Salah satu pelatihan yang selalu ditekuni oleh para pendekar sejati Hoshigiri adalah meditasi. Dengan memfokuskan diri dalam keheningan, para pencari kebenaran itu akan mampu meningkatkan konsentrasi mereka secara drastis saat bertempur. Tak dapat digoyahkan oleh tekanan emosional yang bersifat sementara. Lebih tahan terhadap rasa perih yang terkadang bersemayam akibat pertempuran.
Dan, yang terpenting, mereka jadi lebih kebal terhadap sihir-sihir berjenis pengendali.
Dengan cara seperti itulah, Chika Aoi dahulu gagal dikendalikan ketika sekelompok penyusup berusaha menyerangnya. Merasakan geli sejenak. Lalu mengambil alih kembali kendali tubuhnya.
Dalam malam yang dingin, Hoshigiri Kanata sedang khusyuk melakukan pelatihan tersebut. Ia duduk tenang mengatur nafasnya di teras yang menghadap langsung ke lapangan pelatihan. Memantau sendiri ratusan murid yang masih berlatih dalam barisan rapi dan kuda-kuda. Hingga tiba-tiba ia membuka mata. Bangkit dengan tatapan yang aneh. Melangkah masuk ke kediaman.
Ratusan murid jadi terdiam heran. Saling pandang.
Tak biasanya guru mereka masuk ke rumah di tengah-tengah pengajaran beladiri. Beberapa dari mereka mencoba menyusul. Namun, baru saja melangkah sekali dua kali, sosok pria gagah itu lebih dulu keluar. Memandangi mereka lamat-lamat.
Tak ada yang berubah dari penampilan sosok Hoshigiri Kanata. Meski cuaca sedang dingin dan badai lagi mengamuk, lelaki tersebut hanya mengenakan seragam dojo berwarna putih yang dibalut jaket Hanten cokelat yang tidak begitu tebal.
Jika ingin menyebut adanya suatu perubahan, mungkin perubahan itu hanya satu: pedangnya.
Kali ini, guru besar beladiri Hoshigiri membawa pedang yang asli. Bersarung bambu yang didesain secara khusus. Memiliki aura wibawa dari para pimpinan Hoshigiri dari masa ke masa. Pedang yang disebut-sebut sebagai pemotong segala material semesta.
Zendanki.
Meski hanya berupa replika yang memiliki umur sekitar seratus tahunan lebih, salah satu tiruan pedang suci yang berada di wilayah kerajaan Ragnar itu menyimpan kekuatan yang nyaris persis dengan asalnya. Memiliki ketajaman tak masuk akal yang ditempa oleh para pencipta pedang terbaik di zaman lampau. Dibuat melalui campuran logam misterius yang diyakini lebih kokoh daripada berlian ataupun titanium. Tak pernah terkikis. Tak pernah berkarat.
Jika salah seorang pimpinan Hoshigiri terlihat keluar dengan membawa pedang berbentuk Katana panjang tersebut. Maka kemungkiannya hanya satu.
Pertempuran mematikan yang pasti melibatkan nyawa.
"Se... Sensei!!" Merasa suatu hal buruk akan terjadi, salah seorang murid keluar dari barisannya. Berusaha mengejar Tuan Kanata yang pergi menjauh dalam diam. Merusak barisan pelatihan.
Demi melihatnya, murid-murid lain pun melakukan hal serupa. Membubarkan kuda-kuda yang sedang mereka asah pada malam ini. Menciptakan barisan baru yang mengelilingi pimpinan dojo dalam lingkaran sesak. Menatapnya dalam ekspresi cemas dan khawatir. Ingin bertanya lebih jauh apa yang sedang terjadi.
Akhirnya Hoshigiri Kanata bersuara.
"Apa yang kalian lakukan?"
Agak serak.
"Seingatku, aku belum menyuruh kalian untuk berhenti berlatih."
"Ka--Kanata-sensei!!" Murid-muridnya memanggil.
"Kanata-sensei... Hendak pergi bertarung?!"
Pertanyaan itu melenggang dalam keheningan lapangan pelatihan utama Hoshigiri yang ramai. Dengan cepat memudar di antara hawa dingin yang menusuk kulit-kulit. Bergetar di bawah terpaan salju.
Tuan Kanata sebenarnya agak kesal dirinya harus ditanyai demikian oleh murid-muridnya sendiri. Seingat pria tersebut, dahulu ketika berlatih ia dan murid-murid seangkatannya tidak ada yang seberani ini dengan gurunya. Lebih banyak diam. Tidak banyak berkomentar.
