"Ja... Jadi... Bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini, semuanya?"
Hoshigiri Rin tidak bisa menahan diri ketika suasana gua yang sunyi berlangsung terus-menerus dalam tangisan monster Hydra. Meski berusaha menyembunyikan, gadis itu merasakan kelaparan karena sejak siang tadi belum makan. Sementara berdasarkan perkiraan cepat yang kujalankan dalam benak, seharusnya sekarang sudah malam. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat orang-orang dalam dojo pasti merasa khawatir. Bingung dimana kira-kira kami berdua berada. Mencari sambil memanggil-manggil.
Aku menghela nafas pelan saat bahuku perlahan merosot. Menggeleng pelan. Juga kehabisan akal.
"Ma... Maafkan aku, Rin-chan. Tapi, aku belum mendapatkan solusinya."
"Ah... Begitu, ya?"
Sebenarnya bisa saja aku menerobos paksa seperti tadi dengan meriam api raksasa yang ditumpuk-tumpuk hingga beberapa tingkat. Akan tetapi, kali ini kemungkinan berhasilnya jauh lebih sedikit karena kami harus menghadap ke atas. Alih-alih berhasil keluar menyelamatkan diri, kami akan lebih dahulu dihantam bongkahan tajam yang meluncur dalam kecepatan tinggi. Tubuh kami ditembus dengan darah termuncrat. Lalu kami terkubur dalam kegelapan. Menyusul Nona Irene dalam artian sesungguhnya.
Monster Hydra yang masih sedih juga tak tertarik berbicara dengan kami. Kalaupun mau, aku juga tidak yakin mereka tahu jalan keluar dari gua yang bercabang-cabang layaknya labirin. Jika coba asal masuk ke celah-celah juga terlalu berbahaya. Bukannya jalan keluar yang kami temui, nantinya kami malah berpas-pasan dengan ular-ular lain yang tidak ramah.
Akhirnya kami terbengong tanpa arah di tengah ruangan gua yang cerah dengan permata.
Duduk di bagian tengah gundukan yang menjulang bagai bukit.
Terdiam dengan perut kelaparan.
Seandainya saja Mei Ling berada di sini bersama kami...
"Apakah kau sudah selesai berbicara dengan wanita itu, bocah bodoh?"
Tiada angin, tiada ombak, saat aku mengangkat pandangan ke langit, tiba-tiba Sang Peniru telah mengambang disana sambil membetulkan kerah jubahnya. Melempar tatapan dalam keadaan tubuh yang terbalik. Sementara kaki-kakinya menancap di langit gua yang licin seolah mengenakan perekat. Berkata lantang.
Darahku mendidih demi melihat sosok itu kembali muncul kemari. Buru-buru bangkit dengan kedua bahu gemetar. Sementara rahangku menggeretak. Ingin sekali meninju wajah arogan yang selalu seenaknya sendiri itu. Memberinya pelajaran.
"Kenapa?" Aku bertanya. Kesal.
Rin yang berada di dekatku mengedip-ngedipkan mata bingung.
"Kenapa kau masih ada disini..."
"... Ov Vanguard?!"
Aku akhirnya menyebut nama itu.
Akibat mendengarnya, gadis yang tadi masih cukup tenang langsung bangkit dalam keadaan merinding. Wajahnya yang pucat berusaha mengikuti arah dimana gerangan aku sedang memandang. Melepaskan pandangan ke seluruh sudut gua yang gelap dan lembab. Cepat-cepat memeluk lenganku. Berlindung.
"A... Amuro-kun?" Ia bertanya, takut.
"Siapa yang sedang kau ajak bicara? Jangan buat aku takut, dong!"
Pangeran Ov yang menatap melalui sepasang bola mata biru memicing. Ia memalingkan mukanya pelan. Melenting gesit di langit. Mendarat di sebelahku.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan apalagi bertengkar, Amuro-kun."
Ia memberi isyarat supaya aku mengikutinya.
"Kita harus segera keluar dari sini atau orang itu akan memorak-porandakan dojo gadis itu. Kau tidak ingin melihat ia kehilangan ayah dan teman-temannya, bukan?"
Aku tersentak.
"Do... Dojo dari Rin-chan?!"
"Apa yang kau pikirkan?!"
Hoshigiri Rin dan monster Hydra termanggu. Dalam diam, mereka berusaha menerka apa yang sedang kulakukan dengan melakukan pembicaraan sendiri. Menelan ludah.
"Hiks... Hiks... Bo... Bocah itu... Sedang apa?" Salah satu kepala ular hitam bertanya, berbisik pada rekan lainnya.
Gadis berambut hitam sebahu merespon.
"Se... Sepertinya dia sedang berbicara dengan hantu."
Langkah sepatu Pangeran Ov terdengar menjauh dari ruang besar gua yang cerah dengan batu-batu mulia yang biru. Tanpa memedulikan reaksiku, ia pergi begitu saja ke dalam suatu lorong gelap. Tidak tertarik untuk menoleh.
Tapi ia tiba-tiba berhenti.
Tampak diam merenungkan sesuatu. Lalu berbalik. Mengangkat telunjuknya.
"Hanya saja, sebelum itu..."
Aku bergidik ngeri saat melihat kemana telunjuk itu berhenti mengarah. Berkeringat dingin.
"... Aku ingin kau membangkitkan Irene sebagai sekutumu, Amuro-kun."
Ketika kalimat itu dilontarkan, aku sama sekali tidak ingin memercayainya. Mengerutkan alis sambil menatap tajam-tajam pangeran tampan di depan. Ingin sekali memprotes.
Sayangnya pria gagah itu tak berniat mendengar komentarku.
"Benar." Lanjutnya.
"Melalui sihir boneka bayangan Kageha Enma..."
"... Aku ingin kau membangkitkan Irene Mimosa sebagai pasukan bayangan yang baru. Sekarang juga."
"APAKAH KAU SUDAH GILA?!!"