Sebuah pepatah mengatakan bahwa tempat paling aman bagi kita adalah tempat yang justru kita sangka paling tidak aman.
Alasannya sederhana: karena dengan asas yang sama, orang-orang termasuk musuh kita tidak akan tertarik untuk memeriksanya. Sehingga kita bebas melakukan apapun disana.
Dan itulah yang dilakukan oleh penyembuh terbaik kerajaan Voltaire, Nyonya Gleen, yang semenjak setahun lalu telah berhenti dari satuan medis penyihir di bawah kekuasaan militer Voltaire. Membuka kedai sederhana di sebelah tempat tinggal yang hanya berukuran sepuluh kali sepuluh meter. Setiap hari hanya mondar-mandir membawa nampan makanan dan minuman. Tertawa renyah ketika ada pengunjung yang mengajaknya mengobrol. Menikmati masa pensiun dalam kedamaian dan ketentraman.
Seharusnya kehidupannya akan terus seperti itu hingga ia menghadap ke kuasa langit.
Namun, pada suatu malam yang acak, ketika kedai kecilnya sudah mulai sepi, lima sosok dalam kegelapan mendekat sambil agak tertatih-tatih. Nyonya Gleen yang tadinya duduk sambil memelintir kepang rambut hijaunya sontak agak terkejut dengan lambang elang keemasan yang tampil dalam jubah putih-kuning. Bergegas bangkit sambil memberi isyarat pada suaminya yang mengantuk. Menenteng rok cokelat panjang yang dibalut dalaman putih terang berenda. Menyambut tamu-tamu baru di depan. Mengangkat sudut-sudut bibir.
"Ara~ Ada apa malam-malam begini kalian berkunjung ke kedai kami, penyihir-penyihir sekalian~?"
Nada suaranya terdengar riang dan ceria. Senyumannya begitu menawan. Dan, meski sudah agak tua, sisa-sisa kecantikan yang ia miliki di masa muda terlihat dengan jelas. Membuat penyihir-penyihir yang datang tertegun beberapa saat. Mengedipkan mata.
Mereka pun berdehem sekali sambil menyingkap tudung yang dikenakan. Memperlihatkan wajah-wajah yang kelelahan. Mengernyitkan dahi.
"Nyo-Nyonya Gleen, maafkan kami! Mungkin ini memang tidak sopan... Tapi kami butuh bantuan anda sekarang!" Yang berbicara pertama adalah Fionna Vagust.
Dari fisiknya yang melemah, wanita dengan kacamata bundar itu tampak ingin pingsan karena harus membopong tubuh rekannya di giliran terakhir hingga kemari. Keringatnya bercucuran di pelipis dan dahi. Sambil dibantu Master Azaroth di sebelahnya, ia memperlihatkan Violet Omnius yang tak sadarkan diri dengan kulit berbintik-bintik hitam dan merah. Tubuhnya kaku dan dingin bagaikan mayat. Nafasnya menderu seakan baru saja berlari dari satu kota ke kota lainnya.
Nyonya Gleen, lebih lengkapnya Gleen Mimosa, mengangguk pelan. Langsung mengerti apa yang sedang terjadi. Menyipitkan mata.
"Kutukan dari '12 pedang terkutuk'." Katanya. Cepat.
"Apa aku benar?"
Kali ini yang berujar si kembar kecil berambut putih.
"Nilai seratus, Haya!"
"Nyonya Gleen hebat, Maya!"
Gleen Mimosa memberi isyarat untuk mendekat. Berujar,
"Mari masuk terlebih dahulu. Aku akan bercakap dengan suamiku."
Selesai mengatakan demikian, wanita itu mempersilahkan tamu-tamunya melangkah ke rumah di sebelah yang sangat sederhana. Perabotannya jauh berbeda dari fasilitas kerajaan yang dahulu dinikmatinya. Memiliki ukuran yang lebih sempit dari kedai yang belum tutup. Membukakan pintu yang engselnya agak macet. Menyalakan sejumlah lentera.
"Mungkin tidak sebaik penginapan di ibukota kerajaan. Tapi kuharap kalian tidak keberatan dengan tempat tinggalku sehari-hari."
Kedua mata Fionna berbinar.
"Te... Terima kasih banyak, Nyonya Gleen!!"
