil observasimu selama ini, atau hanya asumsi?"
Tubuhku kaku.
Tak bisa menjawab.
Itu adalah pertanyaan...
... Yang sungguh sulit.
Sambil memalingkan muka, aku pelan-pelan menyahut.
"Ji... Jika kalian menyebutnya sebagai observasi... Mungkin memang kurang tepat. Namun aku tidak pernah menghidupkan orang mati yang sudah berusia bertahun-tahun, tahu!!! Jangan memaksaku melakukan sesuatu yang jelas tidak bisa!!"
Sorot mata merah menyala Hydra semakin tajam.
"Berarti kau hanya belum pernah mencobanya, bukan?"
Ia mengintimidasi. Memeperlihatkan taring-taring tajam berkilau.
Aku mencoba membela diri.
"I... Ini bukan masalah sudah pernah dicoba atau belum!!" Kataku, keras.
"Kalian hanya tidak tahu bahwa Anugerah Jiwa itu adalah sihir yang sangat menyakitkan bagi penggunanya!! Membutuhkan banyak tenaga!! Mengakibatkan luka mental dan fisik yang sangat hebat!! Aku tak mungkin melakukannya hanya untuk sesuatu yang sia-sia jika memang tidak bisa dipastikan keberhasilannya!!"
Sialnya, monster Hydra itu tak mau menerima ucapan yang baru saja kulontarkan. Bergerak cepat mendekati Hoshigiri Rin. Melilit erat tubuhnya yang kecil hingga tenggelam dalam sisik hitam berlendir. Mencekik.
Gadis itu langsung menjerit.
"Ti... Tidak!!"
"Lepaskan aku!!"
Aku terkesiap.
"Ri... Rin-chan!!"
Kepala Hydra yang paling dekat meminta, sangat serius.
"Pilih sekarang juga, bocah penyihir."
"Lakukan penyembuhan Anugerah Jiwa apalah itu, atau kami remuk kembali tubuh gadis yang telah kami selamatkan. Kuberi kau kesempatan sekali lagi."
Darahku mendidih.
"I... Itu namanya penyanderaan!!"
Kepala Hydra yang paling jauh menggeleng.
"Tidak, bocah. Jangan salah paham." Ujarnya.
"Kami hanya menghukumu karena baru saja melanggar kontrak di antara kita."
"Di... Dilihat dari manapun kalian jelas menyandera kami!!"
"Kami tidak peduli."
Ce... Celaka!!
Aku mengumpat dalam hati.
Kalau begini terus... Rin akan terluka dan Tuan Kanata akan marah padaku!!
A... Apa yang harus kulakukan?!!
Pikiranku bingung sekali.
Sementara monster Hydra mengencangkan lilitannya. Membuat si gadis Hoshigiri semakin sesak. Tinggal menunggu waktu tubuhnya meledak. Pecah berhamburan kemana-mana.
Peluhku mengalir di pelipis.
Sebenarnya, aku sendiri tak begitu yakin apakah bisa menggunakan Anugerah Jiwa karena tidak memiliki 'ingatan kekuatan tambahan' dari Sang Peniru. Ditambah fakta bahwa gadis di depan telah mati sekian tahun silam, keadaannya jadi lebih buruk. Ular-ular ini juga tidak sabaran, menggunakan Hoshigiri Rin sebagai senjata untuk memaksaku. Membuat segalanya menjadi tegang. Memanas.
Aku... Jadi kehabisan opsi.
Mengedarkan pandangan ke sudut-sudut jauh gua, aku menarik nafas dalam-dalam. Berseru,
"WOI!!! PRIA JUTEK!! KAU SEDANG DISINI, BUKAN?!! TUNJUKKAN DIRIMU!!"
Bentakanku menggema di dinding batu yang keras.
Dua belas kepala Hydra menoleh ke kanan dan kiri mencari orang yang kumaksud.
Hoshigiri Rin bingung. Membatin.
Amuro-kun... Berbicara sendiri lagi?
Senyap.
Sekitar lima detik berlalu, dari lorong gua tempat kami tadi berjalan, perlahan keluar sesosok pria. Postur tubuhnya tinggi dan gagah. Dengan jubah merah-hitam menjuntai ke lantai, ia mendekat seraya menggaruk bagian belakang kepalanya enggan. Memandangiku tanpa rasa belas kasihan sedikitpun. Menyahut--tapi hanya aku yang mendengarnya.
"Apakah kau tak punya panggilan lain yang lebih baik, bocah sialan?"
Aku menudingnya. Menambah keheranan di waja dua belas kepala Hydra.
"Kau sendiri yang dari dulu belum menyebutkan namamu!!"
"Kau tak pernah meminta."
"Jangan lempar kesalahan pada orang lain!!"
Kepala Hydra terjauh melirik kawan-kawannya.
"Apakah kalian menemukan orangnya?"
"Tidak." Balas yang lain.
"Kalau begitu bocah ini sedang berbicara dengan hantu?"
"Mungkin."