Sang Peniru Part 2: Dua Jiwa Elemental

Ariaria
Chapter #95

Jiwa Yang Terpanggil

"Apa yang kau lakukan disini, anak kecil?"

Suara itu begitu indah sehingga kusangka ia adalah nyanyian. Wangi semerbak yang menyebar begitu harum layaknya bunga-bunga di taman. Sensasi hangat menenangkan mengalir dari salah satu titik tubuh ke titik lainnya. Stamina, luka, dan energi yang habis dipulihkan kembali. 

Merasakan semua itu, aku jadi terbangun. 

Aku tersedak beberapa kali dalam gumpalan darah merah. Mengerjap-ngerjapkan mata dengan kepala masih pusing. Berusaha kupijat. Beberapa saat kemudian, kulihat Hoshigiri Rin yang tadinya tertusuk bongkahan batu ternyata sudah sembuh, sedang memangkuku. Memeluk tubuhku erat-erat dalam tangisan. Sementara monster Hydra di belakangnya tertegun. Mendapati sesosok wanita dengan bayangan pudar mengambang di depan wajahku. Tersenyum penuh arti. Melambaikan tangannya.

Tak perlu diberitahu aku tahu siapa gerangan wanita ini.

Dengan paras yang begitu jelita, rambut hijau tergerai hingga punggung berkibar diterpa angin, pakaian biarawati yang berlengan panjang dan tertutup...

... Tidak salah lagi.

Dia adalah Irene Mimosa yang telah meninggal bertahun-tahun silam.

Dan aku...

... Berhasil memanggil jiwanya kemari dengan sisa-sisa sihirku.

TAP

Mendarat melalui ujung sepatu datar yang berwarna hitam, gadis berseragam hitam-putih menyembunyikan kedua lengannya di bawah punggung. Duduk di sebelahku setelah merapikan roknya yang berat. Membuka mulut.

"Kau ini... Pemilik kekuatan peniru sekarang, ya~?"

Suaranya memantul di dinding-dinding gua.

"Hebat~!"

Sebenarnya aku belum terlalu siap untuk diajak berbincang setelah berbagai hal yang menimpaku sejak beberapa saat lalu. Akan tetapi, mengetahui bahwa wanita ini adalah salah satu pahlawan zaman lalu yang terhomat, aku lekas-lekas bangkit dari posisi tidur di paha Rin yang hangat. Menyeka sedikit darah kotor yang berada di sudut-sudut bibir. Lalu aku memandang wanita itu dengan lebih baik. 

Menggeleng.

"Atas segala hormat, Nona Irene. Sebagai pemilik salah satu kekuatan legendaris saya masih terlalu lemah. Maafkan saya karena telah memanggil jiwa anda kemari. Jika anda ingin menghukum saya, silahkan lakukan--"

GYUT

Tanpa basa-basi, Irene Mimosa yang memang jahil langsung menarik pipiku keras-keras. Tertawa lebar.

Gadis berambut hitam sebahu tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya sehingga ia hanya diam. Terpaku.

Irene Mimosa cekikikan.

"Nah, anak nakal sudah dihukum dengan baik~! Sekarang kau bebas!"

Nada bicaranya sungguh kekanak-kanakan sampai aku jadi teringat dengan Yui Chiharu, sahabatku dulu di desa yang kusayangi. 

Ia melepas cubitannya lalu beralih kepada monster Hydra di belakang. Menyapa.

"Selamat malam, monster ular kepala banyak~! kalian masih sehat-sehat~?! Sudah lewat beberapa tahun kalian tak begitu berubah, ya? Enaknya menjadi monster~ Bisa selalu awet muda~!!"

Dua belas kepala Hydra akhirnya tak mampu menahan diri. Terisak dengan leher-leher bersisik gemetar. Menangis pilu.

"No... Nona Irene...!"

Kemudian Irene Mimosa menoleh kembali kepadaku. Bertanya melalui nadanya yang tinggi.

"Ngomong-ngomong, bocah... Aku belum mengetahui namamu. Boleh berkenalan~?"

Aku menelan ludah. Mengangguk.

"Ti... Tidak masalah."

Tanganku terulur.

"Takagi Amuro."

Lalu menunjuk gadis berambut hitam sebahu.

"Ini adalah rekanku, putri tunggal dari dojo Hoshigiri sekarang, Hoshigiri Rin."

BRUK

Belum sempat menjabat tanganku yang masih terangkat, wanita berambut hijau langsung melesat menubruk Rin yang gelagapan melihat sebuah arwah pudar mendekat kepadanya. Mendekapnya layaknya boneka empuk di kamar tidur. Lalu ia mengecup pipi gadis pemalu itu berkali-kali. Berseru.

"Pantas saja wajahnya terlihat sangat imut sejak aku datang kemari! Wanita-wanita Hoshigiri memang sangat mempesona dari waktu ke waktu! Aku jadi ingin menikahi mereka~!"

Rin merasakan wajahnya sangat panas.

"Pe--Permisi?!!" 

Aku bingung ingin melakukan apa. 

Berseru,

"I--Irene-sama?!!"

Irene Mimosa melambaikan tangan.

Lihat selengkapnya