"HOEEEEKKKK!!!"
Darah termuntah dari mulutku. Sangat banyak. Sangat kental.
Monster Hydra dan Putri Hoshigiri tak bisa menahan diri untuk mendekat. Memanggilku.
"Amuro-kun!!"
"Bocah penyihir!!"
Keduanya berujar bersamaan.
"Kau tidak apa-apa?!!"
Tapi tak ada hal yang bisa mereka lakukan.
Berjuta kenangan aneh memenuhi kepalaku hingga serasa ingin meledak. Gumpalan hitam menyeruak dari kulit seolah wabah. Tekanan udara semakin pekat dan mencekam. Hembusan angin menciptakan suasana yang dingin dan beku. Kulit-kulit menggigil.
Aku menjerit bagai orang gila.
"HENTIKAAAANN!!!"
Mencakar-cakar wajah sendiri hingga berdarah. Berguling-guling di atas gundukan batu. Tanpa sengaja melepas tangan yang berada di dada Irene Mimosa. Menghentikan aktivasi sihir secara otomatis.
SHUUUU
Aura hitam mengerikan mendadak lenyap. Angin ributnya juga.
Diiringi nafas yang terengah-engah, untuk pertama kalinya semenjak mengaktifkan sihir berbahaya aku benar-benar membuka mata. Mendapati ular hitam raksasa menatapku melalui dua belas kepalanya yang berkelok-kelok. Sementara Hoshigiri Rin yang cemas tampak berkaca-kaca. Hampir saja menangis takut diriku tak kembali lagi. Mencengkeram pakaian petualangku erat-erat.
Suaranya serak.
"Ja... Jangan tinggalkan aku, Amuro-kun!!"
Lalu ia menangis sungguhan. Tersedu-sedu.
"Kalau Amuro-kun pergi... Hiks... Hiks... Siapa nanti yang akan menjadi pasangan Rin di masa depan?!"
Tak ada seorang pun yang mampu berkata-kata.
Dengan badai gelap yang sudah tenang, sinar permata yang mencuat di antara dinding kembali menerangi dengan indah. Kepulan debu perlahan hilang secara berkala. Langit-langit tak lagi menjatuhkan hasil retakan secara sembarangan.
Dalam kondisi yang demikian, pimpinan belasan kepala Hydra menoleh kepada para anggotanya. Menggunakan bahasa ular yang tak mampu kami pahami, mereka melangsungkan sebuah diskusi yang sengit. Tak mau mengalah antar satu kubu dengan kubu yang lain. Melakukan pemungutan suara.
Semenit berlalu, bertepatan dengan Rin yang mulai tenang, monster Hydra itu merayap lagi mendekat. Kepalanya yang hitam bersisik menunduk dengan sopan.
Sambil berdesis, ia berujar--dalam bahasa menusia,
"Mewakili saudara-saudaraku, bocah penyihir... Kami meminta maaf."
Monster Hydra membungkuk dengan cara yang agak aneh.
Tapi mereka sungguh-sungguh menyesal.
"Jika memang terlalu sulit untuk dilakukan, kami tidak akan memaksamu menuruti keegoisan kami, bocah penyihir. Kau bisa hentikan penyembuhanmu dan melupakan kontrak perjanjian di antara kita--"
Sayangnya, sebelum ia menyelesaikan ucapannya, aku lebih dulu menyela, lemah dan gontai.
"A... Apa..."
"... Apa yang terjadi?" Mulutku gagap bicara.
Pimpinan belasan kepala Hydra terdiam melihatku. Demikian pula saudara-saudarnya.
Kemudian mereka saling tatap dengan gadis berambut hitam sebahu. Menanyakan pendapat.
Namun aku cepat-cepat bangkit. Hampir saja tersandung karena keseimbangan tubuhku belum normal. Dan bahuku gemetar. Dalam sorot mata yang masih penuh trauma dan tragedi, aku menatap satu demi satu sosok yang ada disana.
Hoshigiri Rin.
Monster dua belas kepala.
Dan tentu saja...
... Sang Peniru yang masih menonton dari celah gelap gua.
Aku melotot marah kepadanya. Mengepalkan tangan.
Darahku mendidih.
"PRIA SIALAN..."
Hoshigiri Rin melangkah mundur, takut.
Monster Hydra yang biasanya tidak gentar dengan manusia juga. Merayap ke belakang.
Seruanku memantul dari satu dinding ke dinding lainnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA IRENE MIMOSA?!!!"
Seolah tak memedulikan apa yang kukatakan, lelaki berambut pirang berbalik badan lagi. Menghilang dari pandanganku. Lenyap tak bersisa.
Dari belakang, Rin yang masih memercayaiku mencoba menyentuh tanganku lembut. Khawatir. Bertanya.
"A... Ada apa, Amuro-kun?"
Suaranya bergetar.
"Apa yang baru saja kau lihat?"
Namun pertanyaan Rin sama sekali tak kuladeni.
Dengan cepat, aku menghampiri jasad gadis berpakaian biarawati yang hanya tinggal tulang sekali lagi.
Aku tahu ritual ini akan sangat menyakitkan.
Aku tahu semua luka itu akan kuulang dari awal.
Aku tahu aku akan menangis lagi, menjerit lagi.
Aku tahu itu.
Tapi, dibanding misteri besar di hadapan mata yang akhirnya mulai terkuak...
... Seluruh penderitaan itu tak seberapa.
Tanganku yang pucat menyentuh tulang rusuk jasad di depan.
Sepertinya Rin dan monster ular hitam sadar apa yang hendak kulakukan. Pupil mata mereka mengecil. Seruan mereka meletus.
"WO--WOI!!!"
"AMURO-KUN!!"
"KAU INGIN MELAKUKANNYA LAGI?!!!!"
Telingaku sudah tuli.
Kali ini kupastikan sihirku tetap aktif sampai semuanya selesai.
Aku menarik nafas dalam-dalam.
Mengalirkan energi sihir.
Memejamkan mata.
Sihir Peniru: Tiruan Sihir Cahaya Suci Modifikasi: Anugerah Jiwa!!
WHOOOSHH!
"WHOAA!!"
"AAARGHH!!"
Ledakan angin hitam tercipta lebih kuat daripada sebelumnya.
Ruangan gua yang besar bergoyang seolah ayunan raksasa yang sedang didorong.