Sebelum Gleen Mimosa ikut masuk bersama tamu-tamunya, ia lebih dulu mendatangi suami polos yang dari tadi hanya menatapnya dalam bingung. Melangkah mendekat dengan gerak-gerik yang mengundang rasa curiga. Membicarakan duduk permasalahan yang sedang terjadi melalui bahasa senormal mungkin. Memberitahu bahwa orang-orang barusan adalah pendatang yang membutuhkan pertolongan medis darurat. Meminta izin untuk merawat mereka sebentar.
Tentu saja... Dengan sedikit bumbu-bumbu supaya ceritanya tak terdengar janggal.
Hingga lelaki polos itu menjawab.
"Tidak masalah."
Suami Nyonya Gleen tersenyum simpul.
"Jika memang bisa dibantu, lakukan saja semaumu, Gleen."
Lelaki itu bahkan tidak tahu bahwa lima orang tadi adalah tokoh-tokoh penting kerajaan.
Sepertinya, rakyat-rakyat Voltaire hanya mengenal orang-orang di pemerintahan melalui nama tanpa pernah menelusuri rupa sesungguhnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah memastikan kursi-kursi penting tetap diduduki oleh orang yang tepat. Selebihnya, hanya pelengkap yang tidak terlalu diperlukan.
Akhirnya lelaki itu Lanjut menghitung hasil penjualan kedai pada pekan ini sambil bersenandung pelan. Membiarkan istrinya lagi-lagi melakukan amal kebaikan tanpa pamrih. Tak keberatan ia menyembuhkan orang-orang tak dikenal.
Dari dulu ia sudah berjanji tidak akan terlalu mencampuri urusan istrinya sebulan sebelum pernikahan. Dan janji itu akan selalu ia pegang hingga masa tua.
Ia sendiri tidak sadar bahwa istrinya adalah penyembuh terbaik yang dimiliki oleh Voltaire. Bagi lelaki itu, Gleen Mimosa hanya wanita cantik yang riang dan selalu perhatian kepadanya. Tak lebih, tak kurang.
Dari pemikiran polos sang suami yang demikianlah, penyembuh terbaik kerajaan dapat menyembunyikan identitasnya dengan baik. Menyamar sebagai sepasang suami-istri yang biasa dan bahagia. Merajut kenangan demi kenangan di masa tua sambil membuka usaha.
Tak akan ada yang percaya bahwa kekuatan wanita tersebut justru diincar oleh berbagai pihak jahat. Ingin sekali memanfaatkannya demi kepentingan material yang fana. Berkeliling kerajaan Voltaire hanya untuk mencarinya.
Dan kini wanita itu membuka pintu rumahnya kembali untuk menghampiri para tamu. Memberi isyarat 'Ok' melalui telunjuk dan ibu jari yang disatukan. Melepas celemek cokelat untuk kemudian merenggangkan kedua tangannya.
Lalu ia duduk di salah satu sofa yang kosong. Membuka pembicaraan.
"Jadi."
Senyumnya melebar.
Ekspresinya berubah.
"Bukankah sudah kubilang jangan pernah menggunakan kekuatan terlarang itu, anak-anak bodoh?"
Keempat penyihir alumni akademi Omnius bergidik. Keringat dingin langsung mengalir di pelipis mereka. Wajah mereka pucat.
Atmosfer ruangan berubah tegang.
Di tengah keheningan yang tidak mengenakan, wakil kepala akademi menundukkan kepalanya, berkata pelan.
"Ma... Maafkan kami, Mimosa-sensei. Ke... Keadaan di ibukota tadi sangat buruk--"
"Aku tidak peduli." Sela Nyonya Gleen. Masih tersenyum.
"Sekarang teman kalian akan mati sebentar lagi. Menyesalah."
Jenderal besar Voltaire izin berbicara. Menelan ludah.
"A... Apakah tidak ada cara untuk menyembuhkannya, Nyonya Gleen? Kami akan bawakan segala kebutuhan dan perlengkapan untuk anda selama Violet bisa dipulihkan."
Gleen Mimosa menyilangkan lengan di depan.
"Ti-dak-a-da."
Satu kakinya terangkat untuk menindih yang lain.
"Itulah akibatnya jika tidak mau mendengarkan guru menerangkan di kelas, anak-anak nakal sekalian~"
Fionna agak keberatan dengan hal itu.
"Ta--Tapi, sensei! Fionna selalu hadir di kelas sensei dan tidak pernah membolos!"