Tapi ia tak begitu ambil pusing. Menghela nafas sejenak sambil memandangi langit tanpa bintang. Tersenyum simpul.
"Benar." Ia menyahut singkat.
Kembali berjalan.
"Sensei memang ingin menyelesaikan sebuah masalah."
Para murid menyingkir untuk memberi beliau akses.
"Jika sensei tidak kembali dalam jangka waktu satu jam... Kalian segera mengungsi ke kota terdekat bersama warga yang berada di bawah. Paham?"
Bahu murid-murid gemetar ketakutan. Wajah mereka pucat.
"Ti... Tidak mungkin..."
"Me... Memangnya siapa yang akan sensei lawan?!"
Hoshigiri Kanata tidak berniat meladeni murid-muridnya lagi. Langsung meninggalkan mereka di belakang dengan terpaku di tempat masing-masing.
Dengan insting dan indera pendengarannya yang lebih tajam daripada kelelawar, ia tahu bahaya yang ia wanti-wanti dari kemarin sudah sangat dekat.
Lelaki itu harus bergegas. Harus secepatnya pergi dari sini.
Pimpinan dojo yang dikagumi banyak pihak ingin memastikan bahaw pertempuran tidak terjadi di area padat penduduk yang berbahaya. Memberikan kesempatan bagi para murid dan warga yang tinggal untuk berlari sejauh mungkin. Sementara pria tersebut akan mengulur waktu sebanyak-banyaknya. Mencoba melawan sosok yang mungkin berkali-kali lipat lebih kuat.
Sambil terkekeh pelan dan mengusap wajah, Hoshigiri Kanata mengeraskan rahang yang sudah agak tua. Berkata penuh percaya diri.
"Baiklah, baiklah..."
Kedua tangannya siap melepas bilah pedang yang tersampir di pinggang kiri.
"... Waktunya menyambut tamu penting!"
***
Beberapa tahun lalu di perguruan Hoshigiri.
Sehari sebelum pembantaian dimulai.
Hoshigiri Kanata sebenarnya sudah merasakan ada sesuatu yang janggal ketika melihat sebuah surat tiba-tiba mendarat di jendela kamarnya saat siang menjelang.
Dalam surat itu, tertulis jelas bahwa kerajaan sedang membutuhkan bantuannya untuk memadamkan pemberontakan sejumlah anggota sembilan naga merah yang tidak puas dengan kepemimpinan raja di Tenkakuden. Menyebutkan bahwa kelompok pemberontak baru itu telah merebut beberapa titik di ibukota dengan mobilisasi sipil yang merepotkan. Dan dengan bantuan pihak-pihak kerajaan lain yang ikut campur tangan, mereka mengalahkan banyak sekali penjaga dan penyihir istana yang terlatih. Menyandera beberapa tokoh penting kerajaan. Memenuhi jalanan Kurogane dengan teror dan penjarahan.
Keadaannya memang sedikit rumit dan kacau untuk saat ini.
Pasukan militer komando jenderal Rhize Mikado masih berada di luar untuk melanjutkan ekspansi di daerah yang sangat jauh. Prajurit biru keluarga Aoi juga sedang menjaga pertambangan kerajaan yang tempo hari diserang oleh sekelompok besar bandit bersenjata. Sementara di ibukota hanya ada sisa-sisa pasukan yang jumlahnya sangat tidak sebanding.
Intinya, raja saat itu--sebelum Sanz Ragnar berkuasa--sangat memohon bantuannya untuk datang melindungi dirinya. Berjanji akan memberikan imbalan besar jika mau ke sana.
Tuan Kanata menepuk jidatnya pelan saat surat itu selesai dibaca. Mengeluh.
"Astaga, astaga..."
Ia menghela nafas berat.
"Entah siapapun raja yang sedang berkuasa, sifatnya pasti selalu pengecut dan takut mati, ya? Jika keluarga besar Ragnar semakin lemah begini, hanya menunggu waktu musuh kerajaan akan mampu mengambil alih..."
Menggulung surat permohonan hingga rapi kembali. Memasukannya ke dalam mantel pakaian.
Hoshigiri Kanata menatap langit yang cerah berawan di luar. Mengerjap-ngerjap.
"Yah, tapi karena urusannya langsung berkaitan dengan keamanan di ibukota... Mau bagaimana lagi... Aku harus pergi mengamankan orang-orang di sana."
Memanggil salah satu muridnya yang melintas di koridor depan kamarnya. Meminta,
"Tolong ambilkan kertas dan pena milikku yang tadi malam kutinggal di ruang tengah. Aku ingin memberikan surat balasan secepatnya ke wilayah selatan dan berangkat sore ini juga. Cepat!"